Beri Anak Pilihan Bukan Larangan

“Hei, Nak, jangan lari-lari! Diam!”

            Si anak tidak menghiraukannya. sang Ibu mendengus kesal, mengeluarkan tanduk kemarahan menyaksikan anaknya yang masih terus berlari-lari di sekitar tempat duduk apotik. Dengan sigap  menghampiri anak lelaki yang bermain-main dengan seorang anak lain yang senasib menunggu gilirannya mendapatkan obat.

“susah di atur, ya, kamu! Dasar Nakal!” 

Pernahkah anda melihat para orangtua peristiwa semacam itu? kerap kali saya menyaksikan masih ada beberapa orangtua yang tidak mengerti arti “larangan” ke pada anak. Terasa miris menyaksikannya. Apalagi jika melihat umur yang masih satu tahun atau masih senang-senangnya berlari-lari, bermain-main, dan melihat-lihat sekelilingnya dengan penuh penasaran dan takjub.

Cline dan Fray pernah mengatakan bahwa sebuah  pelarangan kepada anak tanpa disertai dengan cinta dan logika hanyalah pengikisan konsep diri belaka. Karena ketika kita mengeluarkan perintah yang saklek seperti “ Potong rumput!”, “Diam!”, “Jangan ke mana-mana!”, “cepat mandi! Sudah besar masih disuruh-suruh!” apalagi  disertai suara yang tinggi hanyalah mengundang pertikaian.

Terus bagaimana cara melarang anak tanpa dia merasa dirugikan dengan sikap para orang tua yang seakan-akan seperti komandan militer? Atau bagaimana anak bisa memutuskan dirinya untuk berbuat sesuatu?

Kuncinya, menurut Cline dan Fray adalah memberikan pilihan bukan larangan. Apa salahnya mengganti kalimat larangan dengan sebuah kata yang positif. Mengganti larangan dengan kalimat mengajak anak untuk berfikir. Kita bisa menggunakan kalimat:

  1. Nak, apakah tidak sebaiknya menyelesaikan pekerjaan rumahmu dulu, atau kamu bermain tapi PR-mu tidak akan selesai?
  2. Ibu akan senang pergi bersamamu setelah kamu mandi.
  3.  Kamu boleh makan apa saja yang tersedia sekarang, atau kamu boleh menunggu dan melihat, apakah makanan berikutnya mengundang selera atau tidak.

Lanjut Cline dan Fray, dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, anak hanya akan memiliki sedikit kesempatan untuk menentang. Mereka sibuk memikirkan beragam pilihan yang ditawarkan, dan konsekuensi apa yang muncul dari pilihan-pilihan tersebut. Dengan menggunakan kalimat berpikir, kita bisa menetapkan batas perilaku anak, tanpa memerintahkan secara langsung mengenai apa yang harus dilakukan.

Gambar dari sini

Bandung, 9 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: