Menjadi Secerdas Ali bin Abi Thalib

Keberhasilan dakwah Rasululloh SAW dalam memperjuangkan Islam  tentunya banyak dibantu oleh sahabat-sahabat beliau. Dalam kehidupan beberapa sahabat Rasulullah Saw mempunyai peran penting serta memiliki kelebihan masing-masing. Seperti Utsman bin Affan yang terkenal kedermawanannya, Umar bin khatab yang paling disegani oleh kaum quraisy, abu bakar yang bijaksana dan karismatik, juga  beberapa sahabat Rasulullah Saw lain pun yang tak kalah ambil bagian penting dari perjuangan menegakan agama Islam yaitu Ali Bin Abi thalib yang terkenal dengan kecerdasannya.

Sayyidina Ali Ra merupakan anak pamannya sendiri yaitu Abu Thalib. Beliau termasuk salah satu assabiqunal awwalun dari kalangan anak-anak. Sejak usia 6 tahun Ali sudah bersama Rasulullah Saw. Maka takheran kecerdasan  Ali  taklepas dari gemblengan  pendidikan Rasulullah SAW.

Kecerdasan Sayyidina Ali Ra. Meliputi berbagai macam disiplin ilmu, seperti Bahasa (Balaghah), ilmu Pidato (Khitabah), Ilmu Hukum (Fikih), Ilmu Tafsir (Hermeuneutika), Ilmu Ketuhanan (tauhid/akidah), Ilmu sastra (syair), ilmu tulis menulis, Ilmu sufi, Ilmu Perang,  Ilmu Etika (Akhlak) dan lain sebagainya. (Hal. 13)

Beberapa contoh kecerdasan sayyidina Ali Ra, seperti yang tercantum dalam kata pengantar buku ini, tentang beberapa orang yahudi yang bertanya beberapa hal kepada sayydina Ali Ra. Pendeta Yahudi bertanya “apakah induk kunci (gembok) yang mengunci pintu-pintu langit”. Lantas Jawaban Sayyidina Ali Ra “induk kunci itu ialah syirik kepada Allah, sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia syirik kepada Allah maka amalannya tidak akan naik sampai ke hadirat Allah. (hal.8)

Tentunya kecerdasan yang didapatkan Ali bin abi thalib tidak serta-merta datang sendiri. Kecerdasan yang beliau miliki adalah sebuah hasil dari keimanan dan ketakwaannya. Namun ada beberapa penunjang lainya yang menjadi sumber kecerdasan Ali bin abi thalib. Dalam buku ini dibahas tentang beberapa rahasia mengapa Ali bin Abi thalib dijuluki gudangnya ilmu oleh Rasulullah Saw. Tak hanya itu, di buku ini juga ada beberapa tips untuk mendidik anak supaya cerdas  seperti Ali bin Abi thalib.

sayangnya serasa ada yang kurang dalam buku ini tatkala tak ada pembahasan mengenai bagaimana kecerdasan sayyidina Ali Ra dalam berumah tangga atau dalam mendidik istrinya Fathimah Azzahra. Seandainya penulis memasukan pembahasan tersebut kiranya akan menambah lengkap dalam materi buku ini. Namun dibalik kekurangan tersebut, buku ini akan menjadi salah satu referesensi dan inspirasi bagaimana cerdasnya Ali bin abi thalib pada masa Rasulullah Saw sangat terasa sampai sekarang. Karena mau tidak mau kecerdasan Ali bin Thalib turut berkontribusi dalam penegakan perjuangan menegakan agama Islam.

                                                                —————-

Judul                     : Rahasia kecerdasan Ali bin Abi Thalib Si Super Genius

Penulis                 : Masykur Arif Rahman

Cetakan               : ke-1, April 2013

Halaman              : 204 Hal

Peresensi            : Mufti Aqosiya

Ramadhan Terakhir Ludwig

Judul               : Ramadhan Terakhir Ludwig

Penulis             : Mahab Adib-Abdillah

Penerbit           : Diva Press

Cetakan           : Ke-1, Maret 2013

Halaman          : 349 Hal

Peresensi        : Mufti Aqosiya

 Rey, bernama lengkap Kirayla Ayunda Hasnawati. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai seorang fotografer profesional di salah satu majalah potret Nasional di ibukota. Sebagai salah satu di antara 100 fotografer terbaik, Rey bekerja secara professional. Profesinya itu menuntut dia bertugas ke beberapa luar pulau di Indonesia. Sejak mulai kerja di kantor tersebut Rey sudah ditugaskan ke Pulau Komodo, Bali, Kalimantan dll.

Suatu hari saat bertugas di salah satu Taman nasional komodo, Rey meminta tolong kepada seorang turis asing untuk memfoto Rey bersama teman-temannya. Sampai mereka mewawancarai bule tersebut tentang kisah perjalanannya yang menakjubkan. Dari menumpang bus malam dari Denpasar ke Bima, lalu dari Bima ke Labuan Bajo, hingga sampai bertemu mereka di pulau komodo. Tak disangka pria bule yang dipanggil Moza itu mulai akrab dengan Rey.   Kedekatan itu berlanjut pada beberapa kejadian di mana Rey semakin intens bertemu dengan Moza di beberapa tempat. Dengan sadar ada sebuah perasaan berbeda yang larut di hati Rey terhadap Moza. Akhirnya terjadi sebuah hubungan yang berujung pada keputusan untuk menikah.

Hubungan mereka sebenarnya tidak disetujui oleh Ibu Rey. Mengingat almarhum ayahandanya seorang ulama, maka ibunya menginginkan orang yang mengerti agama pula. Hal itu semakin membuat Rey pesimis akan penerimaan keluarganya terhadap Moza yang notabene seorang bule non muslim.  Untungnya, Moza tertarik dengan Islam dan menjadi seorang mualaf.

Cover Ramadhan terakhir Ludwig

Cover Ramadhan terakhir Ludwig

Bertahun menjalin keluarga mereka di karunia seorang anak bernama Ludwig. Pekerjaan sebagai Fotografer masih dijalani Rey. Terlebih fotografi merupakan passionnya. Tugas ke luar pulau masih Rey jalani dengan baik. Hingga suatu saat rey ditugaskan ke pulau Kalimantan. Dari sanalah runtutan kejadian yang tak diduga mulai terjadi. Ludwig yang tersesat, Moza yang masih meninggal saat kecelakaan di pesawat bersama Ishac, bossnya Rey. Dan ada pula hak yang tak terduga ada di akhir novel ini.

 

Novel ini memberikan inspirasi bahwa sedekat apapun, secinta apapun terhadap seseorang, pada akhirnya kita akan kehilangannya. Selain itu, novel ini mengenalkan beberapa kawasan wisata yang ada di Indonesia yang (mungkin) belum kita tahu. Beberapa daerah kepulauan lain dikenalkan di dalam novel ini.

Sebagai pembaca awam, sayangnya kedekatan antara Ludwig dan Rey sebagai ibunya kandungnya kurang terasa dekat. Akan lebih terasa dekat seandainya ada dialog atau kehangatan-kehangatan momen tertentu antara Rey dan Ludwig ditampilkan. Misalkan, kejenakaan Ludwig saat masih kecil ataupun hal yang tidak bisa dilupakan dari Ludwig.  Sehingga,  saat kehilangan Ludwig pembaca turut merasakan emosi bagaimana kehilangan seorang anak. Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini memberikan spirit untuk selalu percaya bahwa semuanya, baik atau buruk, sudah diatur sedemikian rupa.

*) di resensi di Dakwatuna(dot)com pada tanggal 10 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Keajaiban Rezeki dalam Cerita

RESENSI

Judul Buku     : Keajaiban Rezeki (sebuah novel)DSC06346

Penulis            : Tasaro Gk

Penerbit           : Mizania

Cetakan           :  ke-1, Februari 2013

Halaman          : 373 Hal.

                        “Orang-orang berotak kiri itu tidak percaya terhadap keajaiban-keajaiban. Orang kiri berpikir, ‘kaya dulu, baru sedekah, baru Umrah’. Mereka Punya prinsip, ‘Mapan dulu, baru menikah, baru punya anak’; ‘cukup dulu, baru berbakti ke pada orang tua’. Orang-orang otak kanan beda lagi, Mas. Mereka yakin, bersedekah dulu, baru rezeki berlimpah. Menikah dulu, baru rezeki berlebih”

Itulah salah satu petikan novel keajaiban Rezeki karya Tasaro Gk. Novel ini memang terinspirasi dari konsep otak kanan (keajaiban Rezeki) yang dikenalkan oleh Ippho “Right” Santosa. Tak heran bila di dalamnya Tasaro Gk mengulas kembali secara berbeda tentang otak kanan ke dalam sebuah cerita.

Dimulai dengan Kisah lima orang sahabat dekat yaitu Bas seorang Comic stand-up comedy, Habbar seorang kolumnis sebuah media Massa, Ats juragan toko buku, Adon seorang Penyulih suara dan Gangsa seorang eksekutif.  Mereka tinggal satu atap di sebuah Villa kayu di dataran tinggi Lembang.  Kehidupan yang di jalani mereka berbeda-beda, namun punya satu rahasia yang dilakukan setiap malam minggu. Rahasia yang bisa membuat mereka saling melengkapi satusama lain.

Suatu hari, secara serentak mereka dihadapkan dengan kejadian-kejadian yang membuat cara berpikir mereka berubah. Shekina, seorang gadis misterius yang menarik perhatian bas karena selalu hadir dalam penampilan Bas saat stand-up comedy,  membuat dirinya sangat penasaran terhadap si gadis yang tidak pernah pindah dari tempat duduknya yang bernomor 13. Bas mencari tahu siapa gadis itu hingga akhirnya kedekatan terjalin diantara mereka. Bram, temannya Bas memperingatkan untuk menjauhi gadis itu namun Bas tidak ambil pusing. Dan sesuatu yang membuat  Bas tercengang terjadi.

Sementara itu Gangsa yang bertemu dengan pengusaha di sebuah kereta. Gangsa pun pernah ditipu hingga membuat dia down karena uang ratusan Euro dibawa kabur oleh upliner. Juga tak kalah menarik apa yang dihadapi tokoh-tokoh lainnya, seperti Ats yang tak pernah menyangka didatangi tamu tengah malam, Adon yang (diam-diam) masuk ke sebuah komunitas dan habbar yang selalu mendapat terror lewat pesan email dan facebook.  Ada dalang dibalik semua kejadian mereka. Orang-orang yang dipertemukan dengan lima bujangan itu ternyata mempunyai misi yang sama.

Seperti beberapa novel  best-seller Tasaro Gk sebelumnya, alur novel keajaiban Rezeki akan membuat pembaca penasaran dari lembar ke lembar. Beberapa dialog yang penuh motivasi secara eksplisit memberikan inti dari keajaiban rezeki. selain itu, kisah persahabatan mereka sangat menginspirasi. Pembaca pun akan diajak menyusuri beberapa warisan para nabi.

Meskipun novel ini memang begitu kentara dengan “otak kanannya” Iphho. Namun tidak menghilangkan sedikit pun kekhasan diksi Tasaro Gk dalam menyajikan keajaiban rezeki dari  angel yang berbeda. Membaca  novel ini (setidaknya) akan membangkitkan semangat kaula muda untuk segera beranjak dari kegalauannya..

*) Diresensi di Dakwatuna.com

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

[DIRESENSI WASATHON.COM] Belajar Hidup Dari Pembuat Keajaiban

Judul               : Para Pembuat Keajaiban

Penulis             : Atih Ardiansyah

Penerbit           :Buku Biru

Cetakan           : ke-1, Desember 2012

Halaman          : 152 hal

 DSC06334

            “Bapak jualan Bakso, demi menyambung hidup keluarga. Bapak jalani dengan suka cita. Toh, mau suka ataupun duka, tetap saja bapak ini tukang bakso. Uang atau rizki tidak akan datang kalau tidak dicari” Ujar tukang bakso Bijak. Kenapa aku mesti kalah sama tukang bakso? Kenapa aku menjadi tersiksa dengan keadaanku sekarang ini? Bukankah hidup untuk dinikmati, bukan untuk diratapi apalagi ditakuti?

Penggalan cerita di atas berjudul  Dari bibirnya Ada Senandung yang  merupakan salah satu diantara beberapa kisah yang dikutip dari buku Para Pembuat Keajaiban.  Keajaiban; Kedatangannya kadang tak terduga namun bisa membuat kita sadar bahwa keajaiban itu ada. Memang seperti itulah keajaiban, Setiap orang menantinya namun tak semua orang mendapatkannya, karena tak banyak pula yang menyadari bahwa keajaiban tidak selalu dari hal yang super –duper besar dan  menakjubkan, justru dari hal sederhana inilah kadang terabaikan.

Dalam buku kumpulan kisah ini, perjalanan hidup Fatih dimulai dari SMP hingga menjadi seorang mahasiswa di universitas Padjadjaran yang selalu dipertemukan dengan orang-orang (kejadian) sederhana namun berpengaruh luarbiasa dalam kehidupannya. Seperti memaknai hidup dari tukang tali Sepatu,  pengutang yang bijak, Penjual Bakso, mengambil pelajaran rumah tangga dari  kisah suami istri yang hendak cerai, merasakan kesungguhan seorang teman yang berdoa untuk anaknya kelak dan paling menarik dari kisah-kisah dalam buku ini adalah tentang seorang anak dan ayahnya yang sempat kaget ketika tiba di pesta  undangan  salah satu koleganya yang menyajikan standing Party. Karena mempunyai sebuah prinsip, kedua orang tersebut rela duduk di lantai dan menjadi pusat perhatian orang.  Serta masih banyak beragam cerita lainnya yang tak kalah menarik.

Buku ini menyentuh kalbu. Dikemas dalam bahasa yang lugas dan sederhana. Setiap kejadian dari beberapa kisah dalam buku ini  akan membuat pembaca sejenak merenung karena tidak terkesan mengajari. Pembaca pun akan dibawa masuk  kedalam cerita yang disajikan dalam buku ini.

Walaupun salah satu kekurangan buku ini tidak adan profil penulis, namun tidak mengurangi  nilai-nilai keajaiban itu sendiri yaitu cinta, motivasi, perilaku atau prinsip hidup yang terkandung di dalamnya. Sangat cocok untuk para perindu keajaiban.

*Gambar diambil dari dokumentasi pribadi

** Bisa dilihat di sini

Tawur menawur

Judul                     : Tak sempurna

Penulis                 : Fahd Djibran

Penerbit              : Kurniaesa Publishing

Cetakan               : ke-1, Februari  2013

Hal                          :  245 hal

17284188Laporan komisi nasional perlindungan anak menunjukan fakta mengejutkan. Sepanjang januari hingga september 2012, telah terjadi lebih dari 103 kasus tawuran pelajar. Korban yang ditimbulkan pun tidak sedikit; 48 orang pelajar luka berat, 39 luka ringan , dan 17 meninggal dunia.

Itulah salah satu kutipan dari novel Fhad Djibran yang berduet dengan Bondan&Fade2Black. fenomena tawuran memang  masih lekat bagi sebagian para pelajar. Novel ini cukup memberikan gambaran ngerinya konfilk tawuran pelajar antara SMA Lazuardi dan SMK Citra Bangsa. Dimulai semenjak masuk ke SMA Lazuardi, Rama Aditya Putra beserta teman-temanya memang sudah dijejali kebencian untuk membenci SMK Citra Bangsa. “Menyerang atau diserang” begitulah prinsipnya “para senior” mengajari adik-adik kelas mereka. “Ajaran” tersebut pun masuk ke otak Rama.  Walaupun ada sisi hati Rama menyadari bahwa perbuatan tersebut menimbulkan banyak  kerugian, namun karena malu dianggap banci maka Rama pun mengikuti teman-temannya untuk tawuran.

saat tawuran berlansung yang juga sempat menewaskan Andri Nugraha seorang anak SMA Lazuardi tiba-tiba suara sirine polisi berdengung. Posisi mereka riuh, tunggang langgang saling menyelamatkan diri. Beberapa pelajar dibekuk polisi dan sebagian berhasil lari. Saat Rama hendak melarikan diri dari polisi tiba-tiba sebuah mobil sedan menabrak dirinya hingga terluka. Akhirnya Rama dibawa ke rumah sakit. Rama dirawat beberapa minggu hingga sembuh dia menyadari semuanya termasuk kakinya yang hilang sebelah.

Konflik dalam novel ini (sedikitnya) memang sarat dengan pendidikan. Pun bukan sekedar karya fiksi saja, kita akan diajak bagaimana seharusnya peran kita sebagai stake holder yang punya kontribusi penuh dalam nilai-nilai pendidikan. Banyak sekali yang bisa kita jadikan cerminan bahwa  masih banyak hal yang melatar belakangi semua yang terjadinya tawuran antar pelajar.

Novel ini semakin menambah turut menambah kekhasan dan nilai positif karena beberapa lagu Bondan&Fade2Black yang penuh nilai-nilai semangat  disisipkan di setiap bab.

*gambar diambil dari Sini

Filosofi Kehidupan dari daun yang jatuh

Judul                     : Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin

Penulis                 : Tere-liye

Penerbit              : Gramedia

Cetakan ke         : Empat, Mei 2011

Halaman              : 256 Hal.

                 Banyak hal yang tidak akan terduga  terjadi kapan, di mana, pada siapa dan oleh siapa saja. Satu dari sekian banyak fase kehidupan yang enggan manusia hindari adalah kehilangan. Padahal sesuatu (orang) yang dicintai bisa hilang dari kehidupan walaupun begitu banyak kenangan yang tidak dapat dilupakan. Mungkin berat menerima “kehilangan”, namun karena tidak ada jalan selain penerimaan yang baik, pengertian yang baik dan pemahaman yang baik, maka mau-tidak mau ketiga hal tersebut harus dijalani. Itulah daun yang tak pernah membenci angin

Lika-liku kehidupan Tania seperti daun yang terbawa angin. Perjalanan hidup menjadi seorang anak jalanan (pengamen)telah menjadi batu loncatan bagi  kehidupan berikutnya. Tidak mungkin dia, anak gadis  11 tahun, memilih menjadi seorang anak yatim yang tinggal di rumah kardus bersama adiknya laki-laki kalau takdir tidak menghendakinya .

Keseharian menjadi pengamen bus kota ia lakoni seperti biasa bersama adik laki-lakinya. Tak ada yang menyuruhnya untuk menjadi pengamen. Namun Tania mengerti bahwa dia harus membantu ibunya.  Suatu hari seorang preman mabuk meminta uang hasil mengamen dan mengancam keselamatan mereka, melihat adiknya dicekik sampai pucat pasi tidak ada jalan lain uang hasil jerih payah dia relakan untuk preman itu.  Akhirnya ia pulang malam untuk mengganti uang yang tadi ia berikan pada preman dengan mengamen di bus.Dipertemukan dengan Danar, seorang pemuda berusia 23 tahun garagara sebuah paku payung yang tertancap di Kaki Tania. Itulah awal mula Danar menjadi penolong bagi  keluarga Tania hingga sering bertemu di bus setiap hari. Maka terjalin komunikasi antara mereka.

Sejak mengetahui kondisi perekonomian keluarga Tania,  interaksi antara Danar dan keluarga Tania begitu kerap. Hingga akhirnya Danar lah yang menyuruh (membiayai) Tania  serta Adiknya (Dede) melanjutkan sekolahnya. Kehidupan mereka dari waktu demi waktu mulai membaik. Danar, yang sudah dianggap sebagai malaikat penolong begitu sayang kepada keluarga Tania. Bahkan ibu Tania sudah menganggap anak Pada Danar. Terlebih kasih sayangnya sebagai kakak, sahabat dan orang tua Ia curahkan selepas ibu Tania meninggal dunia. Namun satu hal yang mengganjal di hati Tania tentang perasaannya yang tak bisa ia pungkas dan tak berani untuk mengungkapkan dengan jujur pada Danar.  Sebuah perasaan yang tidak seperti “adik” kepada Kakaknya. Dan Tania biarkan begitu saja perasaan itu ia pupuk.  Hingga akhirnya Danar menikah dengan pilihannya yang akhirnya banyak terungkap teka-teki antara Danar dan Tania.

Hidup itu harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup itu harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup itu harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan (halaman 196).

Novel ini tak kalah inspiratif dengan karya Tere-Liye sebelumnya. Kisah yang dituangkan dalam novel ini menyadarkan bahwa antara cinta dan kehilangan selalu ada dalam kehidupan. Bukan hanya cinta antara lawan jenis atau kerabat. Namun semua yang bersangkut paut dengan cinta. Dengan novel ini pembaca diajak untuk bangkit dari kesedihan yang berlarut. Menjadikan energi kesedihan sebagai energi untuk  terus menerus berbuat kebaikan.

Karena, kata Tere-Liye, kebaikan itu seperti pesawat terbang.  Jendela-jendela bergetar, layar TV bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang berisonansi. Kebaikan itu menyebar dengan cepat (halaman 184).

~MAq~

Bogor, 20 september 2012~

Menyalakan Kembali Semangat Juang Syeikh Hasan Albanna

Judul                     : sang Pemusar Gelombang

Penulis                 : M. Irfan Hidayatullah

Penerbit              : Salamadani

Cetakan               :ke-1, Juli 2012

Hal                          : IX+500 hal

Sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya (halaman 333).

Dalam konteks ini, Memang seharusnya sebagai pemuda (calon pemimipin masa depan) mempunyai  kekuatan untuk  menjadi pilar kebangkitan agama, bangsa, dan negara.   Dalam novel Sang Pemusar Gelombang ada tiga tokoh pemuda: Randy Albanna, Hassan Albanna dan Cikal yang merupakan refleksi dari beberapa pemuda yang sadar akan hal tersebut. Terinspirasi dari sesosok pejuang yang tangguh membela hak-hak kemanusiaan dan nilai-nilai yang agung. Seorang yang mengusung gerakan Pembaruan islam yang lebih signifikan tertuju pada Neorevivalisme. Dia lah Syaikh Hasan Al-Banna, sang Pemusar Gelombang.

Neorevivalisme itu lebih menekankan pemikiran Islam secara total. Mereka yang berada pada arus itu memposisikan islam sebagai sistem hidup dan berupaya untuk mengaplikasikannya dalam sistem kenegaraan dan kemasyarakatan (Halaman 20). Maka Randy Albanna, sebagai seorang aktivis dakwah yang sengaja ia sematkan nama belakang albana untuk tetap teguh dalam perjuangan dakwah seperti syaikh Hasan Al-Banna. Cikal seorang vokalis group Band ternama pun mendapat pencerahan dan memutuskan keluar dari grup band yang selama ini membuat dia jauh dari nilai-nilai keagamaan dan Hasan Albana, yang namanya mirip dengan syaikh Hasan Albanna,  seorang pemuda aliran sosialisme yang pada akhirnya sadar bahwa nama yang diberikan Abahnya mempunyai nilai filosofi yang tinggi. Ketiganya membuktikan sisi nilai kemanusiaan mereka dalam sebuah aksi solidaritas Palestina.

Tokoh dalam novel ini begitu lekat dengan peri kehidupan Syeikh Hasan Al-Banna. Seperti  adegan saat Randy dan Hasan yang berdiskusi seputar perjuangan dakwah  di sebuah  cafe. Hal tersebut pernah dilakukan oleh syeikh Hasan Albanna saat berdakwah di cafe (pada saat itu masih asing) dan menjadi cikal Bakal perjuangan ikhwanul muslimin.

Ada beberapa kutipan dari beberapa referensi dalam novel  ini yang menggetarkan. Saat jenazah syaikh Hasan Al-Banna di asingkan oleh beberapa orang yang tidak sefaham dengannya. “ Jangan ada air mata dan ratapan, bahkan jangan ada arak-arakan belasungkawa dan menyalatkan selainmu” (Halaman 393). Tidak ada yang berani melanggar karena polisi akan menangkap dan memenjarakannnya.

Novel ini salah satu karya Fiksi-Islami terbaru M. Ifrfan Hidayatullah. Buku  Sebelumnya pun berkisar pada fiksi-islami. Namun beberapa  tokoh dalam Novel ini mempunyai  ghiroh dakwah yang lekat dengan perjalanan syaikh Hasan Albanna. Ada beberapa referensi (kutipan) dari beberapa penulis lain seperti memoar Hasan Albanna, Biografi Hasan Albanna, dan  persembahan istri Hasan Albanna menambah kelengkapan isi cerita.

Novel setebal 500 halaman ini ibarat sebuah minyak yang dihamburkan pada api yang hampir redup, pembaca dapat merasakan kembali semangat perjuangan syaikh Hasan al-Banna dalam membela hak-hak umat.

Balita khatam Alqur’an?

RESENSI

Penerbit              : khazanah intelektual  

penulis                 : Dr. Sarmini, Lc

halaman               : xxii+ 180 hal

 

Sesuatu yang kita anggap sulit sebenarnya bisa kita sederhanakan jika ada azzam yang kuat disertai konsistensi. Sebagai madrasah pertama, amat di sayangkan jikalau para orang tua tidak mengajarkan sesuatu yang luar biasa pada anak. Terlebih pada masa balita yang sering kita sebut golden age, di mana anak memerlukan beberapa  stimulasi positif untuk menunjang suatu pengajaran. Salah satunya alqur’an.

Menjalin kedekatan antara balita dan alqur’an tentu saja memerlukan beberapa fase, seperti prinsip rumah tangga, Prinsip pembelajaran, dan beberapa strategi untuk menghadapi berbagai kendala yang akan muncul pada anak. Itu pula yang dialami oleh Dr. Sarmini, Lc dalam bukunya “alhamdulilah, balitaku khatam alqu’an”.

Buku ini mengulas tentang pengalaman pribadi dari Dr, Sarmini yang telah berhasil membimbing anak balitanya untuk senantiasa dekat dengan alquran dalam kesehariannya.  Beliau tidak hanya menerapkan metode membaca alqur’an  pada balita, akan tetapi membuat anak mencintai alqur’an, menjalin relasi dan interaksi agar anak keranjingan membaca alqur’an setiap hari.

Dengan gaya bertutur, buku ini tidak terkesan mengajari. Beberapa pengalaman yang beliau paparkan sangat lengkap dan mudah dicerna. Beberapa Kendala disertai solusi, mengajarkan huruf, mengajarkan waqof, dan memahami tajwid secara sederhana menambah warna dalam buku ini. Cocok untuk menjadi panduan utama bagi para orang tua yang hendak mengajarkan alquran pada anak.

*) Diresensi di wasathon.com

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa