​JALAN UNTUK GENERASI PELOPOR PERUBAHAN

Oleh; Mufti Fauzi Rahman

Judul : Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali

Penulis : G.sutarto & J. Sumardianta

Cetakan     : Pertama, Maret 2017

Halaman : xxxvi + 288 Hal.

ISBN : 978-602-291-373-3
Menjalani hidup yang tidak sesuai keinginan memang pada akhirnya menjadi sebuah pilihan. Bagi sebagian orang, yang menjadikan hidupnya sebagai sebuah pembelajaran, maka hal tersebut adalah sebuah proses menanam benih kebahagiaan. Merubah keterbatasan menjadi sebuah pemicu untuk mengejar takdir kebahagiaan memang tidak selalu mulus. Namun, di akhir, seorang pejuang akan tahu arti ketidakmulusan tersebut adalah pembelajaran mental.

Adalah Sutarto adalah seorang anak desa yang mempunyai harapan dan cita-cita untuk menjadi seorang terdidik dan pendidik. Di kampungnya, pada masa itu, pendidikan belum menjadi sebuah kebutuhan. Di saat  Sutarto memilih pendidikan sebagai prioritas, teman sebayanya masih terjebak dalam budaya menikah usia dini. Sutarto mempunyai prinsip sendiri mengenai pentingnya pendidikan, bahwa hanya sekolah yang bisa mengubah nasib. 

Pada tahun 1970, Sutarto mengenyam bangku Sekolah Dasar. Di desanya, Karang anyar- Jawa tengah belum ada fasilitas pendidikan yang memadai, seperti kelas terlebih bangunan sekolah. Proses belajar-mengajar dilakukan di rumah-rumah tokoh masyarakat setempat seperti rumah kepala desa dan sekretaris desa. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala bagi Sutarto untuk terus bersekolah. Bahkan, dari sekolah ia menemukan pemicu cita-citanya untuk terus melanjutkan ke jenjang selanjutnya. “ Hasil 

Saat memasuki masa pendaftaran SMP, Sutarto harus menelan pil pahit sendiri. Ia harus menyelsaikan persyaratan dulu agar bisa masuk ke SMP. Berjarak 10 km dari rumahnya, ia terpaksa harus bulak-balik melengkapi persyaratan. Bapaknya tidak bisa berbuat banyak karena hal tersebut keinginan Sutarto. Mau sekolah atau tidak terserah Sutarto.  Sebagai seorang remaja yang di desanya belum ada yang masuk SMP, ia senang karena akhirnya bisa masuk SMP. Di sekolah jenjang menengah ini, Sutarto pun banyak diajari berbagai macam hal. Termasuk soft skill. Sutarto diajari membuat prakarya berupa membuat sabun detergen. Kemampuan tersebut ia jadikan sebuah kesempatan untuk berbisnis kecil-kecilan dengan menjual ke ibu-ibu dusun. Dengan bungkusan  kecil, ia akhirnya banyak mendapat keuntungan. Termasuk keuntungan untuk tidak membeli sabun.

 Selepas berakhir masa SMA, orangtuanya mendaftarkan Sutarto masuk SPG (sekolah pendidikan Guru). Sayangnya, Sutarto enggan dimasukan ke sekolah tersebut. Orangtuanya menyarankan suapaya selepas SPG, ia akan langsung mengajar. Namun, Ia  bersikukuh tetap memilih SMA. 

Sutarto punya prinsip, ia ingin Menjadi seorang Transformer (pelopor perubahan) bukan menjadi transmiter (penerus perubahan) (Hal: 66). Dan dari prinsip inilah, ia terus-menerus belajar hingga perguruan tinggi. Kuliah di universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Berbekal dengan naluri bisnisnya, ia menggunakan kesempatan dekat dosen untuk menawarkan jasa. Ia menajdi supllier material bahan bangunan. Menawarkan harga murah dari toko lain saat salahsatu dosennya ingin membangun rumah. Keuntungan tersebut ia gunakan sebagai tambahan biaya kuliah.

Masih banyak sekali cerita lain yang tidak kalah menarik nan menginspirasi dalam bukunya G. Sutarto dan J.Sumardianta seperti kepergian ayah Sutarto, kemalangan yang berbuah manis: kelaparan,  kehidupan rumah tangga Sutarto dan lain sebagainya. Kisah yang diramu oleh J. Sumardianta menjadikan ceritanya mengalir. Bahasa renyah dan menggugah karena setiap bab di sisipi dengan cerita-cerita motivasi populer sebagai suplemen bagi pembaca. Sedikit masukan pula untuk buku ini, beberapa bagian kutipan penting akan lebih menarik dan gampang diingat jika dalam lembaran terpisah. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Bagi Anda yang masih berkeluh kesah dengan apa yang terjadi saat ini, buku ini cocok sebagai obat. Pengalaman yang penulis ramu, memperkaya nilai-nilai kebijkasanaan hidup.

Iklan

Perihal Mufti Aqosiya
mencoba membuat jejak dengan pintalan kata yang sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa

%d blogger menyukai ini: