SEPATU

Dugaanku keliru. Kukira dia hanya  seorang Mahasiswa kaya, pintar,  yang hanya mementingkan nilai-nilai akademik dan tak tahu arti peduli terhadap sesama. Dugaan itu membuatku malu sendiri. Aku memang tidak dekat dengan Rudi. Entahlah, mungkin gengsi atau apalah. Hingga akhirnya satu kejadian menyadarkanku dari  sikapku yang takbaik ini.

            Hari itu tepat hari Jum’at. Percaya atau tidak, perkuliahanku hari Jum’at memang selalu mulai dari dari jam dua siang hingga jam delapan malam. Dan di jam tersebut kereta api terakhir yang harus kutumpangi menuju pulang. Makanya, aku selalu pulang lebih cepat sebelum perkuliahan selesai. Jika tidak begitu, ongkos naik kereta satu minggu mungkin terbabat habis untuk satu kali ongkos naik mobil Elp.

Biasanya aku berhasil tiba di stasiun sebelum kereta datang.  Untungnya jarak antara kampus dan stasiun hanya memerlukan lima menit untuk berlari dengan mengambil jalan alternatif Cibadak diteruskan ke jalan Dulatif. (Tidak terlalu membuat semua orang di dalam gerbong menutup hidungnya karena bau keringatku.)

Sialnya hari itu aku ketinggalan kereta. Entahlah, waktu itu apakah aku yang terlalu lamban berlari atau kereta yang terlalu cepat datang. Padahal aku sudah berlari dengan kecepatan seperti biasa.

Aku sempat bingung karena mungkin ongkos untuk naik kendaraan lain tidak akan cukup. Akhirnya aku kembali ke kampus dan mencoba untuk tidur di mesjid  malam itu.

Di kampus beberapa temanku sudah pulang. Rudi yang hendak bersiap menyalakan motornya melihatku.

“Ayyash, kamu belum pulang?”  tanya Rudi

“ emm, belum Rud. Saya ketinggalan kereta” jawabku agak malu

“Nggak naik mobil Elp?”

Aku menjawab seadanya. Ongkosku tidak akan cukup untuk naik mobil. Akhirnya Rudi mengajaku ke tempat tinggalnya di daerah Kopo. Awalnya aku menolak, tapi dipikir-pikir betul juga kata Rudi, besoknya ke kampus bisa bareng. Lumayan ngirit ongkos. Aku tersenyum dalam hati.

Aku ikut Rudi. Walaupun tidak memakai helm, namun perjalannku cukup aman di malam hari. kecuali malam minggu banyak razia. Dalam perjalanan   kami sempat saling bertanya walaupun apa yang aku dengar kadang tak terlalu jelas karena angin yang terlalu kencang dan apa yang Rudi katakan mungkin terhalang oleh helm. Beberapa menit kemudian aku sampai di rumahnya.

***

             Kadang kita terlalu underestimate kepada seseorang sebelum mengenal seseorang terlebih dahulu. Belum tahu seluk beluk apa pun mengenai seseorang karena terlampau egois bisa menimbulkan rasa iri dalam hati. Mungkin itu yang kualami terhadap Rudi yang ternyata dulunya satu nasib denganku sekarang. Di rumah ini orangtuanya baik. Jamuan makan yang membuatku memperbaiki gizi. Pepes ayam, Pepes Jamur, macam-macamlah pokoknya yang jarang kutemui di kosanku.

Selepas makan, aku tiduran meluruskan punggungku.

“Pempek Palembang?” tanyanya

“Ya, tapi bukan miliku. Aku hanya sebagai pegawai. Untungnya bossku peduli terhadap pendidikan. Jadi aku dikasih jadwal hanya empat hari, sisanya diganti sama temanku si Hendra.”

“Terus ongkos sehari-hari dari mana?” Tanyanya lagi

“Dari uang transport lima ribu perhari yang aku kumpulkan selama hari kerja.”

Dia mengangguk.

“aku iri sama kamu, Rud. Kau menguasai bahasa inggrismu dengan fasih.” Kataku

“Semua yang aku dapat memang tidak instan, Yash. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kamu menguasai sesuatu. Aku memang sejak SMP menekuni bahasa inggris. Dulu bahasa inggrisku masih blah, bleh, bloh seperti kamu. Dan aku juga mengalami rasa iri terhadap teman-teman yang lebih expert. Tapi iriku ini kupacu dengan terus belajar dan praktek. Dengan keberanian yang aku punya, aku ingin berubah, dan aku melawan ketakutanku”

Betul Juga.

“kita sudah menjalani satu semester. Tapi aku baru tahu siapa kamu. Keterlaluan.” Kataku

“udah, tidur sana.” Rudi menimpukku dengan bantal guling.

Malam ini penuh pelajaran berharga bagiku.

***

old-shoes

Sepatuku hilang!

“serius, Yash?” tanya Rudi

“Iya, tadi aku menyimpannya di sini” jawabku sambi mencari-cari di tempat sandal. Lalu aku mencarinya di balik pot-pot bunga  yang berdekatan dengan tempat sandal tadi. Aku pergi ke mesjid memakai sepatu karena tidak ada sandal lagi di tempat Rudi.

Rudi pun heran. Katannya baru kali ini ada sepatu yang hilang. Dan, akhirnya tidak ketemu. Itu satu-satunya lagi. Ya sudahlah.

Akhirnya Rudi menawarkan sandalnya untuk aku pakai.

***

            “gak usah, Rud? Aku jadi nggak enak”

Sebelum ke kampus Rudi mengajakku ke sebuah Mall. Entahlah, kukira dia mau membeli untuk keperluannya. Karena saat kutanya memang ada sesuatu yang harus ia beli. Tapi ternyata dia mengajaku ke sebuah Toko sepatu.

“tapi, Rud…”

“udah ambil aja mana yang kamu suka. Mumpung aku lagi ada rizki lebih.”

Aku diam sejenak. Mataku mengitari rak-rak toko itu. Beberapa harga terpampang. Dan tentunya aku memilih yang lebih murah.

“Yang itu?” Tanyanya

Aku mengangguk. Bukan aku tidak ingin yang lebih bagus. Tapi aku sadar diri. Aku tidak ingin memanfaatkan orang lain dalam kesusahanku.Aku mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.

“nyantai, aja Bro”

Katanya tersenyum seraya menepuk pundakku.

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8 Bogor, 2013

*) Gambar diambil dari Sini

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: