Buah Merah di Tabir A’raf

Mataku masih tertuju pada apel itu, warna merah yang  menggiurkan.  Kumainkan dengan memutarkanya pada kepalan telapak tangan. Jauh menerawang pada peristiwa membuat semua orang tak percaya. Mengingatkanku pada misteri buah Merah. Kau tau buah Merah? Bukan, bukan apel apalagi buah Naga. Aku juga tidak tau persis, tapi bagiku menarik sekali khasiat buah Merah ini.

Awal mula aku tau dari  seekor burung kecil. Ketika itu aku duduk di bawah pohon rindang. Ya, pohon rindanglah yang menjadi saksi misteri tentang buah Merah. Tiba-tiba seekor burung kecil datang kepadaku.

“apa kau tau tentang kabar Buah Merah?” Tanyanya tiba-tiba

Sontak aku kaget. Beberapa kali meyakinkan diriku dengan menampar pipiku sendiri.

“buah Merah?” aku menelan ludah. keringat dingin. memberanikan diri bertanya lagi

“ iya, buah Merah. Khasiat buah ini akan membuat manusia berubah”

“aku tidak mengerti apa yang kau maksud?” sekali lagi aku menampar pipi.

“kau tidak sedang bermimpi” burung kecil itu masih mengitariku. “bila kau bisa menemukan buah merah itu maka kehidupanmu  akan berubah. Kau akan menjadi lebih baik bila hatimu baik. Sebaliknya, bila hati kamu busuk maka yang akan menangung akibatnya adalah kamu sendiri. Intinya, tergantung hatimu,  juga bagaimana kau menilai dan memegangnya.”

“ah, mimpi!!”

“sekali lagi kukatakan ini bukan mimpi. Jika kau mencari buah itu hanya untuk kepentingannmu sendiri, maka kecelakaan akan datang padamu. Namun sebaliknya, untuk banyak orang kau akan bernafas lega di surga. Kau menjadi putih  penuh dengan cahaya diantara orang-orang yang mengenakan baju hitam.”

Aku mencoba mencerna pesan burung kecil itu. Berharap ini adalah sebuah mimpi namun aku tak kunjung bangun dari mimpi tersebut.

“ kau…..” burung kecil itu terbang kesebelah kananku “akan mendapatkan cahaya yang dirindukan orang-orang yang berbaju putih. Namun, sejauh yang aku awasi, beberapa orang gagal memetik buah Merah itu. Tujuan mereka berubah,karena takut kehilangan buah itu.”

“terus, apa maksudmu memberi tauku?”

“barangkali kau membutuhkan buah merah itu.”

“bagaimana aku bisa menemukannya?bagaimana cara memetik buah itu?

“Ikhlaskan hatimu untuk mencarinya, jalan menuju buah merah itu akan terbuka dengan sendirinya”

“dimana?”

“di Tabir A’araf”

Burung kecil itu terbang ke arah timur. Keringat dingin sekarang membanjiri badanku..

***

Mataku tak bisa terpejam memikirkan buah Merah. Aku sempat ragu. Pada akhirnya kuputuskan untuk mencari buah tersebut. Kubulatkan tekad dan keyakinan. Hingga datang satu malam yang mengejutkan bagiku, semacam ilham atau petunjuk. Tiba-tiba aku berjalan menyusuri sebuah kebun. aku rasa mengenalnya.

Begitu banyak pohon kering dan lebat disana. Buah segar terdapat di pohon yang lebat. kau tak usah menanyakan apa pohon itu, karena akupun tak tau namanya. Tapi aku tidak habis pikir ternyata begitu banyak buah merah disana. Sayangnya diantara buah merah yang aku temui banyak dihinggapi lalat dan belatung, Pun kedua binatang menjijikan itu Nampak puas menikmati Bangkai tikus dan bangkai burung. Berserakan dan menjijikan!.

Aku sempat putus asa, Mungkin benar kata burung kecil itu, tidak semua orang bisa menemukan dan memetiknya. Jalan berkerikil tajam membuat putus asa perjalanan.

Aku tau dalam pencarian kebenaran tidak mudah. harus menghadapi desakan alam: hujan, Petir, angin topan. Betulkan? Mungkin saja kebenaran sudah ada didepan mata namun masih sulit untuk diambil dan di satukan dengan jiwa.

***

Aku ingin kembali. Aku tidak ingin niat untuk mengetahui buah merah itu menjadi bencana bagiku. Kerikil tajam sudah menerusuk Kakiku.

Aku berbalik dan mencari jalan pulang. “PLUKKK” Enam langkah dari tempat aku berhenti, sesuatu jatuh ke atas kepalaku. Aku kesakitan. Aku hendak lihat apa yang terjatuh. Aku masih mengenalinya, namun bentuknya agak berbeda. Lebih bercahaya dan menyejukan. Apakah ini yang di maksud Buah Merah di Tabir a’raf itu. Tapi, aku belum menemukan di mana A’raf itu berada.

Sebenarnya Aku takut ini bencana dan segera ingin kutinggalkan tempat ini. Namun hati kecil tak dapat dibohongi dan terus menariku untuk membawanya. Dilema. Antara hati kecil dan nafsu. Kulihat lagi  benda itu, cahayanya menyentuh batinku.

“inikah Buah merah itu?” aku meyakinkan diriku

Plukk. Satu lagi terjatuh.

Apel terjatuh ditanganku. Aku mengambilnya. Ada sisa gigitan di apel itu. Tak kusadari bahwa aku sudah mengigitnya tadi.

2009-

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: