Filosofi Kehidupan dari daun yang jatuh

Judul                     : Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin

Penulis                 : Tere-liye

Penerbit              : Gramedia

Cetakan ke         : Empat, Mei 2011

Halaman              : 256 Hal.

                 Banyak hal yang tidak akan terduga  terjadi kapan, di mana, pada siapa dan oleh siapa saja. Satu dari sekian banyak fase kehidupan yang enggan manusia hindari adalah kehilangan. Padahal sesuatu (orang) yang dicintai bisa hilang dari kehidupan walaupun begitu banyak kenangan yang tidak dapat dilupakan. Mungkin berat menerima “kehilangan”, namun karena tidak ada jalan selain penerimaan yang baik, pengertian yang baik dan pemahaman yang baik, maka mau-tidak mau ketiga hal tersebut harus dijalani. Itulah daun yang tak pernah membenci angin

Lika-liku kehidupan Tania seperti daun yang terbawa angin. Perjalanan hidup menjadi seorang anak jalanan (pengamen)telah menjadi batu loncatan bagi  kehidupan berikutnya. Tidak mungkin dia, anak gadis  11 tahun, memilih menjadi seorang anak yatim yang tinggal di rumah kardus bersama adiknya laki-laki kalau takdir tidak menghendakinya .

Keseharian menjadi pengamen bus kota ia lakoni seperti biasa bersama adik laki-lakinya. Tak ada yang menyuruhnya untuk menjadi pengamen. Namun Tania mengerti bahwa dia harus membantu ibunya.  Suatu hari seorang preman mabuk meminta uang hasil mengamen dan mengancam keselamatan mereka, melihat adiknya dicekik sampai pucat pasi tidak ada jalan lain uang hasil jerih payah dia relakan untuk preman itu.  Akhirnya ia pulang malam untuk mengganti uang yang tadi ia berikan pada preman dengan mengamen di bus.Dipertemukan dengan Danar, seorang pemuda berusia 23 tahun garagara sebuah paku payung yang tertancap di Kaki Tania. Itulah awal mula Danar menjadi penolong bagi  keluarga Tania hingga sering bertemu di bus setiap hari. Maka terjalin komunikasi antara mereka.

Sejak mengetahui kondisi perekonomian keluarga Tania,  interaksi antara Danar dan keluarga Tania begitu kerap. Hingga akhirnya Danar lah yang menyuruh (membiayai) Tania  serta Adiknya (Dede) melanjutkan sekolahnya. Kehidupan mereka dari waktu demi waktu mulai membaik. Danar, yang sudah dianggap sebagai malaikat penolong begitu sayang kepada keluarga Tania. Bahkan ibu Tania sudah menganggap anak Pada Danar. Terlebih kasih sayangnya sebagai kakak, sahabat dan orang tua Ia curahkan selepas ibu Tania meninggal dunia. Namun satu hal yang mengganjal di hati Tania tentang perasaannya yang tak bisa ia pungkas dan tak berani untuk mengungkapkan dengan jujur pada Danar.  Sebuah perasaan yang tidak seperti “adik” kepada Kakaknya. Dan Tania biarkan begitu saja perasaan itu ia pupuk.  Hingga akhirnya Danar menikah dengan pilihannya yang akhirnya banyak terungkap teka-teki antara Danar dan Tania.

Hidup itu harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup itu harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup itu harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan (halaman 196).

Novel ini tak kalah inspiratif dengan karya Tere-Liye sebelumnya. Kisah yang dituangkan dalam novel ini menyadarkan bahwa antara cinta dan kehilangan selalu ada dalam kehidupan. Bukan hanya cinta antara lawan jenis atau kerabat. Namun semua yang bersangkut paut dengan cinta. Dengan novel ini pembaca diajak untuk bangkit dari kesedihan yang berlarut. Menjadikan energi kesedihan sebagai energi untuk  terus menerus berbuat kebaikan.

Karena, kata Tere-Liye, kebaikan itu seperti pesawat terbang.  Jendela-jendela bergetar, layar TV bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang berisonansi. Kebaikan itu menyebar dengan cepat (halaman 184).

~MAq~

Bogor, 20 september 2012~

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: