Memupuk cinta merindu mati

Di seberang sana masih terlihat gundukan  tanah basah berwarna coklat. Sore ini hujan seakan turut mengendus  suasana hati kami. Berdiam diantara rumput basah dan batang pohon yang masih merindui sisa-sisa hujan.

“Seberapa besar kau membenci seseorang? Seberapa besar kau mencintai seseorang, Yash?”

pertanyaan tanpa jeda.

“Entahlah aku tak bisa mengukur hal itu. Saat aku mencintainya, seolah ada kekuatan yang tak bisa aku dapatkan selain senantiasa ingin bersamanya. Saat aku membenci seseorang saat itulah aku ingin menebasnya dengan pedang. keduanya tak jauh beda menguras pikiranku. ”

Hening. Sejurus kemudian terdengar helaan nafas yang dalam.

“Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci. Baik saat kita bahagia ataupun saat kita menderita.” Katanya.

“Kau tidak sedang ngawur?” aku bersedekap menatap rumput basah yang masih setia dengan sisa-sisa hujan.

“Ada satu hal yang tidak bisa kita hindari saat ini, Yash.” Dia tersenyum getir. Menatap dalam  yang ada di depannya. “Kematian.”

Aku menoleh. “Tak lucu, Ren. Kau menakutiku.”

“Kau boleh setuju atau tidak, Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci. Baik saat kita bahagia ataupun saat kita menderita.” Dia mengulangi kata-kata itu lagi.  “Saat bahagia bersama orang yang kau cintai, yakinlah suatu saat dia akan meninggalkanmu atau kau yang meninggalkannya. Kematian amat dekat di sekitar kita. mencintai bukanlah cara untuk kita menghindari kematian. Tapi meyakini adanya  kematian akan membuatmu lebih mencintai apa (siapa)  yang kau cintai. Dan kau tak perlu risau jika kau sedang membenci seseorang, tak lama lagi diantara kalian akan saling meninggalkan. tapi aku… aku tak ingin mati dengan jiwa penuh kebencian.”

“Apa yang akan kau lakukan sebelum kematian itu menghampirimu, Yash” aku bergeming, tak yakin dengan dengan jawabanku

Selang beberapa detik aku bertanya, “kau?”

“Aku?” dia menghela nafas.  “ Memupuk cinta dan merindu kematian. Memupuk, menyebarkan rasa cinta kepada sesama dan mengingat mati rasanya sebuah keharusan yang harus aku perjuangkan saat ini. Karena pada akhirnya masing-masing dari kita akan dipanggil oleh-Nya.”

Hujan sudah reda. Kami Lekas meninggalkan pemandangan yang masih terselimuti basah. batu nisan yang tak gegar dikepung hujan itu masih menyimpan nama Salah satu sahabat karib kami. Ibnu Saleh. Aku tengadah melepas sore ini. Ya, Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci.

Bogor, 8 November 2012

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: