Nikah Hanya sekedar….

Kuletakan kertas yang dari tadi kupenuhi dengan berbagai coretan. Begini kalau Mahasiswa yang hatinya nyangkut sama dosen. Ngandelin  suapan materi, giliran dosen tidak hadir, galau melanda. Ah, tidak kreatif. Sungguh aku mengutuki diriku sendiri dan…siang ini. Ya, Siang ini tak kalah membara dengan gejolak untuk menikah. Beberapa pertanyaan saling bermunculan dari berbagai ruang pikiran. Apakah benar dan siap aku akan menikah? Siapkah aku menjadi pemimpin? Apakah….

“Kau tahu syaikh Hasan Al-banna?” tanyanya Lirih

“Tidak terlalu banyak”

“Dalam hal membentuk keluarga islami, beliau berharap pernikahan menjadi jalan untuk  menegakan Islam. Ya, aku pun (idealnya) ingin  begitu. Marriage is not just sex intercourse. Dia adalah jalan suci bagimu  untuk menggapai cita-citamu dan meneruskan kemuliaan Islam, Sob” Aku menelan ludah. Menatap nanar coretan  yang tak jelas bentuknya. Seperti Ada mengusik batin yang memburu gejolak ini. Bukan keraguan untuk mengurungkan niat suci. Sebuah bisikan segar yang menghantarkanku pada kesadaran.  Sahabatku memang  menjadi pionir nikah muda di kampus kami. “pernikahan kami pun masih seumur jagung” katanya. tapi tidak ada salahnya aku mendapat secuil pelajaran berharga darinya.

“Ya, Mistaqon golidzon.  Perjanjian yang kuat. Dalam alqur’an istilah tersebut hanya terulang tiga kali. Pertama, dalam surat Annisa ayat 21, dalam surat tersebut berbicaramengenai suami istri yang mengadakan perjanjian yang kuat dalam sebuah pernikahan. Kedua,Annisa ayat 154 tentang perjanjian Allah dengan kaum nabi Musa A.S. ketiga, Surat Al-Ahzab Ayat 7 tentang perjanjian Allah Swt dengan para nabi dalam kewajiban menegakan AjaranNya[1].

“Mungkin kau sudah tau ke mana benang merah Ayat tersebut?” Dia mengangkat Alis mata. Aku bergeming.

“Dalam pernikahan, perjanjian ini hampir sama levelnya dengan perjanjian dakwah para nabi terhadap umatnya. Sebuah nilai yang agung yang mesti kita junjung.”

“Dulu kau punya target nikah?” tanyaku  memotong

“Untuk bab pernikahan memang sudah saya  target sejak semester 6 bahwa di semester tersebut harus sudah nikah.”

“Orang tuamu mengizinkan?”

“Alhamdulilah ketika mengajukan niat tersebut orang tua mengijinkan. Walaupun ada tanggapan kurang enak dari beberapa saudara ‘Ah, pentil keneh[1] tapi tekad bulat untuk menikah  tak bisa dihalau. Karena saya yakin berada dijalan yang benar. Finally, Alhamdulilah doaku terjawab, di akhir semester 6 aku..kau tau sampai sekarang aku dikaruniai satu anak. Pernikahan bukanlah jalan akhir dari sebuah keputusan, justru permulaan mencapai kehidupan–sejauh yang saya alami-”

Belum bisa berkomentar banyak. Sejauh ini lebih baik aku menelan bulat nasihat ini.

“Masih ada keraguan, Sob?” lanjutnya. Tarikan nafasku belum cukup memberi luang untuk menjawab pertanyaannya.

“Dulu  aku pernah mengalami Demam Nikah , seperti  yang kau rasakan saat ini. Mulai dari keraguan materi, kesiapan mental yang bisa mengendur saat mendekati hari yang di nanti. Bahkan ujian berupa sesosok mantan pacar yang ingin kembali. Untungnya, kau tidak pernah pacaran, jadi beban ujianmu agak berkurang untuk yang satu itu, he…” lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.

“Aku seperti di gantung oleh calonku, Ren”

Rendi  mengernyitkan kening. “Digantung?”

“Sekantong mahar sudah kupersiapkan, Sekarung izin pun sudah kupegang. Aku nggak ngerti, kadang dia enggan bila membincangkan masalah ini. Kendati begitu, aku tau dia tak ingin aku tinggalkan”.

Dia mengubah posisi duduk langsung menghadapku.

“Kalau saja dia tidak ingin nikah denganku, jauh hari mungkin dia menolak  lamaranku. Dan  kau tau mengapa aku masih setia dalam  penantian ini?”

Rendi masih menebak  ucapanku. “Bagiku, menikahinya adalah cita-cita mulia, Ren. Ketegaran, kemandirian dan cita-cita yang dia junjung amat berbeda dengan kebanyakan anak yatim lainnya.  Cantik? Kaya? It’s not the reason for me to get married. Liku hidupnya membuatku kagum. Aku ingin  dia menjadi amalanku  yang tak pernah putus dengan cinta dan kasih sayangku seumur hidup. Tanpa hijjab”

“Aku iri padamu, Sob. Di usiamu yang masih muda, banyak ikrar kehidupan yang ingin kau capai. Aku percaya kau punya jalan sendiri menjembatani perjuangan ini.  Aku percaya janji Tuhan, kualitas diri yang baik (mumpuni dalam berbagai hal: keimanan dan ikhtiar), maka Dia akan memberikan reward  sesuai kualitas diri yang ada pada diri kita. Hanya kesabaran dan do’a yang tak putus yang akan menolong.”

“kau siap patah hati?”

“Apa?? Ya nggak, lah.”

“Kita lihat, kebaikan macam apa yang akan Allah berikan padamu, Sob. Walaupun pahit, obat diciptakan sebagai penyembuh. Hakikat dari segalanya, tergantung pada yang Maha Berkehendak.”

“Doakan aku, ya?”

“Amin.  Insya Allah.  Barakalah fikk!!”

~~~

Bogor, 11 Oktober 2012

 


[1] Membingkai Syurga Dalan Rumah Tangga, Aam Amirudin dan Ayat priyatna:2009

[2] Pentil keneh= masih kecil, belum cukup dewasa

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

2 Responses to Nikah Hanya sekedar….

  1. vinihujan says:

    Kasih jempol aja deh … 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: