Esok, Aku katakan padamu

Air conditioner Bus kota menambah dingin suasana. Penumpang tidak terlalu penuh, Aku duduk dikursi tengah dengannya. Hanya dua orang yang duduk di kursi belakang, selebihnya sekitar sepuluh orang duduk di depanku sampai seterusnya. Rinda duduk di samping kiriku. Kita masih saling terdiam. Mencoba merenungi apa yang terjadi. Aku bingung dengan keputusanku. Dan ku kira diapun sama.  Aku sudah terlanjur cinta dengan dia. Aku kira dilema cinta seperti ini tidak akan terjadi padaku. Berat. Lebih baik Aku pergi ke tempat Fitnes dan  angkat besi setiap hari daripada harus mengangkat beban seperti ini. Tapi seharusnya dia juga bisa tegas dengan keputusannya. Betulkah cinta itu jorok? Tak mengenal siapa dan dimana, tak tau tukang becak atau preman, dan tak tau Aku atau dia.

“Anto…” serak suaranya memecahkan lamunan. Air matanya masih mengalir di pipinya yang merah.

“ dulu…” sesaat dia menarik nafas dengan dalam.

“ Dulu keberadaanku tidak diharapkan oleh ibuku”

Aku mendengarkan dengan seksama.

“Ibuku tidak ingin kehadiran anak Perempuan…”Aku usap basah pipinya. Luka batin yang telah ia kubur bertahun lamanya  menderaskan air matanya.

“Aku ditelantarkan begitu saja tanpa perhatian yang lebih”.

Aku menelan ludah. Sebenarnya Aku heran, mengapa masih ada seorang ibu yang tidak menginginkan keberadaan anaknya. Dan apa hubungannya dengan permasalahan saat ini.

“Walaupun kedua kakakku Laki-laki, tapi dia masih menginginkan anak laki-laki lagi. Aku…..”

“ Rinda…” Aku memotong, mencoba mengalihkan pembicaraannya, Fokus dengan permasalahan dengannya saat ini. Sebenarnya Aku sudah mengetahui kisahnya. Dulu Ibunya membiarkan gadis cantik itu terlantar dan tidak diberi perhatian yang penuh. Rinda diajak bersama Pamannya. Hingga tumbuh dewasa ia menyadari kerenggangan antara dia dan Ibunya. Begitu pula rasa sakit hatinya, baru terasa ketika rasa kasih Sayang sosok ia dapatkan bukan dari orang tua kandungnya melainkan dari pamannya. Untung ibu Rinda sudah menyadari kesalahannya, menceritakan dan meminta maaf pada Rinda. Dengan keikhlasan hati, Rinda dapat memaafkan ibunya.

“Aku faham  masa lalumu.  Aku tidak ingin kau mengungkitnya lagi, karena akan semakin berat bagimu. Jujur, sekarang Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan Aku ingin menjadi obat dalam hidupmu. Namun rasAku ini berdiri dalam persimpangan. Aku dan kau saling mencintai , tapi disisi lain rizki dan kau saling mencintai juga. Aku tau rizki sahabatku. Tapi setidaknya kau bisa memilih dan tegas.”

“Aku bingung” ia menunduk, isak tangis masih terdengar jelas. terlalu beratkah pernyataan itu.

Bus Kota sebentar lagi sampai di alun-alun Bandung, tanda bahwa ia harus turun. Aku mengantarnya pulang karena ia belum pernah ke daerahku. Dan Akupun hawatir.

“Rin, Aku tak ingin berlama-lama menyimpan permasalahan ini, Aku tau ini akan berat. Tapi Aku tak ingin hal ini menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Besok, ku temui lagi kamu di halaman Masjid Raya alun-alun Bandung.”

“Alun-alun, siap-siap, sebentar lagi abis” kondektur mengingatkan. Rinda  bangun dari tempat duduk, menuju kearah pintu depan bersiap untuk turun tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Kisah ini memang klasik, antara Aku, Rinda dan  Rizki sahabat baikku terjebak dalam Peribahasa Balam dua sesangka, dua lelaki yang mencintai seorang perempuan. saat ini sebuah keputusan ibarat mata  pisau di genggaman tanganku, tidak diambil terluka, diambil telapak tanganku tersayat.

***

Aku akui Rizki pernah berhubungan dengan Rinda sebelumnya, tapi sempat putus karena Rinda tak mau mengerti dengan Rizki, istilah sunda pok torolong*, dan hal itu membuat hubungan mereka putus. Entah siapa yang memutuskan dan diputuskan. Yang jelas Aku tau mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Walaupun sikap Rinda seperti itu tapi Rizki tetap masih mencintainya.

Awal mula Aku mempunyai perasaan yang berbeda pada Rinda yaitu ketika ada acara bimbingan mahasiwa jurusan. Aku dan Rinda dimasukan dalam kepanitiaan di bagian Publikasi dan dokumentasi, otomatis banyak berkomunikasi dengannya. Gunung Puntang yang terlentak di Soreang menjadi tempat acara kita. Di suatu kegiatan, Jurit Malam kita pun ditugasi secara bersama. Rinda dan sahabatnya, Sani juga Aku menjaga di pos II. Menunggu peserta datang kusempatkan untuk curhat kepada mereka, kucoba ungkapkan pada Rinda kekagumanku yang sudah lama terpendam.

Jujur, saat ini Aku tak tau harus bagaimana. Walaupun Rizki sudah merelakan tapi Aku juga tak enak hati kepadanya. “To, udah  lanjutin hubungan kamu dengan Rinda. Tak usah hawatir denganku. semuanya akan baik-baik saja. Aku disini bukan untuk mengalah atau jadi pemenang.  Tapi Aku ingin menjadi pejuang cinta. Aku ingin memperjuangkan cintamu.”

Aku tau dia tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.

“ Aku tidak bisa berkamuflase, To. Sakit. sakit banget.” Dia pernah bilang seperti itu sebelum ia merelakan Aku dengan Rinda.

Keterbukaan kita terhadap masalah ini tidak menjadikan persaingan. Pernah suatu ketika Rinda Mengajak Rizki Jalan, Rizki selalu merasa tidak enak padaku, walaupun Aku tidak tau. begitu juga sebaliknya, Aku merasa tidak enak hati pada Rizki bila Rinda mengajaku jalan. Tapi pada akhirnya kita saling memberi tau.

Aku yakin ini akan semakin menyakitkan jika tidak diselesaikan. Aku tau Ini memang berat, tapi semakin berat jika Aku tak memperjuangkan apa yang hatiku katakan. Sebagai seorang lelaki sejati, Aku siap menerima semua akibat yang terjadi. Aku tau apa yang akan Aku putuskan untuk Rinda. Aku selalu diajari untuk selalu mengikuti kata hati nurani, karena hati nurani tidak terlepas dari kebenaran-kebenaran.

“Rinda..” dingin AC masih menusuk pundukku,,langit di kota ikut gelap mengetahui kondisi hatiku. Aku melangkah menuju pintu depan.

“ Besok Aku katakan padamu..”

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: