Nikah (pake) Muda Satu, Pak!

Jujur aja, pengen nikah ya he? ayolah jangan malu-malu. Mungkin jawabannya bervariasi. Mau tapi nunggu dulu sukses, nunggu dulu lulus kuliah, nuggu dulu kakak saya,  dan banyak lagi. Udah nikah?syukur deh kalau udah

Itu sih pilihan, dan sobat-sobat yang tahu alasannya sendiri. Tapi untuk saya  pribadi, mengambil keputusan nikah itu tertulis begitu saja di dalam target. Di usia yang sangat muda,  21 tahun saya  sudah menikah. Tanpa paksaan, tanpa  apapun pokoknya sudah bulat waktu itu pengen nikah. Karena biasanya nikah muda identik dengan married by accident (MBA). Naudzubillahimindzalik. tapi beneran lho, nggak hanya sekali pernyataan MBA terlontar pada saya ketika orang yang  duduk bersebelahan di Bis kota

“ke mana, De?” Tanya seorang Bapak

“ke Bogor,Pak”

“ Bogor, nya di mana?’

“Sentul, Pak”

“ Main?”

“Enggak , mengunjungi istri”

“Istri?” Dia mengernyitkan kening “ udah  nikah ya?” lanjutnya

“sudah. Kenapa gitu, pak”

“enggak, kirain masih sekolah. Masih kelihatan muda “

Emang gua baby face. Batinku dalam hati

Gambar Koleksi Pribadi

Gambar Koleksi Pribadi

Ceritanya Istri saya kuliah di Bogor,  hal itu memang sempat jadi pertimbangan apakah saya yakin dengan keputusan itu. Bukankah setelah menikah itu hidup bersama dalam rumah tangga agar terjalin komunikasi yang baik.  Sempat saya berpikir istri untuk kuliah di bandung, tapi amat disayangkan karena sudah satu tahun menjalani masa perkuliahan dan istripun sudah cocok dengan perkuliahannya. Saya tidak bisa memaksa, akhirnya saya bertawakal dan siap menjalani apapun.

Untuk bab munakahat (pernikahan) memang sudah saya  target. Waktu itu saya targetkan semester 6 saya udah nikah. Alhamdulilah diakhir semester 6 ternyata allah mengabulkan do’a saya.  Pernikahan bukanlah jalan akhir dari sebuah keputusan, justru permulaan mencapai kehidupan itu –sejauh yang saya alami- dari pernikahan.

Alhamdulilah Ketika mengajukan permintaan tersebut orang tua mengijinkan. Walaupun beberapa tanggapan dari beberapa saudara “ah, pentil keneh”  tapi tekad saya sudah bulat untuk menikah. Karena saya yakin berada dijalan yang benar.

Intinya saya meyakinkan diri bahwa “Jangan takut,”. Karena  Masalah rizki udah ada Allah yang ngatur. Asalkan jangan main-main aja. Serius. Kalau setengah-setengah segera mantapkan hati ke allah.  Saya juga pernah mengalami beberapa kehawatiran dan ketakutan. Tapi kalau niatnya bener pengen ibadah, insya Allah mudah.

Saya pernah diingatkan oleh sahabat saya yang sudah nikah duluan di usia muda, beliau bilang bahwa menikah kalau niatnya buat  HANYA sekadar seks maka akan dipastikan  cepet bosan. Tapi kalau buat  ibadah segalanya akan berbuah indah.

Janji Allah dan Rosul itu enggak pernah  ingkar, sob. “Dan nikahilah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Terus berdoa dan meminta kebaikan untuk dimudahkan segala urusan kepada Allah secara kontinyu, jangan terputus. Bila ingin mendapatkan pasangan yang baik dan berkualitas tinggal baguskan dulu kualitas kita sendiri. sebagaimana firman Allah dalam surat AnNur:26: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…”.

so, itu tergantung sobat-sobat. Tapi kalau saya, buat apa ditunda kalau sekarang bisa.

Sulit Mencari Jodoh

saya enggak bisa memberikan tips bagaimana supaya mudah mendapat jodoh. tapi setidaknya kita mengenal hadis Rosululloh bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466

empat kriteria yang ada dalam hadis tersebut  bukan berarti semuanya harus and  kudu dicari dan dikumpulkan. Mana aja yang ada, tapi sebaiknya agama yang utama.

Hal penting bagi kita tiada lain hanya terus mendekatkan diri pada Allah. Karena Dia maha yang memberi segalanya. Jodoh kita milik Allah, maka kepada siapa lagi kita meminta.  Ustadz yusuf Mansur pernah bilang jika kita punya keinginan benerin dulu dari solat. Dengan kata lain, apakah sudah rutin solat wajib dengan  berjamaah, dhuha, tahajud dan solat sunnah lainnya. Enggak percaya,, cobain deh. rasakan perubahan dan kemudahannya dari hari ke hari. Dan jangan lupa banyakin sodakoh. Cobain deh pokoknya.

Semoga bermanfaat!

***

“Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenang kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS : Ar Rum [30] :21).

 

Terimakasih Abah*)

Singapore Changi Airport, Menuju National Library Board.

Mulutku lebih rapat dari yang kuperkirakan, aku tahu akan menjadi hal bodoh karena hanya menambah beban pikiran Abah.  Tapi, aku coba berbicara padanya barangkali untuk sekali saja Abah punya sisa uang hasil jualannya. Setidaknya Abah mau memaksakan mencari atau meminjamkan  untukku.

“Bah…” Aku menyimpan tas gendongku setelah mengucapkan salam. Seragam Putih-Merah masih kukenankan. Irama ketok-ketok beradu dari palu, paku dan pintu gubuk kami yang ditambal Abah. Sesekali kuusap peluh sebutir jagung di keningku.  Untuk masalah ini degup jantung lebih kencang tenimbang  aku mematahkan alat pancing Abah. Ketika itu ada seekor tikus yang masuk ke dalam rumah, aku mencari benda yang terdekat denganku untuk  memukul seekor binatang yang selalu mencuri jatah makananku. Dengan penuh dendam aku memburunya. Sialnya, aku taksadar bahwa benda patah yang aku pegang adalah alat pancing yang selalu digunakan untuk mata pencaharian kami. Dan yang membuatku makin masygul adalah tikus itu berhasil kabur.  Abah hanya diam ketika mengetahui hal itu, tapi aku tahu kalau dia sedang marah.

“Bah, besok ada karyawisata ke museum kota”.  Katakku sambil menunduk malu serta iba .

Abah tertahan sejenak ketika aku selesai berbicara. Palu dan paku masih dipegangnya. Taklama setelah itu dengan tenang dia meletakan perkakasnya. Dia duduk disampingku dan memberikan air teh di cangkir yang terbuat dari batok kelapa.

“Kau ingin ikut, Nak?” Tanyanya setelah aku meneguk air. Aku mengangguk dengan sedikit GEER yang mendera. Pasalnya takbiasa Abah menannyaiku seperti itu.

Aku melirik Abah yang  menatap kosong ke depan. Berharap beberapa kalimat yang akan membuatku senang keluar dari mulut Abah.

Sing sabar, tapi dina hiji poe…” katanya dengan tenang “Mun hidep boga pangabisa, mangka hidep bakal bisa nyaba kamana-mana. Bersabarlah,suatu hari, jika kaupunya kemampuan (ilmu bermanfaat) maka kaubisa pergi ke mana pun.” Abah menatapku

Aku diam sejenak. Betulkan, aku hanya membuatnya menambah beban. Takbisa dipungkiri ada kecewa yang aku rasakan. Untuk kesekian kalinya aku harus menelan pil pahit ketidakikutsertaanku berkayawisata.

“Percayalah, Nak” lanjutnya sembari mengusap rambut. “Aku yakin kau akan menjadi manusia yang dibutuhkan setiap orang karena orang membutuhkanmu, karena ilmumu, karena sikapmu” Ia memelukku dengan lembut. Mencium kepalaku tepat di atas ubun-ubun. Ada sesuatu merambat hebat ke dalam hati dan berbulir air mata pun mengalir. Seketika itu kekecewaan yang aku rasakan tiba-tiba terhapus ketika airmata itu dihapus Abah.

“Satu lagi, Nak…” lelaki paru baya itu tersenyum “Tong hirup ciga kurupuk, tarik kadanguna, saeutik gizina. Jangan hidup seperti kerupuk, keras bunyi sedikit gizi” Entahlah, belum sempat kuserap makna kata terakhir itu. Pelukan itu terlalu berharga untuk dilepaskan

***

                “Sorry, Sir” kata supir yang salah satu panitia penjemput mengagetkanku.

“oya, gimana?” tanyaku sambil meminta maaf.

“Anda melamun , ya, Sir.” Supir itu tersenyum, “kita sudah sampai”

“oke Terimakasih, Ya.”

“sama-sama”  balasnya dengan ramah.

Beberapa panitia penyelenggara acara sudah ada diluar dan menyambutku dengan hangat. Kesekian kalinya aku mengisi seminar motivasi. Dan kali ini, ribuan peserta hadir di seminar internationalku. Terimakasih ya Allah. Terimakasih Abah.

 

*)Terinspirasi dari status Tatan Ahmad Santana di sini

 

Maaf Tuhan, aku sembuhkan luka

September, 2012

Embun dan kelu…

“Apa yang sedang kaupikirkan,Sayang?” suara laki-laki mendesis ke telingaku. Aku terkesiap. Sejurus  aku terus mengawasi embun yang menjalari dedaunan di balik jendela. Terasa bibirnya mencium rambut. Aroma minuman hangat menelisik hidung.  Pandanganku beralih padanya.  Dia mendekatkan secangkir  Cappucino padaku. Aku menyeruputnya dengan perlahan .

“Cukup nikmat untuk mengawali pagi ini” ujarnya. Aku mengangkat bahu.

“Apa yang sedang kaupikirkan?”  tanyanya sekali lagi. Aku menelan ludah. “kau masih memikirkan lelaki keji itu?” Nafasnya sedikit terengah sedang memburu jawabanku. Wajahnya terlihat kecut.

“Sudahlah, aku tak ingin membicarakan hal itu lagi! Aku di sini mencoba menyembuhkan lukaku,” jawabku getir “Setidaknya untuk sementara waktu”

“Baiklah, aku berangkat kerja dulu. Tinggalah di sini sampai kapan pun kaumau. Besok aku libur. Aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat.” Dia membelai rambutku dan menyelipkan beberapa helai rambut di belakang  telinga. “Hanya laki-laki buta  yang membuatmu terluka, Tirai!” Tangannya mengusap lembut pipiku.

Dia berlalu dengan gerung motor sportnya. Rasa ngilu pipiku berubah menjadi beberapa gambar luka kehidupan rumah tangga yang tak jelas bagaimana ujungnya. Ah, Senin Pagi yang menjemukan.

~~~

Desember, 2008

“Kalian sekarang sudah lulus pesantren. Tak baik bagi kalian bersama-sama tanpa ada ikatan apapun” ujar seorang pria tua. Lengannya memegang tongkat yang terbuat dari rotan.

“Apalagi kalau pria suka menginap di rumah perempuan yang bukan muhrimnya. Bisa menimbulkan fitnah!” jelas seorang perempuan di sebelah lelaki tadi. Aku dan Rasyan bersitatap. Sudah bisa kutebak ke mana arah pembicaraan mereka.

“Tirai… Nenek dan kakek sudah berpesan pada Ibumu agar kalian segera dinikahkan. Ibumu setuju. Dan kau Rasyan, segeralah mengajukan lamaranmu kepada Tirai.

Degh. aku menelan ludah. Menikah? siapa yang tak ingin menikah. Menikah  usia 18 tahun ini, masih banyak yang ingin aku raih. Apalagi Rasyan masih 19 tahun. Kematangan serta kedewasaan belum selebat janggutnya. Aku juga masih ingin meneruskan kuliah, masih ingin mengembangkan karir, ingin….

“Ya, Kek. Saya pun berpikir begitu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini saya bisa segera mengajukan lamaran pada Tirai” laki-laki berambut ikal itu mengaminkan seraya tersenyum getir.

Terlampau banyak mengundang persepsi negatif sejak pertama aku menjalin hubungan dengan  Rasyan. Dari semasa Madrasah Aliyah (setingkat SMA), yang belum genap satu bulan aku lulus, sering jadi bulan-bulanan para ustadz pesantren. Aku dan Rasyan memang dianggap melanggar aturan pesantren yang tak membolehkan pacaran. Tapi Aku bukan mau mencari sensasi, aku tak bisa membohongi perasaan. Aku juga ingin seperti pasangan pada umumnya, jalan-jalan, malam minggu nonton dan…versi anak muda lah pokoknya.

Menikah? gambaran pernikahan perceraian orang tuaku masih menggelayut sampai saat ini. Ah, Entahlah, aku benci hal jelek dalam rumah tangga.

Januari, 2009

            Aku akui ingin menikah. memang tak mudah untuk menerima keputusan itu, bagiku.  Namun, keraguan itu sedikit demi sedikit menguap setelah dijejali semacam penguatan dari sanak saudara.

Ya,  Bulan ini  aku menikah. Resepsi pernikahan yang sederhana.  Beberapa hiburan musik dan menu untuk 3000 undangan turut menyederhanakan resepsi ini. Padahal aku sudah berpesan ke pada orang tuaku dan calon mertua untuk tidak menggelar resepsi pernikahan. “Resepsi ini kan satu kali untuk selamanya. Apalagi kalian anak pertama dan anak satu-satunya” kata mereka. Aku membatu.

Juli 2009

Enam bulan masa mengarungi kebahagiaan dengan Rasyan masih penuh dengan kasih sayang. Namun, badai bisa kapan saja menghadang  bahtera rumah tangga, tepat enam bulan setengah ada yang berbeda dengan dirinya. Entah sadar atau tidak akan posisinya sekarang adalah seorang suami yang wajib menafkahi keluarganya. Sengaja di awal aku tidak mengungkapkannya karena aku pikir dia akan tahu tugas apa yang harus diemban seorang suami. Tapi akhirnya harus kukatakan bahwa uang “kas” sudah mulai menipis

“Apakah tidak lebih baik jika kau mencari pekerjaan?”

“Besok aku coba bilang ke Papa. Mungkin ada lowongan jadi pengajar di sekolahnya,” ucapnya tenang, sementara mulutnya membulatkankan asap rokok.

Baru besok, kenapa tidak dari semenjak enam bulan lalu.

~~~

Aku bersyukur Rasyan mengajar. Takmasalah mendapat  seratus ribu perbulan walaupun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun Aku takrela jika uang itu di pakainya membeli rokok.  Terlebih dia tak pernah bertanya atau memperhatikan kebutuhan pokok.  Untungnya sedikit pun dia tidak  tahu ibuku memberikan uang saku setiap bulannya.

“Aku akan berjualan di depan sekolah Papa” Ujarku pada Rasyan

Dia mengkerutkan kening, “Berjualan apa?”

“Makanan ringan anak-anak lah”

Hanya mengangguk. Dia tak berkomentar banyak. Setiap harinya semakin akrab dengan asap rokok.  Akan luar biasa marah jika  Aku berani melarangnya.

~~~

            “Tirai…! Ada uang nggak?”aku kaget baru saja membereskan daganganku. Dia membuka kotak uang hasil jualanku “Aku ingin rokok!”

Aku lantas memberikan uang tiga puluh ribu. Alih-alih membantuku membereskan dagangan ini, dengan cepat ia melajukan motornya. Rasyan sudah tidak mengajar  lagi selepas aku berjualan di depan sekolah SD kencana. “Tidak bisa mengatur kelas” katanya. Aku hanya bisa menghela nafas. Memberi masukan sebagus apapun padanya tak akan berarti.

Januari, 2011

Bisa disebut inilah yang spesial ulang tahun usia pernikahanku. Sayangnya, bukan sesuatu yang membuatku bahagia melainkan murka yang melanda. Dia buka Rasyan yang dulu kukenal. Selama berbulan bulan aku mencoba bersabar dengan segala kepahitan yang ada. Samudera cinta yang dulu dia ungkapkan kini sudah mengering. Bukan saja tak peduli dengan Istri. Dia mulai berani keras terhadapku.  Apalagi sejak dikuliahkan oleh mertuaku, semakin membatin rasanya hidup ini.

Sekarang aku tidak berjualan lagi. Aku kerja di sebuah pabrik tekstil. Itu pun atas dasar permintaan mertuaku yang serta merta senang saat aku menyetujuinya.  Kadang aku merasa adil tak berpihak, dia kuliah sedangkan aku kerja. Biarlah semoga kuliahnya membuahkan hasil untuk masa depan. Aku segera  menepis.

~~~

             Kerja di pabrik tekstil dengan waktu 12 jam memang menguras waktu dan tenaga. Berharap akan ada perubahan setelah Rasyan menyelesaikan kuliahnya. Itu pula hal yang tak menyurutkan rasa cintaku pada Rasyan. Namun, Entah setan apa yang merasukinya saat ini. Sikapnya yang semakin hari semakin menimbulkan besar kecurigaanku. Jangankan kata cinta, hanya menatap mata saja dia enggan. Setiap mengangkat telp atau sekedar smsan dengan temannya, Rasyan menjauhkan pandangan dariku.  Mungkinkah dia sudah bosan denganku? Mungkikah dia memiliki kekasih lagi?

“Jadi istri jangan suudzon pada suami!”ungkapnya saat aku menanyakan mengapa dia selalu sms-an sendiri dan tak mengijinkan sedikit pun melihatnya. Jika pun mengijinkan, inbox-outbox sudah kosong.

“Aku lihat no HP mu kebanyakan no cewek semua, A?” aku memancing lagi.

“Emangnya gue homo ngumpulin no cowok!”

“Kau tahu akhir-akhir ini aku sering menangis?” air mataku hendak menjalari pipi. Dia dengan tenang memainkan jemarinya di atas keypad HP.

Diem, Ah. Udah malam, Rai. Tidur sana!”

“ Bukan gitu, Aa. Sikapmu semakin hari seperti membenciku. Apakah kaupunya kekasih lain?”

“Emang salah kalau gua sekedar suka?”

“kau suamiku, A. Buat apa  kau menikahiku jika sekarang aku hanya Benalu. Aku tak bissa menahan hasratmu untuk perempuan lain. Tapi ijab-qobul yang dulu kau ucapkan hanyalah omong kosong.

Dia  masih bersikap tak peduli.

“‘Kau…menyakitiku!” tak terasa air mata ini semakain deras. emosiku tak terbendung menahan semuanya.  “kau seperti seorang perampok yang hanya menjarah semua hasil keringatku! Kau tak punya perasaan!”  aku menangis sejadi-jadinya.

“Diam! Aku pusing, Tirai…!” dia menghampiriku.

Malam itu dia seperti kerasukan setan. Tanpa tedeng aling-aling bagian Leher belakangku dicekik seperti seekor kucing. Dia mendorongku secara paksa.

“Mau berisik lagi hah?” Gertaknya seraya membanting pintu.

Apakah ini mimpi? Bukan, ini bukan mimpi. Memang,  Dia tak punya hati. Dulu romantis bagaimana cara mencintai.  Sekarang, dia orang pertama kubenci! Aku benci kamu, Rasyan!

~~~

            Setelah kejadian itu, Aku sering menginap beberapa hari di rumah orang tuaku. Berharap dia datang menjemput. Dan inilah puncaknya aku mengutuki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku memaafkan dia. Betapa bodohnya aku yang terus setia. Sebuah pesan dari teman Rasyan di facebook  seperti kilatan petir menyambar kepalaku.

Fahri: Teh Tirai tadi saya melihat Rasyan membawa Tantri ke kontrakannya Teh Tirai “mumpung tidak ada istri” katanya. Maaf saya lancang, tapi saya sekedar memberi Informasi.

Sungguh aku mengutuki diriku. Saat ini yang bergumul hanyalah perasaan kecewa, sakit dan…benci. Rasyan! Jangan salahkan aku jika qpa yang kau lakukan saat ini  terjadi padaku!

~~~

Embun Menguap, Kelu telah luluh.

Zrettt!zrettt!nada getar dari telpon Rasyan. Aku tak mengangkatnya.

“Dari si Biadab?” tanya laki-laki itu. Geliginya bergemeretak.

Aku mengangguk, “Aku lebih nyaman berada di sampingmu,Fan”

Dia menghampiri dan duduk di sebelahku. Degup jantungku seperti terbawa ombak. ubun-ubunku memanas memompa seluruh aliran darah. Nafas saling memburu alam nyata yang tak kunjung tiba. Jiwa seakan lupa siapa aku sebenarnya.  Maaf Tuhan, saat ini aku sembuhkan luka…

 

*) Gambar di ambil dari Sini

SEPATU

Dugaanku keliru. Kukira dia hanya  seorang Mahasiswa kaya, pintar,  yang hanya mementingkan nilai-nilai akademik dan tak tahu arti peduli terhadap sesama. Dugaan itu membuatku malu sendiri. Aku memang tidak dekat dengan Rudi. Entahlah, mungkin gengsi atau apalah. Hingga akhirnya satu kejadian menyadarkanku dari  sikapku yang takbaik ini.

            Hari itu tepat hari Jum’at. Percaya atau tidak, perkuliahanku hari Jum’at memang selalu mulai dari dari jam dua siang hingga jam delapan malam. Dan di jam tersebut kereta api terakhir yang harus kutumpangi menuju pulang. Makanya, aku selalu pulang lebih cepat sebelum perkuliahan selesai. Jika tidak begitu, ongkos naik kereta satu minggu mungkin terbabat habis untuk satu kali ongkos naik mobil Elp.

Biasanya aku berhasil tiba di stasiun sebelum kereta datang.  Untungnya jarak antara kampus dan stasiun hanya memerlukan lima menit untuk berlari dengan mengambil jalan alternatif Cibadak diteruskan ke jalan Dulatif. (Tidak terlalu membuat semua orang di dalam gerbong menutup hidungnya karena bau keringatku.)

Sialnya hari itu aku ketinggalan kereta. Entahlah, waktu itu apakah aku yang terlalu lamban berlari atau kereta yang terlalu cepat datang. Padahal aku sudah berlari dengan kecepatan seperti biasa.

Aku sempat bingung karena mungkin ongkos untuk naik kendaraan lain tidak akan cukup. Akhirnya aku kembali ke kampus dan mencoba untuk tidur di mesjid  malam itu.

Di kampus beberapa temanku sudah pulang. Rudi yang hendak bersiap menyalakan motornya melihatku.

“Ayyash, kamu belum pulang?”  tanya Rudi

“ emm, belum Rud. Saya ketinggalan kereta” jawabku agak malu

“Nggak naik mobil Elp?”

Aku menjawab seadanya. Ongkosku tidak akan cukup untuk naik mobil. Akhirnya Rudi mengajaku ke tempat tinggalnya di daerah Kopo. Awalnya aku menolak, tapi dipikir-pikir betul juga kata Rudi, besoknya ke kampus bisa bareng. Lumayan ngirit ongkos. Aku tersenyum dalam hati.

Aku ikut Rudi. Walaupun tidak memakai helm, namun perjalannku cukup aman di malam hari. kecuali malam minggu banyak razia. Dalam perjalanan   kami sempat saling bertanya walaupun apa yang aku dengar kadang tak terlalu jelas karena angin yang terlalu kencang dan apa yang Rudi katakan mungkin terhalang oleh helm. Beberapa menit kemudian aku sampai di rumahnya.

***

             Kadang kita terlalu underestimate kepada seseorang sebelum mengenal seseorang terlebih dahulu. Belum tahu seluk beluk apa pun mengenai seseorang karena terlampau egois bisa menimbulkan rasa iri dalam hati. Mungkin itu yang kualami terhadap Rudi yang ternyata dulunya satu nasib denganku sekarang. Di rumah ini orangtuanya baik. Jamuan makan yang membuatku memperbaiki gizi. Pepes ayam, Pepes Jamur, macam-macamlah pokoknya yang jarang kutemui di kosanku.

Selepas makan, aku tiduran meluruskan punggungku.

“Pempek Palembang?” tanyanya

“Ya, tapi bukan miliku. Aku hanya sebagai pegawai. Untungnya bossku peduli terhadap pendidikan. Jadi aku dikasih jadwal hanya empat hari, sisanya diganti sama temanku si Hendra.”

“Terus ongkos sehari-hari dari mana?” Tanyanya lagi

“Dari uang transport lima ribu perhari yang aku kumpulkan selama hari kerja.”

Dia mengangguk.

“aku iri sama kamu, Rud. Kau menguasai bahasa inggrismu dengan fasih.” Kataku

“Semua yang aku dapat memang tidak instan, Yash. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kamu menguasai sesuatu. Aku memang sejak SMP menekuni bahasa inggris. Dulu bahasa inggrisku masih blah, bleh, bloh seperti kamu. Dan aku juga mengalami rasa iri terhadap teman-teman yang lebih expert. Tapi iriku ini kupacu dengan terus belajar dan praktek. Dengan keberanian yang aku punya, aku ingin berubah, dan aku melawan ketakutanku”

Betul Juga.

“kita sudah menjalani satu semester. Tapi aku baru tahu siapa kamu. Keterlaluan.” Kataku

“udah, tidur sana.” Rudi menimpukku dengan bantal guling.

Malam ini penuh pelajaran berharga bagiku.

***

old-shoes

Sepatuku hilang!

“serius, Yash?” tanya Rudi

“Iya, tadi aku menyimpannya di sini” jawabku sambi mencari-cari di tempat sandal. Lalu aku mencarinya di balik pot-pot bunga  yang berdekatan dengan tempat sandal tadi. Aku pergi ke mesjid memakai sepatu karena tidak ada sandal lagi di tempat Rudi.

Rudi pun heran. Katannya baru kali ini ada sepatu yang hilang. Dan, akhirnya tidak ketemu. Itu satu-satunya lagi. Ya sudahlah.

Akhirnya Rudi menawarkan sandalnya untuk aku pakai.

***

            “gak usah, Rud? Aku jadi nggak enak”

Sebelum ke kampus Rudi mengajakku ke sebuah Mall. Entahlah, kukira dia mau membeli untuk keperluannya. Karena saat kutanya memang ada sesuatu yang harus ia beli. Tapi ternyata dia mengajaku ke sebuah Toko sepatu.

“tapi, Rud…”

“udah ambil aja mana yang kamu suka. Mumpung aku lagi ada rizki lebih.”

Aku diam sejenak. Mataku mengitari rak-rak toko itu. Beberapa harga terpampang. Dan tentunya aku memilih yang lebih murah.

“Yang itu?” Tanyanya

Aku mengangguk. Bukan aku tidak ingin yang lebih bagus. Tapi aku sadar diri. Aku tidak ingin memanfaatkan orang lain dalam kesusahanku.Aku mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.

“nyantai, aja Bro”

Katanya tersenyum seraya menepuk pundakku.

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8 Bogor, 2013

*) Gambar diambil dari Sini

Bus dan Satu Cerita

Kerinduan bertemu anak-istri sudah tak tertahankan.Tapi belum separuh perjalanan pun jarak yang akan kutempuh. Masih menunggu bus yang baru-baru ini mulai beroperasi. Sudah hampir setengah jam aku menunggu bus  Elang-Cibiru yang menuju elang. Memang sih Selain murah dan pemberhentiannya tidak sembarangan, karena disediakan shelter, bus yang satu ini memang memerlukan kesabaran. Entahlah kenapa terasa lama, tapi jujur  sekarang aku baru mau mencoba armada tranportasi yang baru ini. Panas pula.

“Ayyash!” aku kaget. Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik badan.

“Tirai… kau, kukira siapa.” aku tersenyum.  Sedikit menelisik apakah benar Dia temanku.

“Nunggu bus Trans juga?” tanyaku

Tirai mengangguk.

“Nah akhirnya datang juga” Aku menunjuk bus tiga perempat berwarna biru itu, sudah mulai tampak berbelok di bunderan Cibiru.

Bus sudah berhenti di depan shelter. Kami naik diikuti beberapa orang yang sudah menunggu dari tadi. Di bus ini ada 17 tempat duduk  dan 36 pegangan untuk penumpang yang berdiri.  Untunglah masih tersisa tiga kursi kosong di bagian belakang. Aku mengambil dekat jendela. Tirai mengikutiku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Bus melaju siap melintas jalanan soekarno-hatta yang panjangnya 30 km ini.

***

“Kok Suamimu nggak ikut, Rai?” seketika Tirai terdiam.

Tirai memang salah seorang teman semasa pesantren. Dia  menikah dengan Rasyan yang masih satu kelas dengan kami. Mereka pacaran sejak Aliyyah (setingkat SMA).  Banyak gunjingan tentang hubungan mereka, karena di pesantren kami tidak diperbolehkan pacaran. Kecuali langsung saling menghalalkan alias menikah.Tapi kata mereka takkan menikah kecuali nanti lulus Aliyyah.

“ke laut” jawab Tirai dengan santai

“Maksudmu?” tanyaku lagi

“Aku sudah…bercerai”

“Ah, kau bercanda?”

“Tepat!” Dia tersenyum satir. “kautakkan percaya”

Sorry, Tirai.” Aku merasa menyesal menanyakan itu.

Dia mengangguk

“Nggak apa-apa, kok, nyantai aja”

Tidak ada kecocokan lagi diantara kita. Begitulah jawaban klise yang biasanya dilontarkan seseorang yang sudah bercerai saat ditanya tentang perceraian mereka. Tapi aku berusaha tak akan menanyakannya pada Tirai.

“Memang semuanya terlalu singkat, Yash” kata Tirai tiba-tiba. “Seperti kebanyakan pasangan lainnya, kehidupan kami selepas menikah sangat bahagia. Dan dunia milik berdua itu nyata adanya…pada saat itu” Lanjutnya

“Boleh tahu kenapa semuanya bisa terjadi?” tanyaku akhirnya tak tahan menahan penasaran.

“Semuanya kandas karena sebuah komunikasi yang tak sejalan, prinsip rumah tangga dan intervensi keluarga (orangtua) yang begitu kentara. Pertama mulai dari konflik saat dia dikuliahkan orangtuanya, bukan mencarikan pekerjaan untuknya. Sebenarnya aku juga sudah mulai ada firasat kalau ini enggak akan bener. Apalagi, mertuaku tanpa minta persetujuan dariku langsung main kuliah. Mertuaku  memberi pilihan antara kerja atau kuliah. Awalnya aku  mau  kuliah,  tapi dipikir lagi…enggak ada salahnya kerja. Akhirnya itulah keputusan yang aku ambil. orangtuanya senang, mungkin karena menurut mereka bisa bantu buat uang kuliahnya Rasyan.”

“Aku kerja-dia kuliah. kami melakukan aktivitas kami masing-masing. Beberapa minggu masuk kuliah dia sedikit berubah, entah karena pergaulan atau apalah yang jelas ada perubahan sikap negatif yang signifikan yang seharusnya tidak dilakukan  oleh suami terhadap seorang istri. Dan terbukti dari sikapnya yang mulai menjauh dari hari ke hari. Entahlah,  Mungkin bosan atau jenuh. Hal yang semakin membuat aku bertanya-tanya karena dia keseringan menyendiri baik sedang chatting via sms atau pun Facebook. Aku berusaha bertanya pada Rasyan barangkali aku punya salah. Aku mencoba mendekatinya dengan komunikasi yang intens, tapi tak ada tanggapan yang masuk akal. Bila pun aku memulai mencairkan suasana, sebuah anggukan dan kata ‘ya-tidak’ adalah sebuah pernyataan yang tepat baginya.”

“Maaf, aku memotong. Aku masih belum mengerti kenapa Rasyan kuliah bukan kerja?” tanyaku.

“sudah kubilang tadi, orang tuanya saklek menguliahkan dia dan menyuruhku bekerja. Dan in yang aku benci dari Rasyan adalah  tak punya sikap tegas sebagai suami. Jujur aja, Yash, antara aku, mertua dan orang tuaku tak punya hubungan baik.”

“Jadi, dulu siapa yang memutuskan agar kalian segera menikah?” tanyaku lagi

“kakek dan nenekku. Tentunya dengan persetujuan orangtua. Kautahulah gimana kondisi kita saat itu. Aku pun sempat  bimbang karena terlampau muda untuk menikah. Apalagi Rasyan, kedewasaannya tak selebat janggutnya”

Aku hanya mengangguk.

“Bisa kaubayangkan betapa sakitnya bila istri bekerja dan suami seperti tak punya beban hidup sedikit pun. Waktu itu Aku kerja di sebuah perusahaan sebagai Akuntan di pabrik tekstil. Tak ada permasalahan dalam pekerjaanku. Masalahnya hanyalah di rumah. Rasyan sudah jarang menginap di rumah. Saat kutanya mengapa tidak pulang, dia mengaku menginap di rumah teman untuk mengerjakan beberapa tugas. Aku percaya. Tapi seringnya menginap di rumah orang lain tanpa pemberitahuan kepada istri menimbulkan kecurigaan. Aku sudah berusaha untuk terbuka ke pada Rasyan tentang pekerjaanku, namun sebaliknya dia tak pernah sekali pun menceritakan apapun tentang aktivitasnya. Jika awal bulan,  hanya gaji kerja yang Rasyan tanyakan. Bahkan Untuk memenuhi ‘kepuasan’ pribadinya pun tanpa ramah tamah terlebih dahulu”

“Aku sering menangis, bahkan aku pernah diusir jam 1 Dini hari karena tangisanku menggangunya. aku tak bisa menahan kecurigaanku, saat Rasyan tertidur aku selalu membuka inbox-outbox smsnya. Sudah kosong. Sebenarnya aku berusaha untuk menghindari kecurigaan ini, namun selalu tak berhasil karena sikapnya yang makin menjadi dengan berbuat kasar terhadapku. Aku sempat menanyakan secara terang-terangan apakah Rasyan sedang menyukai perempuan lain. Namun jawabannya amat tak pantas bagi seorang pemimpin rumah tangga, ‘wajarlah aku suka sama cewek, berarti masih normal ‘kan?’ jawabanya yang sangat menyakitkanku”

“Puncaknya di malam Idul Adha, saat dia berhasil menamparku, aku kabur ke rumah orang tuaku. Alih-alih dia menjemput, malah membawa seorang perempuan dan tidur bersama di tempat aku dan Rasyan sering tidur”

Gila! Separah itu tingkah laku Rasyan?

“Dari mana kamu tahu Rasyan membawa seorang perempuan?” Tanyaku.

“Ada seorang temannya, entah iba atau kasihan, yang memberitahukan lewat Direct message Facebook bahwa Rasyan tadi mengajak salahsatu temanya ke rumah kontrakan kami. Walaupun jauh dari Nagreg menuju Rancaekek, Aku bergegas melajukan motor matic menuju tempat tinggal kami untuk membuktikan kabar tak sedap itu. ”

Dia menghela nafas. Ceritanya sedikit membuatku bergidik.

“setelah sampai, nampak motor Rasyan yang di parkir di luar. Sepuluh langkah menuju rumah aku sengaja mematikan motor dan mendorongnya.  Aku mengetuk pintu dengan lembut. Dia membuka pintu bertelanjang dada dan hanya memakai sarung. Rasyan terkejut. tanpa menghiraukannya aku masuk dan dia pun sempat menahan langkahku. Aku menuju kamar dan ternyata….”

Tirai menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan selembar tissue dari dalam tasnya. Aku masih menyeksamai apa yang dia ceritakan. Nada dering handphone Tirai berbunyi. Ia membuka sms dan membalasnya.

“Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku bilang pada Rasyan bahwa jika dia belum berubah, jangan salahkan aku jika aku pun berbuat hal yang sama. Aku pun mulai dekat dengan seseorang di perusahaan tempat bekerja karena sering curhat tentang rumah tanggaku yang di ujung tanduk. Salahku, cara ini awalnya hanya untuk membuat dia cemburu dan berharap dia berubah tapi ternyata dia menjadikan alasan ini untukk bercerai. Aku terjebak. Dan akhirnya kami bercerai. Beberapa bulan setelah bercerai teman curhatku dulu melamarku. Dia sayang padaku dan berjanji takkan mengikuti jejak mantan suamiku dulu.”

“Pelajaran berharga buatku, Rai.” Kataku

“Ya, Yash, bangunlah rumah tanggamu dengan saling setia dan percaya. Oya, jangan bilang siapa-siapa, ya?”

“Istriku, boleh?”

Dia mengangguk tersenyum.

“Aku turun di shelter ini, Yash. Salam, ya, Sama Istri” Dia beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.

Setelah berhenti di shelter, bus ini melanjutkan lagi perjalanannya. Entah berapa shelter lagi menuju terminal leuwi panjang. Masih terngiang apa yang Tirai ceritakan. Rasa rindu bertemu anak dan istri tiba-tiba kembali meletup. Aku berjanji untuk mencintai kalian selamanya.  

*)Gambar diambil dari Blogdetik.com 

 

 

 

kepuasan

Anak SD maupun TK pun sudah tahu perasaan macam apa saat kau mendapatkan sesuatu yang kau inginkan sudah tampak di depan mata. Aku tak menyangka sebuah benda yang telah lama kuidamkan ini akhirnya berada di tanganku. Memang sederhana, mungkin orang lain bisa mendapatkan yang lebih bagus, lebih mudah atau pun lebih canggih dari apa yang kupunya namun perjalanan panjang inilah yang tampaknya membuat fenomena hatiku terasa ramai. Tapi ya sudahlah, aku takkan membahas benda sederhana ini.

Apa yang telah kita dapat sebenarnya dalam kehidupan ini?

Adakalanya semua tentang kepuasan hati. Mendapatkan sesuatu belum tentu baik bagi kita. Saat seseorang melihat sebuah benda (barang) yang cukup menarik perhatian maka tak ayal memiliki adalah sebuah hal yang ingin diwujudkan. Sayangnya kita tak cukup kekuatan untuk mengatakan tidak terhadap sebagian hal yang tak terlalu dibutuhkan. Atau dengan kata lain seberapa penting benda tersebut dapat kita andalkan dalam kehidupan kita.

Setumpuk baju yang dibeli saat mata kita tertarik maka memunculkan pertanyaan “pentingkah untuk itu?” aku kira sebuah hal yang mesti cepat-cepat untuk dipikirkan. Sekiranya masih banyak, takusah belilah…

Tapi ini ‘kan tentang kepuasan hati….

kepuasan hati aku kira bukan “membutuh-butuhkan” sesuatu melainkan saat kau ingin memilikinya, kau takingin memilikinya walaupun kau mampu memilikinya. Itu sih pendapatku.

Bandung, 7 Agustus 2013

 

Menjadi Secerdas Ali bin Abi Thalib

Keberhasilan dakwah Rasululloh SAW dalam memperjuangkan Islam  tentunya banyak dibantu oleh sahabat-sahabat beliau. Dalam kehidupan beberapa sahabat Rasulullah Saw mempunyai peran penting serta memiliki kelebihan masing-masing. Seperti Utsman bin Affan yang terkenal kedermawanannya, Umar bin khatab yang paling disegani oleh kaum quraisy, abu bakar yang bijaksana dan karismatik, juga  beberapa sahabat Rasulullah Saw lain pun yang tak kalah ambil bagian penting dari perjuangan menegakan agama Islam yaitu Ali Bin Abi thalib yang terkenal dengan kecerdasannya.

Sayyidina Ali Ra merupakan anak pamannya sendiri yaitu Abu Thalib. Beliau termasuk salah satu assabiqunal awwalun dari kalangan anak-anak. Sejak usia 6 tahun Ali sudah bersama Rasulullah Saw. Maka takheran kecerdasan  Ali  taklepas dari gemblengan  pendidikan Rasulullah SAW.

Kecerdasan Sayyidina Ali Ra. Meliputi berbagai macam disiplin ilmu, seperti Bahasa (Balaghah), ilmu Pidato (Khitabah), Ilmu Hukum (Fikih), Ilmu Tafsir (Hermeuneutika), Ilmu Ketuhanan (tauhid/akidah), Ilmu sastra (syair), ilmu tulis menulis, Ilmu sufi, Ilmu Perang,  Ilmu Etika (Akhlak) dan lain sebagainya. (Hal. 13)

Beberapa contoh kecerdasan sayyidina Ali Ra, seperti yang tercantum dalam kata pengantar buku ini, tentang beberapa orang yahudi yang bertanya beberapa hal kepada sayydina Ali Ra. Pendeta Yahudi bertanya “apakah induk kunci (gembok) yang mengunci pintu-pintu langit”. Lantas Jawaban Sayyidina Ali Ra “induk kunci itu ialah syirik kepada Allah, sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia syirik kepada Allah maka amalannya tidak akan naik sampai ke hadirat Allah. (hal.8)

Tentunya kecerdasan yang didapatkan Ali bin abi thalib tidak serta-merta datang sendiri. Kecerdasan yang beliau miliki adalah sebuah hasil dari keimanan dan ketakwaannya. Namun ada beberapa penunjang lainya yang menjadi sumber kecerdasan Ali bin abi thalib. Dalam buku ini dibahas tentang beberapa rahasia mengapa Ali bin Abi thalib dijuluki gudangnya ilmu oleh Rasulullah Saw. Tak hanya itu, di buku ini juga ada beberapa tips untuk mendidik anak supaya cerdas  seperti Ali bin Abi thalib.

sayangnya serasa ada yang kurang dalam buku ini tatkala tak ada pembahasan mengenai bagaimana kecerdasan sayyidina Ali Ra dalam berumah tangga atau dalam mendidik istrinya Fathimah Azzahra. Seandainya penulis memasukan pembahasan tersebut kiranya akan menambah lengkap dalam materi buku ini. Namun dibalik kekurangan tersebut, buku ini akan menjadi salah satu referesensi dan inspirasi bagaimana cerdasnya Ali bin abi thalib pada masa Rasulullah Saw sangat terasa sampai sekarang. Karena mau tidak mau kecerdasan Ali bin Thalib turut berkontribusi dalam penegakan perjuangan menegakan agama Islam.

                                                                —————-

Judul                     : Rahasia kecerdasan Ali bin Abi Thalib Si Super Genius

Penulis                 : Masykur Arif Rahman

Cetakan               : ke-1, April 2013

Halaman              : 204 Hal

Peresensi            : Mufti Aqosiya

Sebuah Makna

                      kita akan lebih merasakan keberartian cinta saat kita menyadari bahwa kita sedang mengalami keberartian itu. kau punya orang tua tentunya. Posisi orang orang tua sangatlah berarti untuk anak-anak. Sebagai seorang anak, dapatkah kita merasakan posisi mereka. mungkin jawabannya bisa “ya” dan “tidak”.
                      Lebih tepatnya “ya” untukku yang saat ini menjadi orangtua. Anak mana yang tidak merepotkan orangtua walaupun orang tua merasa tidak direpotkan. Bahagia kehadiran anak-anaklah yang meniadakan segala keresahan, kelelahan dan rasa kesepian.
Dulu ketika aku masih kecil selain melengkapi kebahagiaan orangtua mungkin aku salah seorang yang membuat orangtuaku puyeng dengan sikapku. Diam untuk tidak melawan orangtua sangat sulit untuk kulakukan. Aku tidak tahu mengapa sikapku seperti itu. Tapi sepertinya orangtuaku juga yang salah menerapkan pendidikan. Ya, ibarat musuh besar dengan kedua orangtuaku. Makanya hingga usia dewasa aku sempat tak dekat dengan mereka. Apalagi untuk sekedar curhat-curhatan. Bisa kaubayangkan betapa berengseknya saat aku merobek baju-baju ayahku ketika perlakuannya yang menurutku (sebagai remaja yang labil) tidak mengenakan. Dan…aku pernah memukul ayahku. Itu Dulu.
                   Kini sekarang aku mengerti bagaimana orangtua selalu menghawatirkan hidup anak-anaknya. Memastikan nasib anaknya yang tidak ingin terjun pada kesusahan. Pendidikan, ekonomi dll. Dengan kata lain, orangtua rela memberikan hidup mereka untuk kehidupan anak-anak mereka. itulah yang membuat aku tersadar bahwa keberartian kehidupan mereka adalah sebuah keniscayaan.
Ada kejadian yang membuatku merasa “ditampar” hingga merenungi semua kesalahanku. Beberapa tahun yang lalu saat Ayahku bekerja di Palembang sebagai seorang kuli bangunan. Sebuah panggilan telepon dari pamanku mengaggetkanku.
Muf, Bapak ketabrak motor saat kerja. Sekarang Bapak sedang di rumah sakit” tiba-tiba segala keentahan apa yang merasukiku saat itu. Bumi seolah ingin membenturkan kepalaku. Setidaknya aku bukan Malin Kundang dengan keentahan itu “kakinya sedikit patah dan saat ini sedang di rumah sakit. Tapi kamu tidak usah khawatir. Mamang di sini merawatnya.”
“Apakah Si pengendara mau bertanggung jawab, Mang?” waktu itu aku berusaha memastikan bahwa masalah tidak akan terlalu menjadi masalah serius baik untuk Mang akbar ataupun ayahku.
ya, katanya dia mau bertanggung jawab sampai pengobatan selesai.” Terasa Kelegaan sedikit menjalar di dadaku. Setidaknya, Pamanku dan ayah akan tak terlalu memikirkan biaya pengobatan di sana.
“ya, makasih Mang. Kabari terus kondisinya.” Suaraku mungkin terdengar biasa di telepon. Walaupun Aku berusaha menahan airmata yang hendak jatuh di sudut mataku. Ingin menangis sejadinya dan mengadukan keresahan yang membobol habis hatiku. Tapi sempitnya ruang di sudut mataku tak mampu membendung harunya Kabar ini.
Dari kejadian itu aku mulai sadar bahwa segalanya belum terlambat. Cinta orangtua takkan pernah terganti. i love you, Dad. i love you, Mom.

Bogor, 21 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Ramadhan Terakhir Ludwig

Judul               : Ramadhan Terakhir Ludwig

Penulis             : Mahab Adib-Abdillah

Penerbit           : Diva Press

Cetakan           : Ke-1, Maret 2013

Halaman          : 349 Hal

Peresensi        : Mufti Aqosiya

 Rey, bernama lengkap Kirayla Ayunda Hasnawati. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai seorang fotografer profesional di salah satu majalah potret Nasional di ibukota. Sebagai salah satu di antara 100 fotografer terbaik, Rey bekerja secara professional. Profesinya itu menuntut dia bertugas ke beberapa luar pulau di Indonesia. Sejak mulai kerja di kantor tersebut Rey sudah ditugaskan ke Pulau Komodo, Bali, Kalimantan dll.

Suatu hari saat bertugas di salah satu Taman nasional komodo, Rey meminta tolong kepada seorang turis asing untuk memfoto Rey bersama teman-temannya. Sampai mereka mewawancarai bule tersebut tentang kisah perjalanannya yang menakjubkan. Dari menumpang bus malam dari Denpasar ke Bima, lalu dari Bima ke Labuan Bajo, hingga sampai bertemu mereka di pulau komodo. Tak disangka pria bule yang dipanggil Moza itu mulai akrab dengan Rey.   Kedekatan itu berlanjut pada beberapa kejadian di mana Rey semakin intens bertemu dengan Moza di beberapa tempat. Dengan sadar ada sebuah perasaan berbeda yang larut di hati Rey terhadap Moza. Akhirnya terjadi sebuah hubungan yang berujung pada keputusan untuk menikah.

Hubungan mereka sebenarnya tidak disetujui oleh Ibu Rey. Mengingat almarhum ayahandanya seorang ulama, maka ibunya menginginkan orang yang mengerti agama pula. Hal itu semakin membuat Rey pesimis akan penerimaan keluarganya terhadap Moza yang notabene seorang bule non muslim.  Untungnya, Moza tertarik dengan Islam dan menjadi seorang mualaf.

Cover Ramadhan terakhir Ludwig

Cover Ramadhan terakhir Ludwig

Bertahun menjalin keluarga mereka di karunia seorang anak bernama Ludwig. Pekerjaan sebagai Fotografer masih dijalani Rey. Terlebih fotografi merupakan passionnya. Tugas ke luar pulau masih Rey jalani dengan baik. Hingga suatu saat rey ditugaskan ke pulau Kalimantan. Dari sanalah runtutan kejadian yang tak diduga mulai terjadi. Ludwig yang tersesat, Moza yang masih meninggal saat kecelakaan di pesawat bersama Ishac, bossnya Rey. Dan ada pula hak yang tak terduga ada di akhir novel ini.

 

Novel ini memberikan inspirasi bahwa sedekat apapun, secinta apapun terhadap seseorang, pada akhirnya kita akan kehilangannya. Selain itu, novel ini mengenalkan beberapa kawasan wisata yang ada di Indonesia yang (mungkin) belum kita tahu. Beberapa daerah kepulauan lain dikenalkan di dalam novel ini.

Sebagai pembaca awam, sayangnya kedekatan antara Ludwig dan Rey sebagai ibunya kandungnya kurang terasa dekat. Akan lebih terasa dekat seandainya ada dialog atau kehangatan-kehangatan momen tertentu antara Rey dan Ludwig ditampilkan. Misalkan, kejenakaan Ludwig saat masih kecil ataupun hal yang tidak bisa dilupakan dari Ludwig.  Sehingga,  saat kehilangan Ludwig pembaca turut merasakan emosi bagaimana kehilangan seorang anak. Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini memberikan spirit untuk selalu percaya bahwa semuanya, baik atau buruk, sudah diatur sedemikian rupa.

*) di resensi di Dakwatuna(dot)com pada tanggal 10 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Beri Anak Pilihan Bukan Larangan

“Hei, Nak, jangan lari-lari! Diam!”

            Si anak tidak menghiraukannya. sang Ibu mendengus kesal, mengeluarkan tanduk kemarahan menyaksikan anaknya yang masih terus berlari-lari di sekitar tempat duduk apotik. Dengan sigap  menghampiri anak lelaki yang bermain-main dengan seorang anak lain yang senasib menunggu gilirannya mendapatkan obat.

“susah di atur, ya, kamu! Dasar Nakal!” 

Pernahkah anda melihat para orangtua peristiwa semacam itu? kerap kali saya menyaksikan masih ada beberapa orangtua yang tidak mengerti arti “larangan” ke pada anak. Terasa miris menyaksikannya. Apalagi jika melihat umur yang masih satu tahun atau masih senang-senangnya berlari-lari, bermain-main, dan melihat-lihat sekelilingnya dengan penuh penasaran dan takjub.

Cline dan Fray pernah mengatakan bahwa sebuah  pelarangan kepada anak tanpa disertai dengan cinta dan logika hanyalah pengikisan konsep diri belaka. Karena ketika kita mengeluarkan perintah yang saklek seperti “ Potong rumput!”, “Diam!”, “Jangan ke mana-mana!”, “cepat mandi! Sudah besar masih disuruh-suruh!” apalagi  disertai suara yang tinggi hanyalah mengundang pertikaian.

Terus bagaimana cara melarang anak tanpa dia merasa dirugikan dengan sikap para orang tua yang seakan-akan seperti komandan militer? Atau bagaimana anak bisa memutuskan dirinya untuk berbuat sesuatu?

Kuncinya, menurut Cline dan Fray adalah memberikan pilihan bukan larangan. Apa salahnya mengganti kalimat larangan dengan sebuah kata yang positif. Mengganti larangan dengan kalimat mengajak anak untuk berfikir. Kita bisa menggunakan kalimat:

  1. Nak, apakah tidak sebaiknya menyelesaikan pekerjaan rumahmu dulu, atau kamu bermain tapi PR-mu tidak akan selesai?
  2. Ibu akan senang pergi bersamamu setelah kamu mandi.
  3.  Kamu boleh makan apa saja yang tersedia sekarang, atau kamu boleh menunggu dan melihat, apakah makanan berikutnya mengundang selera atau tidak.

Lanjut Cline dan Fray, dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, anak hanya akan memiliki sedikit kesempatan untuk menentang. Mereka sibuk memikirkan beragam pilihan yang ditawarkan, dan konsekuensi apa yang muncul dari pilihan-pilihan tersebut. Dengan menggunakan kalimat berpikir, kita bisa menetapkan batas perilaku anak, tanpa memerintahkan secara langsung mengenai apa yang harus dilakukan.

Gambar dari sini

Bandung, 9 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun dikepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

menulis untuk huruf yang tak selesai

Journey of Sinta Yudisia

Mother. Wife. Writer. Wanderer.Someday, a Psychologist

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.