Terimakasih Abah*)

Singapore Changi Airport, Menuju National Library Board.

Mulutku lebih rapat dari yang kuperkirakan, aku tahu akan menjadi hal bodoh karena hanya menambah beban pikiran Abah.  Tapi, aku coba berbicara padanya barangkali untuk sekali saja Abah punya sisa uang hasil jualannya. Setidaknya Abah mau memaksakan mencari atau meminjamkan  untukku.

“Bah…” Aku menyimpan tas gendongku setelah mengucapkan salam. Seragam Putih-Merah masih kukenankan. Irama ketok-ketok beradu dari palu, paku dan pintu gubuk kami yang ditambal Abah. Sesekali kuusap peluh sebutir jagung di keningku.  Untuk masalah ini degup jantung lebih kencang tenimbang  aku mematahkan alat pancing Abah. Ketika itu ada seekor tikus yang masuk ke dalam rumah, aku mencari benda yang terdekat denganku untuk  memukul seekor binatang yang selalu mencuri jatah makananku. Dengan penuh dendam aku memburunya. Sialnya, aku taksadar bahwa benda patah yang aku pegang adalah alat pancing yang selalu digunakan untuk mata pencaharian kami. Dan yang membuatku makin masygul adalah tikus itu berhasil kabur.  Abah hanya diam ketika mengetahui hal itu, tapi aku tahu kalau dia sedang marah.

“Bah, besok ada karyawisata ke museum kota”.  Katakku sambil menunduk malu serta iba .

Abah tertahan sejenak ketika aku selesai berbicara. Palu dan paku masih dipegangnya. Taklama setelah itu dengan tenang dia meletakan perkakasnya. Dia duduk disampingku dan memberikan air teh di cangkir yang terbuat dari batok kelapa.

“Kau ingin ikut, Nak?” Tanyanya setelah aku meneguk air. Aku mengangguk dengan sedikit GEER yang mendera. Pasalnya takbiasa Abah menannyaiku seperti itu.

Aku melirik Abah yang  menatap kosong ke depan. Berharap beberapa kalimat yang akan membuatku senang keluar dari mulut Abah.

Sing sabar, tapi dina hiji poe…” katanya dengan tenang “Mun hidep boga pangabisa, mangka hidep bakal bisa nyaba kamana-mana. Bersabarlah,suatu hari, jika kaupunya kemampuan (ilmu bermanfaat) maka kaubisa pergi ke mana pun.” Abah menatapku

Aku diam sejenak. Betulkan, aku hanya membuatnya menambah beban. Takbisa dipungkiri ada kecewa yang aku rasakan. Untuk kesekian kalinya aku harus menelan pil pahit ketidakikutsertaanku berkayawisata.

“Percayalah, Nak” lanjutnya sembari mengusap rambut. “Aku yakin kau akan menjadi manusia yang dibutuhkan setiap orang karena orang membutuhkanmu, karena ilmumu, karena sikapmu” Ia memelukku dengan lembut. Mencium kepalaku tepat di atas ubun-ubun. Ada sesuatu merambat hebat ke dalam hati dan berbulir air mata pun mengalir. Seketika itu kekecewaan yang aku rasakan tiba-tiba terhapus ketika airmata itu dihapus Abah.

“Satu lagi, Nak…” lelaki paru baya itu tersenyum “Tong hirup ciga kurupuk, tarik kadanguna, saeutik gizina. Jangan hidup seperti kerupuk, keras bunyi sedikit gizi” Entahlah, belum sempat kuserap makna kata terakhir itu. Pelukan itu terlalu berharga untuk dilepaskan

***

                “Sorry, Sir” kata supir yang salah satu panitia penjemput mengagetkanku.

“oya, gimana?” tanyaku sambil meminta maaf.

“Anda melamun , ya, Sir.” Supir itu tersenyum, “kita sudah sampai”

“oke Terimakasih, Ya.”

“sama-sama”  balasnya dengan ramah.

Beberapa panitia penyelenggara acara sudah ada diluar dan menyambutku dengan hangat. Kesekian kalinya aku mengisi seminar motivasi. Dan kali ini, ribuan peserta hadir di seminar internationalku. Terimakasih ya Allah. Terimakasih Abah.

 

*)Terinspirasi dari status Tatan Ahmad Santana di sini

 

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: