Jeli sejenak

 

gambar diambil dari rendyanggara.wordpress.com

Sepucuk surat yang kunantikan sudah tiba. Walaupun saat ini mudah untuk  mengirim pesan via email dalam hitungan detik, namun tulisan tangan Ayah adalah energi yang serta merta membuang semua keluhku. Aku membukanya perlahan.  Rasa rindu akan energi tulisannya sudah bergumul setip saat.

Ayyash, aku selalu berdoa untuk kebaikanmu. Maka  aku yakin bahwa kau sedang baik-baik dan harus baik-baik walaupun (jika ada) satu haru yang kau sembunyikan.

Ayyash, pernakah kau tahu ada sesuatu di sekeliling kita yang begitu banyak orang mencarinya? Banyak orang mendambakannya? Banyak orang rela membuang rasa malunya demi mendapatkan sesuatu berharga itu? Tahukah kau apa itu?

Uang? Bisa jadi. Tapi bukan segalanya. Jabatan? Mungkin Iya. Tapi terlalu sempit jika hidup hanya untuk mengejarnya. Wanita? Mungkin aku setuju. tapi itu pun bukan yang kita tuju. Aku akan menceritakan suatu kisah tentang seekor lumba-lumba kecil padamu.

Di sebuah laut lepas, hidup seekor lumba-lumba kecil yang tak punya keluarga. Ayah-ibu Si lumba-lumba kecil sudah tiada. Walaupun  lumba-lumba kecil  sempat iri dengan beberapa keluarga lengkap lainnya, namun Ia percaya bahwa tidak semata-mata dewa laut menakdirkannya hidup tanpa ayah dan ibunya, kecuali akan ada takdir baik yang menyapanya.  Si lumba-lumba kecil belajar mengarungi hidup dengan banyak belajar kepada ikan-ikan di sekelilingnya tentang mempertahankan hidup.

Suatu hari ketika sedang mencari makan, secara tak sengaja Ia mendengar beberapa ekor paus yang berbincang mengenai air. Air sebagai kehidupan dan kebahagiaan semua ikan.

“Air?” si lumba-lumba kecil penuh tanya. Karena sepanjang hidup, kata “aIr” baru Ia dengar saat ini. Si lumba-lumba kecil tidak lantas  menanyakan lebih lanjut tentang air. Sejurus kemudian  Ia melanjutkan mencari makan.

Selama perjalanannya, kata air begitu lekat dalam benaknya.

“Air, air, air. Ikan seperti apakah air itu” pertanyaan itu kini mulai meluapNamun apa daya, Ia tak berani menanyakan lagi kepada si paus yang mengerikan itu. Maka Ia memtuskan untuk bertanya pada ikan-ikan yang Ia temui.

“apakah kau tahu air?” tanyanya ke pada seeokor ikan Tuna.

“candaan yang tak lucu” Jawab ikan itu sambil berlalu.Si lumba-lumba kecil hendak menyusul, namun Ia urung karena mungkin Ia bisa mendapatkan jawaban dari ikan lainnya.

Sayangnya, Si lumba-lumba kecil  tak mendapatkan jawaban yang pasti Sepanjang bertemu dengan beberapa ikan. Rasa penasaran makin bergumul di dadanya. Ada satu ikan yang memberitahu jika Ia ingin jawaban yang pasti, yaitu  bertemu dengan seekor ikan bijak di sebelah selatan samudera dan jarak dari tempatnya kini cukup jauh.

Dengan penuh keberanian maka Ia putuskan untuk   mencari si ikan bijak itu.

Kubuka lembaran kedua.

Berpuluh-puluh kilometer Ia arungi samudera. Itu pun tak mudah. Bahaya mengancam setIap perjalanan. Namun Ia hadapi dengan penuh keberanian dan keyakinan. Sampai akhirnya Ia bisa menemukan si ikan bijak itu.

“Apa yang kau inginkanlumba-lumba kecil?” si ikan bijak itu ternyata sudah tua.

“Aku ingin mencari di mana air itu berada. Yang kata semua ikan adalah sumber kehidupan kita?” jawab si lumba-lumba.

Si ikan bijak  tertawa terbahak. Lalu secara tiba-tiba menghentikan tawanya. “Benar kau ingin tahu?”

“Berpuluh kilometer aku menemuimu untuk mendapatkan jawaban itu”

“Baiklah. Perhatikan baik-baik. Apakah kau menyadari kau hidup karena apa?”

“aku…aku karena laut.”

Ikan bijak itu tertawa lebih lepas. “Bodoh! Laut hanyalah tempat kau berpijak wahai lumba-lumba kecil. Air yang kau cari adalah yang kau hirup selama ini. Air yang kau tanyakan adalah yang membuatmu bisa bertanya padaku dan bertemu denganku sampai saat ini.”

Awalnya si lumba-lumba kecil tak percaya. Namun Ia teringat pesan ikan yang Ia temui bahwa apa yang dikatakan si ikan bijak harus Ia percayai. Si lumba-lumba kecil sesaat tertunduk. Lalu Ia menyeringai ke arah si ikan bijak.

“Terimakasih ikan bijak atas jawabanmu.” Ia  hendak pulang walau belum puas dengan jawabannya.

“lumba-lumba keci!l” Ia tertahan oleh suara panggilan. “Sumber kehidupanmu ada di sekelilingmu. Jelilah, maka kau akan bahagia”. Si ikan bijak tersenyum. Si lumba-lumba pun kembali pulang menjemput kebahagIaan yang Ia dambakan.

Ku kira sudah habis. Ada sisa satu lembar lagi yang tertinggal di dalam amplop.

Ayyash, sebenarnya kebahagian itu ada di sekelilingmu. Orang-orang di sekitarmu adalah sumber kebahagiaan. Materi bukanlah tolak ukur kau meraihnya. Membahagiakan saat kau sedang berduka adalah mulia. Walaupun hanya dengan senyum. Jika hal yang kecil saja bisa membuat orang di sekelilingmu bahagia, maka Tuhan pun akan memberimu sesuatu yang berlimpah melebihi senyum yang kau berikan.

Ayyash, apa yang kau tanam adalah apa yang kau tunai. Bersegeralah menanam sesuatu yang bisa membuatmu bahagia kelak.

Ada yang mengalir di sudut mataku. Terima kasih ayah. Aku akan menjemput kebahagiaan itu. Aku masih ingin merindui catatan-catatanmu. Tuhan, terimaksih. Kau memberi aku hati agar aku tidak mati.

-Bogor, 9 November 2012-

 

 

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

2 Responses to Jeli sejenak

  1. egi says:

    ceritanya mampu membuat butiran air disudut mata :’)
    salam kenal sang penulis…
    Semoga ayah anda menjadi salah satu org yg mulia , dan kau juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: