Bus dan Satu Cerita

Kerinduan bertemu anak-istri sudah tak tertahankan.Tapi belum separuh perjalanan pun jarak yang akan kutempuh. Masih menunggu bus yang baru-baru ini mulai beroperasi. Sudah hampir setengah jam aku menunggu bus  Elang-Cibiru yang menuju elang. Memang sih Selain murah dan pemberhentiannya tidak sembarangan, karena disediakan shelter, bus yang satu ini memang memerlukan kesabaran. Entahlah kenapa terasa lama, tapi jujur  sekarang aku baru mau mencoba armada tranportasi yang baru ini. Panas pula.

“Ayyash!” aku kaget. Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik badan.

“Tirai… kau, kukira siapa.” aku tersenyum.  Sedikit menelisik apakah benar Dia temanku.

“Nunggu bus Trans juga?” tanyaku

Tirai mengangguk.

“Nah akhirnya datang juga” Aku menunjuk bus tiga perempat berwarna biru itu, sudah mulai tampak berbelok di bunderan Cibiru.

Bus sudah berhenti di depan shelter. Kami naik diikuti beberapa orang yang sudah menunggu dari tadi. Di bus ini ada 17 tempat duduk  dan 36 pegangan untuk penumpang yang berdiri.  Untunglah masih tersisa tiga kursi kosong di bagian belakang. Aku mengambil dekat jendela. Tirai mengikutiku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Bus melaju siap melintas jalanan soekarno-hatta yang panjangnya 30 km ini.

***

“Kok Suamimu nggak ikut, Rai?” seketika Tirai terdiam.

Tirai memang salah seorang teman semasa pesantren. Dia  menikah dengan Rasyan yang masih satu kelas dengan kami. Mereka pacaran sejak Aliyyah (setingkat SMA).  Banyak gunjingan tentang hubungan mereka, karena di pesantren kami tidak diperbolehkan pacaran. Kecuali langsung saling menghalalkan alias menikah.Tapi kata mereka takkan menikah kecuali nanti lulus Aliyyah.

“ke laut” jawab Tirai dengan santai

“Maksudmu?” tanyaku lagi

“Aku sudah…bercerai”

“Ah, kau bercanda?”

“Tepat!” Dia tersenyum satir. “kautakkan percaya”

Sorry, Tirai.” Aku merasa menyesal menanyakan itu.

Dia mengangguk

“Nggak apa-apa, kok, nyantai aja”

Tidak ada kecocokan lagi diantara kita. Begitulah jawaban klise yang biasanya dilontarkan seseorang yang sudah bercerai saat ditanya tentang perceraian mereka. Tapi aku berusaha tak akan menanyakannya pada Tirai.

“Memang semuanya terlalu singkat, Yash” kata Tirai tiba-tiba. “Seperti kebanyakan pasangan lainnya, kehidupan kami selepas menikah sangat bahagia. Dan dunia milik berdua itu nyata adanya…pada saat itu” Lanjutnya

“Boleh tahu kenapa semuanya bisa terjadi?” tanyaku akhirnya tak tahan menahan penasaran.

“Semuanya kandas karena sebuah komunikasi yang tak sejalan, prinsip rumah tangga dan intervensi keluarga (orangtua) yang begitu kentara. Pertama mulai dari konflik saat dia dikuliahkan orangtuanya, bukan mencarikan pekerjaan untuknya. Sebenarnya aku juga sudah mulai ada firasat kalau ini enggak akan bener. Apalagi, mertuaku tanpa minta persetujuan dariku langsung main kuliah. Mertuaku  memberi pilihan antara kerja atau kuliah. Awalnya aku  mau  kuliah,  tapi dipikir lagi…enggak ada salahnya kerja. Akhirnya itulah keputusan yang aku ambil. orangtuanya senang, mungkin karena menurut mereka bisa bantu buat uang kuliahnya Rasyan.”

“Aku kerja-dia kuliah. kami melakukan aktivitas kami masing-masing. Beberapa minggu masuk kuliah dia sedikit berubah, entah karena pergaulan atau apalah yang jelas ada perubahan sikap negatif yang signifikan yang seharusnya tidak dilakukan  oleh suami terhadap seorang istri. Dan terbukti dari sikapnya yang mulai menjauh dari hari ke hari. Entahlah,  Mungkin bosan atau jenuh. Hal yang semakin membuat aku bertanya-tanya karena dia keseringan menyendiri baik sedang chatting via sms atau pun Facebook. Aku berusaha bertanya pada Rasyan barangkali aku punya salah. Aku mencoba mendekatinya dengan komunikasi yang intens, tapi tak ada tanggapan yang masuk akal. Bila pun aku memulai mencairkan suasana, sebuah anggukan dan kata ‘ya-tidak’ adalah sebuah pernyataan yang tepat baginya.”

“Maaf, aku memotong. Aku masih belum mengerti kenapa Rasyan kuliah bukan kerja?” tanyaku.

“sudah kubilang tadi, orang tuanya saklek menguliahkan dia dan menyuruhku bekerja. Dan in yang aku benci dari Rasyan adalah  tak punya sikap tegas sebagai suami. Jujur aja, Yash, antara aku, mertua dan orang tuaku tak punya hubungan baik.”

“Jadi, dulu siapa yang memutuskan agar kalian segera menikah?” tanyaku lagi

“kakek dan nenekku. Tentunya dengan persetujuan orangtua. Kautahulah gimana kondisi kita saat itu. Aku pun sempat  bimbang karena terlampau muda untuk menikah. Apalagi Rasyan, kedewasaannya tak selebat janggutnya”

Aku hanya mengangguk.

“Bisa kaubayangkan betapa sakitnya bila istri bekerja dan suami seperti tak punya beban hidup sedikit pun. Waktu itu Aku kerja di sebuah perusahaan sebagai Akuntan di pabrik tekstil. Tak ada permasalahan dalam pekerjaanku. Masalahnya hanyalah di rumah. Rasyan sudah jarang menginap di rumah. Saat kutanya mengapa tidak pulang, dia mengaku menginap di rumah teman untuk mengerjakan beberapa tugas. Aku percaya. Tapi seringnya menginap di rumah orang lain tanpa pemberitahuan kepada istri menimbulkan kecurigaan. Aku sudah berusaha untuk terbuka ke pada Rasyan tentang pekerjaanku, namun sebaliknya dia tak pernah sekali pun menceritakan apapun tentang aktivitasnya. Jika awal bulan,  hanya gaji kerja yang Rasyan tanyakan. Bahkan Untuk memenuhi ‘kepuasan’ pribadinya pun tanpa ramah tamah terlebih dahulu”

“Aku sering menangis, bahkan aku pernah diusir jam 1 Dini hari karena tangisanku menggangunya. aku tak bisa menahan kecurigaanku, saat Rasyan tertidur aku selalu membuka inbox-outbox smsnya. Sudah kosong. Sebenarnya aku berusaha untuk menghindari kecurigaan ini, namun selalu tak berhasil karena sikapnya yang makin menjadi dengan berbuat kasar terhadapku. Aku sempat menanyakan secara terang-terangan apakah Rasyan sedang menyukai perempuan lain. Namun jawabannya amat tak pantas bagi seorang pemimpin rumah tangga, ‘wajarlah aku suka sama cewek, berarti masih normal ‘kan?’ jawabanya yang sangat menyakitkanku”

“Puncaknya di malam Idul Adha, saat dia berhasil menamparku, aku kabur ke rumah orang tuaku. Alih-alih dia menjemput, malah membawa seorang perempuan dan tidur bersama di tempat aku dan Rasyan sering tidur”

Gila! Separah itu tingkah laku Rasyan?

“Dari mana kamu tahu Rasyan membawa seorang perempuan?” Tanyaku.

“Ada seorang temannya, entah iba atau kasihan, yang memberitahukan lewat Direct message Facebook bahwa Rasyan tadi mengajak salahsatu temanya ke rumah kontrakan kami. Walaupun jauh dari Nagreg menuju Rancaekek, Aku bergegas melajukan motor matic menuju tempat tinggal kami untuk membuktikan kabar tak sedap itu. ”

Dia menghela nafas. Ceritanya sedikit membuatku bergidik.

“setelah sampai, nampak motor Rasyan yang di parkir di luar. Sepuluh langkah menuju rumah aku sengaja mematikan motor dan mendorongnya.  Aku mengetuk pintu dengan lembut. Dia membuka pintu bertelanjang dada dan hanya memakai sarung. Rasyan terkejut. tanpa menghiraukannya aku masuk dan dia pun sempat menahan langkahku. Aku menuju kamar dan ternyata….”

Tirai menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan selembar tissue dari dalam tasnya. Aku masih menyeksamai apa yang dia ceritakan. Nada dering handphone Tirai berbunyi. Ia membuka sms dan membalasnya.

“Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku bilang pada Rasyan bahwa jika dia belum berubah, jangan salahkan aku jika aku pun berbuat hal yang sama. Aku pun mulai dekat dengan seseorang di perusahaan tempat bekerja karena sering curhat tentang rumah tanggaku yang di ujung tanduk. Salahku, cara ini awalnya hanya untuk membuat dia cemburu dan berharap dia berubah tapi ternyata dia menjadikan alasan ini untukk bercerai. Aku terjebak. Dan akhirnya kami bercerai. Beberapa bulan setelah bercerai teman curhatku dulu melamarku. Dia sayang padaku dan berjanji takkan mengikuti jejak mantan suamiku dulu.”

“Pelajaran berharga buatku, Rai.” Kataku

“Ya, Yash, bangunlah rumah tanggamu dengan saling setia dan percaya. Oya, jangan bilang siapa-siapa, ya?”

“Istriku, boleh?”

Dia mengangguk tersenyum.

“Aku turun di shelter ini, Yash. Salam, ya, Sama Istri” Dia beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.

Setelah berhenti di shelter, bus ini melanjutkan lagi perjalanannya. Entah berapa shelter lagi menuju terminal leuwi panjang. Masih terngiang apa yang Tirai ceritakan. Rasa rindu bertemu anak dan istri tiba-tiba kembali meletup. Aku berjanji untuk mencintai kalian selamanya.  

*)Gambar diambil dari Blogdetik.com 

 

 

 

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: