Maaf Tuhan, aku sembuhkan luka

September, 2012

Embun dan kelu…

“Apa yang sedang kaupikirkan,Sayang?” suara laki-laki mendesis ke telingaku. Aku terkesiap. Sejurus  aku terus mengawasi embun yang menjalari dedaunan di balik jendela. Terasa bibirnya mencium rambut. Aroma minuman hangat menelisik hidung.  Pandanganku beralih padanya.  Dia mendekatkan secangkir  Cappucino padaku. Aku menyeruputnya dengan perlahan .

“Cukup nikmat untuk mengawali pagi ini” ujarnya. Aku mengangkat bahu.

“Apa yang sedang kaupikirkan?”  tanyanya sekali lagi. Aku menelan ludah. “kau masih memikirkan lelaki keji itu?” Nafasnya sedikit terengah sedang memburu jawabanku. Wajahnya terlihat kecut.

“Sudahlah, aku tak ingin membicarakan hal itu lagi! Aku di sini mencoba menyembuhkan lukaku,” jawabku getir “Setidaknya untuk sementara waktu”

“Baiklah, aku berangkat kerja dulu. Tinggalah di sini sampai kapan pun kaumau. Besok aku libur. Aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat.” Dia membelai rambutku dan menyelipkan beberapa helai rambut di belakang  telinga. “Hanya laki-laki buta  yang membuatmu terluka, Tirai!” Tangannya mengusap lembut pipiku.

Dia berlalu dengan gerung motor sportnya. Rasa ngilu pipiku berubah menjadi beberapa gambar luka kehidupan rumah tangga yang tak jelas bagaimana ujungnya. Ah, Senin Pagi yang menjemukan.

~~~

Desember, 2008

“Kalian sekarang sudah lulus pesantren. Tak baik bagi kalian bersama-sama tanpa ada ikatan apapun” ujar seorang pria tua. Lengannya memegang tongkat yang terbuat dari rotan.

“Apalagi kalau pria suka menginap di rumah perempuan yang bukan muhrimnya. Bisa menimbulkan fitnah!” jelas seorang perempuan di sebelah lelaki tadi. Aku dan Rasyan bersitatap. Sudah bisa kutebak ke mana arah pembicaraan mereka.

“Tirai… Nenek dan kakek sudah berpesan pada Ibumu agar kalian segera dinikahkan. Ibumu setuju. Dan kau Rasyan, segeralah mengajukan lamaranmu kepada Tirai.

Degh. aku menelan ludah. Menikah? siapa yang tak ingin menikah. Menikah  usia 18 tahun ini, masih banyak yang ingin aku raih. Apalagi Rasyan masih 19 tahun. Kematangan serta kedewasaan belum selebat janggutnya. Aku juga masih ingin meneruskan kuliah, masih ingin mengembangkan karir, ingin….

“Ya, Kek. Saya pun berpikir begitu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini saya bisa segera mengajukan lamaran pada Tirai” laki-laki berambut ikal itu mengaminkan seraya tersenyum getir.

Terlampau banyak mengundang persepsi negatif sejak pertama aku menjalin hubungan dengan  Rasyan. Dari semasa Madrasah Aliyah (setingkat SMA), yang belum genap satu bulan aku lulus, sering jadi bulan-bulanan para ustadz pesantren. Aku dan Rasyan memang dianggap melanggar aturan pesantren yang tak membolehkan pacaran. Tapi Aku bukan mau mencari sensasi, aku tak bisa membohongi perasaan. Aku juga ingin seperti pasangan pada umumnya, jalan-jalan, malam minggu nonton dan…versi anak muda lah pokoknya.

Menikah? gambaran pernikahan perceraian orang tuaku masih menggelayut sampai saat ini. Ah, Entahlah, aku benci hal jelek dalam rumah tangga.

Januari, 2009

            Aku akui ingin menikah. memang tak mudah untuk menerima keputusan itu, bagiku.  Namun, keraguan itu sedikit demi sedikit menguap setelah dijejali semacam penguatan dari sanak saudara.

Ya,  Bulan ini  aku menikah. Resepsi pernikahan yang sederhana.  Beberapa hiburan musik dan menu untuk 3000 undangan turut menyederhanakan resepsi ini. Padahal aku sudah berpesan ke pada orang tuaku dan calon mertua untuk tidak menggelar resepsi pernikahan. “Resepsi ini kan satu kali untuk selamanya. Apalagi kalian anak pertama dan anak satu-satunya” kata mereka. Aku membatu.

Juli 2009

Enam bulan masa mengarungi kebahagiaan dengan Rasyan masih penuh dengan kasih sayang. Namun, badai bisa kapan saja menghadang  bahtera rumah tangga, tepat enam bulan setengah ada yang berbeda dengan dirinya. Entah sadar atau tidak akan posisinya sekarang adalah seorang suami yang wajib menafkahi keluarganya. Sengaja di awal aku tidak mengungkapkannya karena aku pikir dia akan tahu tugas apa yang harus diemban seorang suami. Tapi akhirnya harus kukatakan bahwa uang “kas” sudah mulai menipis

“Apakah tidak lebih baik jika kau mencari pekerjaan?”

“Besok aku coba bilang ke Papa. Mungkin ada lowongan jadi pengajar di sekolahnya,” ucapnya tenang, sementara mulutnya membulatkankan asap rokok.

Baru besok, kenapa tidak dari semenjak enam bulan lalu.

~~~

Aku bersyukur Rasyan mengajar. Takmasalah mendapat  seratus ribu perbulan walaupun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun Aku takrela jika uang itu di pakainya membeli rokok.  Terlebih dia tak pernah bertanya atau memperhatikan kebutuhan pokok.  Untungnya sedikit pun dia tidak  tahu ibuku memberikan uang saku setiap bulannya.

“Aku akan berjualan di depan sekolah Papa” Ujarku pada Rasyan

Dia mengkerutkan kening, “Berjualan apa?”

“Makanan ringan anak-anak lah”

Hanya mengangguk. Dia tak berkomentar banyak. Setiap harinya semakin akrab dengan asap rokok.  Akan luar biasa marah jika  Aku berani melarangnya.

~~~

            “Tirai…! Ada uang nggak?”aku kaget baru saja membereskan daganganku. Dia membuka kotak uang hasil jualanku “Aku ingin rokok!”

Aku lantas memberikan uang tiga puluh ribu. Alih-alih membantuku membereskan dagangan ini, dengan cepat ia melajukan motornya. Rasyan sudah tidak mengajar  lagi selepas aku berjualan di depan sekolah SD kencana. “Tidak bisa mengatur kelas” katanya. Aku hanya bisa menghela nafas. Memberi masukan sebagus apapun padanya tak akan berarti.

Januari, 2011

Bisa disebut inilah yang spesial ulang tahun usia pernikahanku. Sayangnya, bukan sesuatu yang membuatku bahagia melainkan murka yang melanda. Dia buka Rasyan yang dulu kukenal. Selama berbulan bulan aku mencoba bersabar dengan segala kepahitan yang ada. Samudera cinta yang dulu dia ungkapkan kini sudah mengering. Bukan saja tak peduli dengan Istri. Dia mulai berani keras terhadapku.  Apalagi sejak dikuliahkan oleh mertuaku, semakin membatin rasanya hidup ini.

Sekarang aku tidak berjualan lagi. Aku kerja di sebuah pabrik tekstil. Itu pun atas dasar permintaan mertuaku yang serta merta senang saat aku menyetujuinya.  Kadang aku merasa adil tak berpihak, dia kuliah sedangkan aku kerja. Biarlah semoga kuliahnya membuahkan hasil untuk masa depan. Aku segera  menepis.

~~~

             Kerja di pabrik tekstil dengan waktu 12 jam memang menguras waktu dan tenaga. Berharap akan ada perubahan setelah Rasyan menyelesaikan kuliahnya. Itu pula hal yang tak menyurutkan rasa cintaku pada Rasyan. Namun, Entah setan apa yang merasukinya saat ini. Sikapnya yang semakin hari semakin menimbulkan besar kecurigaanku. Jangankan kata cinta, hanya menatap mata saja dia enggan. Setiap mengangkat telp atau sekedar smsan dengan temannya, Rasyan menjauhkan pandangan dariku.  Mungkinkah dia sudah bosan denganku? Mungkikah dia memiliki kekasih lagi?

“Jadi istri jangan suudzon pada suami!”ungkapnya saat aku menanyakan mengapa dia selalu sms-an sendiri dan tak mengijinkan sedikit pun melihatnya. Jika pun mengijinkan, inbox-outbox sudah kosong.

“Aku lihat no HP mu kebanyakan no cewek semua, A?” aku memancing lagi.

“Emangnya gue homo ngumpulin no cowok!”

“Kau tahu akhir-akhir ini aku sering menangis?” air mataku hendak menjalari pipi. Dia dengan tenang memainkan jemarinya di atas keypad HP.

Diem, Ah. Udah malam, Rai. Tidur sana!”

“ Bukan gitu, Aa. Sikapmu semakin hari seperti membenciku. Apakah kaupunya kekasih lain?”

“Emang salah kalau gua sekedar suka?”

“kau suamiku, A. Buat apa  kau menikahiku jika sekarang aku hanya Benalu. Aku tak bissa menahan hasratmu untuk perempuan lain. Tapi ijab-qobul yang dulu kau ucapkan hanyalah omong kosong.

Dia  masih bersikap tak peduli.

“‘Kau…menyakitiku!” tak terasa air mata ini semakain deras. emosiku tak terbendung menahan semuanya.  “kau seperti seorang perampok yang hanya menjarah semua hasil keringatku! Kau tak punya perasaan!”  aku menangis sejadi-jadinya.

“Diam! Aku pusing, Tirai…!” dia menghampiriku.

Malam itu dia seperti kerasukan setan. Tanpa tedeng aling-aling bagian Leher belakangku dicekik seperti seekor kucing. Dia mendorongku secara paksa.

“Mau berisik lagi hah?” Gertaknya seraya membanting pintu.

Apakah ini mimpi? Bukan, ini bukan mimpi. Memang,  Dia tak punya hati. Dulu romantis bagaimana cara mencintai.  Sekarang, dia orang pertama kubenci! Aku benci kamu, Rasyan!

~~~

            Setelah kejadian itu, Aku sering menginap beberapa hari di rumah orang tuaku. Berharap dia datang menjemput. Dan inilah puncaknya aku mengutuki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku memaafkan dia. Betapa bodohnya aku yang terus setia. Sebuah pesan dari teman Rasyan di facebook  seperti kilatan petir menyambar kepalaku.

Fahri: Teh Tirai tadi saya melihat Rasyan membawa Tantri ke kontrakannya Teh Tirai “mumpung tidak ada istri” katanya. Maaf saya lancang, tapi saya sekedar memberi Informasi.

Sungguh aku mengutuki diriku. Saat ini yang bergumul hanyalah perasaan kecewa, sakit dan…benci. Rasyan! Jangan salahkan aku jika qpa yang kau lakukan saat ini  terjadi padaku!

~~~

Embun Menguap, Kelu telah luluh.

Zrettt!zrettt!nada getar dari telpon Rasyan. Aku tak mengangkatnya.

“Dari si Biadab?” tanya laki-laki itu. Geliginya bergemeretak.

Aku mengangguk, “Aku lebih nyaman berada di sampingmu,Fan”

Dia menghampiri dan duduk di sebelahku. Degup jantungku seperti terbawa ombak. ubun-ubunku memanas memompa seluruh aliran darah. Nafas saling memburu alam nyata yang tak kunjung tiba. Jiwa seakan lupa siapa aku sebenarnya.  Maaf Tuhan, saat ini aku sembuhkan luka…

 

*) Gambar di ambil dari Sini

Esok, Aku katakan padamu

Air conditioner Bus kota menambah dingin suasana. Penumpang tidak terlalu penuh, Aku duduk dikursi tengah dengannya. Hanya dua orang yang duduk di kursi belakang, selebihnya sekitar sepuluh orang duduk di depanku sampai seterusnya. Rinda duduk di samping kiriku. Kita masih saling terdiam. Mencoba merenungi apa yang terjadi. Aku bingung dengan keputusanku. Dan ku kira diapun sama.  Aku sudah terlanjur cinta dengan dia. Aku kira dilema cinta seperti ini tidak akan terjadi padaku. Berat. Lebih baik Aku pergi ke tempat Fitnes dan  angkat besi setiap hari daripada harus mengangkat beban seperti ini. Tapi seharusnya dia juga bisa tegas dengan keputusannya. Betulkah cinta itu jorok? Tak mengenal siapa dan dimana, tak tau tukang becak atau preman, dan tak tau Aku atau dia.

“Anto…” serak suaranya memecahkan lamunan. Air matanya masih mengalir di pipinya yang merah.

“ dulu…” sesaat dia menarik nafas dengan dalam.

“ Dulu keberadaanku tidak diharapkan oleh ibuku”

Aku mendengarkan dengan seksama.

“Ibuku tidak ingin kehadiran anak Perempuan…”Aku usap basah pipinya. Luka batin yang telah ia kubur bertahun lamanya  menderaskan air matanya.

“Aku ditelantarkan begitu saja tanpa perhatian yang lebih”.

Aku menelan ludah. Sebenarnya Aku heran, mengapa masih ada seorang ibu yang tidak menginginkan keberadaan anaknya. Dan apa hubungannya dengan permasalahan saat ini.

“Walaupun kedua kakakku Laki-laki, tapi dia masih menginginkan anak laki-laki lagi. Aku…..”

“ Rinda…” Aku memotong, mencoba mengalihkan pembicaraannya, Fokus dengan permasalahan dengannya saat ini. Sebenarnya Aku sudah mengetahui kisahnya. Dulu Ibunya membiarkan gadis cantik itu terlantar dan tidak diberi perhatian yang penuh. Rinda diajak bersama Pamannya. Hingga tumbuh dewasa ia menyadari kerenggangan antara dia dan Ibunya. Begitu pula rasa sakit hatinya, baru terasa ketika rasa kasih Sayang sosok ia dapatkan bukan dari orang tua kandungnya melainkan dari pamannya. Untung ibu Rinda sudah menyadari kesalahannya, menceritakan dan meminta maaf pada Rinda. Dengan keikhlasan hati, Rinda dapat memaafkan ibunya.

“Aku faham  masa lalumu.  Aku tidak ingin kau mengungkitnya lagi, karena akan semakin berat bagimu. Jujur, sekarang Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan Aku ingin menjadi obat dalam hidupmu. Namun rasAku ini berdiri dalam persimpangan. Aku dan kau saling mencintai , tapi disisi lain rizki dan kau saling mencintai juga. Aku tau rizki sahabatku. Tapi setidaknya kau bisa memilih dan tegas.”

“Aku bingung” ia menunduk, isak tangis masih terdengar jelas. terlalu beratkah pernyataan itu.

Bus Kota sebentar lagi sampai di alun-alun Bandung, tanda bahwa ia harus turun. Aku mengantarnya pulang karena ia belum pernah ke daerahku. Dan Akupun hawatir.

“Rin, Aku tak ingin berlama-lama menyimpan permasalahan ini, Aku tau ini akan berat. Tapi Aku tak ingin hal ini menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Besok, ku temui lagi kamu di halaman Masjid Raya alun-alun Bandung.”

“Alun-alun, siap-siap, sebentar lagi abis” kondektur mengingatkan. Rinda  bangun dari tempat duduk, menuju kearah pintu depan bersiap untuk turun tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Kisah ini memang klasik, antara Aku, Rinda dan  Rizki sahabat baikku terjebak dalam Peribahasa Balam dua sesangka, dua lelaki yang mencintai seorang perempuan. saat ini sebuah keputusan ibarat mata  pisau di genggaman tanganku, tidak diambil terluka, diambil telapak tanganku tersayat.

***

Aku akui Rizki pernah berhubungan dengan Rinda sebelumnya, tapi sempat putus karena Rinda tak mau mengerti dengan Rizki, istilah sunda pok torolong*, dan hal itu membuat hubungan mereka putus. Entah siapa yang memutuskan dan diputuskan. Yang jelas Aku tau mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Walaupun sikap Rinda seperti itu tapi Rizki tetap masih mencintainya.

Awal mula Aku mempunyai perasaan yang berbeda pada Rinda yaitu ketika ada acara bimbingan mahasiwa jurusan. Aku dan Rinda dimasukan dalam kepanitiaan di bagian Publikasi dan dokumentasi, otomatis banyak berkomunikasi dengannya. Gunung Puntang yang terlentak di Soreang menjadi tempat acara kita. Di suatu kegiatan, Jurit Malam kita pun ditugasi secara bersama. Rinda dan sahabatnya, Sani juga Aku menjaga di pos II. Menunggu peserta datang kusempatkan untuk curhat kepada mereka, kucoba ungkapkan pada Rinda kekagumanku yang sudah lama terpendam.

Jujur, saat ini Aku tak tau harus bagaimana. Walaupun Rizki sudah merelakan tapi Aku juga tak enak hati kepadanya. “To, udah  lanjutin hubungan kamu dengan Rinda. Tak usah hawatir denganku. semuanya akan baik-baik saja. Aku disini bukan untuk mengalah atau jadi pemenang.  Tapi Aku ingin menjadi pejuang cinta. Aku ingin memperjuangkan cintamu.”

Aku tau dia tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.

“ Aku tidak bisa berkamuflase, To. Sakit. sakit banget.” Dia pernah bilang seperti itu sebelum ia merelakan Aku dengan Rinda.

Keterbukaan kita terhadap masalah ini tidak menjadikan persaingan. Pernah suatu ketika Rinda Mengajak Rizki Jalan, Rizki selalu merasa tidak enak padaku, walaupun Aku tidak tau. begitu juga sebaliknya, Aku merasa tidak enak hati pada Rizki bila Rinda mengajaku jalan. Tapi pada akhirnya kita saling memberi tau.

Aku yakin ini akan semakin menyakitkan jika tidak diselesaikan. Aku tau Ini memang berat, tapi semakin berat jika Aku tak memperjuangkan apa yang hatiku katakan. Sebagai seorang lelaki sejati, Aku siap menerima semua akibat yang terjadi. Aku tau apa yang akan Aku putuskan untuk Rinda. Aku selalu diajari untuk selalu mengikuti kata hati nurani, karena hati nurani tidak terlepas dari kebenaran-kebenaran.

“Rinda..” dingin AC masih menusuk pundukku,,langit di kota ikut gelap mengetahui kondisi hatiku. Aku melangkah menuju pintu depan.

“ Besok Aku katakan padamu..”

Buah Merah di Tabir A’raf

Mataku masih tertuju pada apel itu, warna merah yang  menggiurkan.  Kumainkan dengan memutarkanya pada kepalan telapak tangan. Jauh menerawang pada peristiwa membuat semua orang tak percaya. Mengingatkanku pada misteri buah Merah. Kau tau buah Merah? Bukan, bukan apel apalagi buah Naga. Aku juga tidak tau persis, tapi bagiku menarik sekali khasiat buah Merah ini.

Awal mula aku tau dari  seekor burung kecil. Ketika itu aku duduk di bawah pohon rindang. Ya, pohon rindanglah yang menjadi saksi misteri tentang buah Merah. Tiba-tiba seekor burung kecil datang kepadaku.

“apa kau tau tentang kabar Buah Merah?” Tanyanya tiba-tiba

Sontak aku kaget. Beberapa kali meyakinkan diriku dengan menampar pipiku sendiri.

“buah Merah?” aku menelan ludah. keringat dingin. memberanikan diri bertanya lagi

“ iya, buah Merah. Khasiat buah ini akan membuat manusia berubah”

“aku tidak mengerti apa yang kau maksud?” sekali lagi aku menampar pipi.

“kau tidak sedang bermimpi” burung kecil itu masih mengitariku. “bila kau bisa menemukan buah merah itu maka kehidupanmu  akan berubah. Kau akan menjadi lebih baik bila hatimu baik. Sebaliknya, bila hati kamu busuk maka yang akan menangung akibatnya adalah kamu sendiri. Intinya, tergantung hatimu,  juga bagaimana kau menilai dan memegangnya.”

“ah, mimpi!!”

“sekali lagi kukatakan ini bukan mimpi. Jika kau mencari buah itu hanya untuk kepentingannmu sendiri, maka kecelakaan akan datang padamu. Namun sebaliknya, untuk banyak orang kau akan bernafas lega di surga. Kau menjadi putih  penuh dengan cahaya diantara orang-orang yang mengenakan baju hitam.”

Aku mencoba mencerna pesan burung kecil itu. Berharap ini adalah sebuah mimpi namun aku tak kunjung bangun dari mimpi tersebut.

“ kau…..” burung kecil itu terbang kesebelah kananku “akan mendapatkan cahaya yang dirindukan orang-orang yang berbaju putih. Namun, sejauh yang aku awasi, beberapa orang gagal memetik buah Merah itu. Tujuan mereka berubah,karena takut kehilangan buah itu.”

“terus, apa maksudmu memberi tauku?”

“barangkali kau membutuhkan buah merah itu.”

“bagaimana aku bisa menemukannya?bagaimana cara memetik buah itu?

“Ikhlaskan hatimu untuk mencarinya, jalan menuju buah merah itu akan terbuka dengan sendirinya”

“dimana?”

“di Tabir A’araf”

Burung kecil itu terbang ke arah timur. Keringat dingin sekarang membanjiri badanku..

***

Mataku tak bisa terpejam memikirkan buah Merah. Aku sempat ragu. Pada akhirnya kuputuskan untuk mencari buah tersebut. Kubulatkan tekad dan keyakinan. Hingga datang satu malam yang mengejutkan bagiku, semacam ilham atau petunjuk. Tiba-tiba aku berjalan menyusuri sebuah kebun. aku rasa mengenalnya.

Begitu banyak pohon kering dan lebat disana. Buah segar terdapat di pohon yang lebat. kau tak usah menanyakan apa pohon itu, karena akupun tak tau namanya. Tapi aku tidak habis pikir ternyata begitu banyak buah merah disana. Sayangnya diantara buah merah yang aku temui banyak dihinggapi lalat dan belatung, Pun kedua binatang menjijikan itu Nampak puas menikmati Bangkai tikus dan bangkai burung. Berserakan dan menjijikan!.

Aku sempat putus asa, Mungkin benar kata burung kecil itu, tidak semua orang bisa menemukan dan memetiknya. Jalan berkerikil tajam membuat putus asa perjalanan.

Aku tau dalam pencarian kebenaran tidak mudah. harus menghadapi desakan alam: hujan, Petir, angin topan. Betulkan? Mungkin saja kebenaran sudah ada didepan mata namun masih sulit untuk diambil dan di satukan dengan jiwa.

***

Aku ingin kembali. Aku tidak ingin niat untuk mengetahui buah merah itu menjadi bencana bagiku. Kerikil tajam sudah menerusuk Kakiku.

Aku berbalik dan mencari jalan pulang. “PLUKKK” Enam langkah dari tempat aku berhenti, sesuatu jatuh ke atas kepalaku. Aku kesakitan. Aku hendak lihat apa yang terjatuh. Aku masih mengenalinya, namun bentuknya agak berbeda. Lebih bercahaya dan menyejukan. Apakah ini yang di maksud Buah Merah di Tabir a’raf itu. Tapi, aku belum menemukan di mana A’raf itu berada.

Sebenarnya Aku takut ini bencana dan segera ingin kutinggalkan tempat ini. Namun hati kecil tak dapat dibohongi dan terus menariku untuk membawanya. Dilema. Antara hati kecil dan nafsu. Kulihat lagi  benda itu, cahayanya menyentuh batinku.

“inikah Buah merah itu?” aku meyakinkan diriku

Plukk. Satu lagi terjatuh.

Apel terjatuh ditanganku. Aku mengambilnya. Ada sisa gigitan di apel itu. Tak kusadari bahwa aku sudah mengigitnya tadi.

2009-

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa