Rosulullah dan Pendidikan Karakter

oleh: Mufti Fauzi Rahman

 Pernah suatu hari Socrates bertanya kepada muridnya Aristipus “ Aristipos, apa tujuan akhir kehidupan ini?” Muridnya menjawab “Kesenangan, karena ia baik bagi manusia”. Ada hubungan apa yang dikatakan oleh aristipus dengan kondisi kita sekarang. Saat ini kita Berlomba-lomba menuju “kesenangan”. Mari kita simak buktinya, para Wakil Rakyat kita kepengen gedung baru yang katanya untuk lebih konsentrasi. Ironisnya menurut laporan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) sebagaimana yang diberitakan Pikiran Rakyat (27/4) , memperkirakan jutaan warga di kawasan Asia terancam masuk ke jurang kemiskinan, seiring kenaikan harga pangan. Disisi lain, selain di urapi ulat bulu, Indonesia sedang diurapi teroris. Cukup mengiris hati bila kita mengetahui lebih banyak kabar tentang kasus-kasus yang terjadi  terjadi di Negara kita. Pun, koruptor yang tak henti mereguk nikmat Uang banyak. Maka jika diibaratkan kita bagai melukis diatas Air. Kita selalu berusaha sekuat tenaga membuat indah bangsa kita, namun ada beberapa pihak yang mengotori karena kepentingan pribadi. Alhasil, kita tak akan pernah maju, bilapun maju kita pelan dan selalu ditarik kebelakang. Jadilah kita Negara yang ketinggalan. Timbulah pertanyaan, Mengapa ini terjadi? Apa penyebab semuanya?

sependapat dengan M. Taufik Ali Ashor, Perlu adanya perubahan pola pikir dan perubahan karakter yang dilakukan secara sadar sehingga menghasilkan sesuatu yang di harapkan. Dari sinilah betapa penting Pendidikan karakter penting demi kemajuan kita. Namun kita memerlukan waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan hasil yang baik. Mengapa harus pendidikan karakter? Rosulullah pernah bersabda “Setiap kamu adalah pemimpin…. (bagi dirinya dan orang lain)”, lalu di hadis lain, Rusaknya suatu kaum adalah karena rusak pemimpinnya dan rusaknya pemimpin disebabkan rusaknya ulama. Tentu kita tidak tega menyaksikan  kita dan generasi yang akan menjadi pemimpin rusak gara-gara lemahnya karakter.

Pendidikan karakter sebenarnya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Dalam konsep pendidikan Islam, bagaimana seorang pendidik itu bisa menampilkan sebuah contoh perilaku yang dapat dijadikan panutan oleh orang yang akan dididik. kita kaji sejarah Rosulllah, beliau tidak mengajarkan atau mendidik para sahabatnya apa yang tidak beliau lakukan. Beliau mengajarkan kesabaran, karena beliau orang yang sabar. Beliau mengajarkan tentang kejujuran dan Amanah karena beliau mempunyai sikap seperti itu. Tidak heran bila seseorang akan sulit untuk diajarkan sebuah kebenaran bila ia sendiri tidak diawali dengan dirinya sendiri. Dan hal ini pun cukup sulit untuk dilakukan oleh sebagian orang. Seperti apa yang dikatakan oleh Leo Tolstoy, Everyone wants to change the world, but no one to change himself.

            Selanjutnya, tugas kedua mendidik karakter yaitu keluarga dan sahabat terdekat kita. Rosulullah ketika berdakwah di mulai dengan keluarganya sendiri. Walaupun ada sebagian yang menolak. Beliau takut keluarganya sendiri terjerumus kedalam api neraka. Rosululoh memulai dengan ketauhidan kepada kerabatnya. Karena ketauhidan lah yang akan menjadi pondasi bagi seseorang menjalani kehidupan. Selanjutnya beliau mengajarkan akhlak, sebagaimana dia mampu meluluhkan umar bin Khatab yang dikenal sangat keras. Dengan Wise Approach (Pendekatan Kebijaksanaan) dan ketegasannya mampu membuat sebuah peradaban. Selanjutnya tinggal menanamkan kepada masyarakat tentang pendidikan karakter. Mengajarkan kedisiplinan, siyasah, Muamalah dan Fiqih.

Kedua hal diatas adalah sebuah pondasi menciptakan pendidikan karakter. Pendidikan karakter sejak dini akan menunjang terciptanya generasi-generasi baru untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Mendidik RijaalulGhad (calon pemimpin masa depan) menjadi penuh keoptimisan. Tentunya harus diiringi pembinaan agar  generasi baru kita mempunyai Softskill, seperti memberikan pelatihan kewirausahaan, Pelatihan Jurnalistik atau kepenulisan, Pelatihan Ternak, dan pelatihan-pelatihan yang bisa menyelamatkan Negara kita dari kemiskinan. .

Pembetukan karakter memang tanggung jawab bersama, jika saja pemerintah bisa memperhatikan hal ini, setidaknya akan tercipta sebuah perubahan pola pikir setiap individu dan menyadari kelemahan diri masing-masing. Jikalau dari diri sendiri sudah tertanam karakter dengan kuat, dengan sendirinya keluarga akan melihat kita sebagai Uswah. Seiring berjalannya waktu, karakter kuat dari sebuah keluarga akan tercipta kecerdasan emosional dan spiritual dalam masyarakat dan berujung kepada karakter sejati Agama, bangsa dan Negara.

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: