Terimakasih Abah*)

Singapore Changi Airport, Menuju National Library Board.

Mulutku lebih rapat dari yang kuperkirakan, aku tahu akan menjadi hal bodoh karena hanya menambah beban pikiran Abah.  Tapi, aku coba berbicara padanya barangkali untuk sekali saja Abah punya sisa uang hasil jualannya. Setidaknya Abah mau memaksakan mencari atau meminjamkan  untukku.

“Bah…” Aku menyimpan tas gendongku setelah mengucapkan salam. Seragam Putih-Merah masih kukenankan. Irama ketok-ketok beradu dari palu, paku dan pintu gubuk kami yang ditambal Abah. Sesekali kuusap peluh sebutir jagung di keningku.  Untuk masalah ini degup jantung lebih kencang tenimbang  aku mematahkan alat pancing Abah. Ketika itu ada seekor tikus yang masuk ke dalam rumah, aku mencari benda yang terdekat denganku untuk  memukul seekor binatang yang selalu mencuri jatah makananku. Dengan penuh dendam aku memburunya. Sialnya, aku taksadar bahwa benda patah yang aku pegang adalah alat pancing yang selalu digunakan untuk mata pencaharian kami. Dan yang membuatku makin masygul adalah tikus itu berhasil kabur.  Abah hanya diam ketika mengetahui hal itu, tapi aku tahu kalau dia sedang marah.

“Bah, besok ada karyawisata ke museum kota”.  Katakku sambil menunduk malu serta iba .

Abah tertahan sejenak ketika aku selesai berbicara. Palu dan paku masih dipegangnya. Taklama setelah itu dengan tenang dia meletakan perkakasnya. Dia duduk disampingku dan memberikan air teh di cangkir yang terbuat dari batok kelapa.

“Kau ingin ikut, Nak?” Tanyanya setelah aku meneguk air. Aku mengangguk dengan sedikit GEER yang mendera. Pasalnya takbiasa Abah menannyaiku seperti itu.

Aku melirik Abah yang  menatap kosong ke depan. Berharap beberapa kalimat yang akan membuatku senang keluar dari mulut Abah.

Sing sabar, tapi dina hiji poe…” katanya dengan tenang “Mun hidep boga pangabisa, mangka hidep bakal bisa nyaba kamana-mana. Bersabarlah,suatu hari, jika kaupunya kemampuan (ilmu bermanfaat) maka kaubisa pergi ke mana pun.” Abah menatapku

Aku diam sejenak. Betulkan, aku hanya membuatnya menambah beban. Takbisa dipungkiri ada kecewa yang aku rasakan. Untuk kesekian kalinya aku harus menelan pil pahit ketidakikutsertaanku berkayawisata.

“Percayalah, Nak” lanjutnya sembari mengusap rambut. “Aku yakin kau akan menjadi manusia yang dibutuhkan setiap orang karena orang membutuhkanmu, karena ilmumu, karena sikapmu” Ia memelukku dengan lembut. Mencium kepalaku tepat di atas ubun-ubun. Ada sesuatu merambat hebat ke dalam hati dan berbulir air mata pun mengalir. Seketika itu kekecewaan yang aku rasakan tiba-tiba terhapus ketika airmata itu dihapus Abah.

“Satu lagi, Nak…” lelaki paru baya itu tersenyum “Tong hirup ciga kurupuk, tarik kadanguna, saeutik gizina. Jangan hidup seperti kerupuk, keras bunyi sedikit gizi” Entahlah, belum sempat kuserap makna kata terakhir itu. Pelukan itu terlalu berharga untuk dilepaskan

***

                “Sorry, Sir” kata supir yang salah satu panitia penjemput mengagetkanku.

“oya, gimana?” tanyaku sambil meminta maaf.

“Anda melamun , ya, Sir.” Supir itu tersenyum, “kita sudah sampai”

“oke Terimakasih, Ya.”

“sama-sama”  balasnya dengan ramah.

Beberapa panitia penyelenggara acara sudah ada diluar dan menyambutku dengan hangat. Kesekian kalinya aku mengisi seminar motivasi. Dan kali ini, ribuan peserta hadir di seminar internationalku. Terimakasih ya Allah. Terimakasih Abah.

 

*)Terinspirasi dari status Tatan Ahmad Santana di sini

 

Iklan

SEPATU

Dugaanku keliru. Kukira dia hanya  seorang Mahasiswa kaya, pintar,  yang hanya mementingkan nilai-nilai akademik dan tak tahu arti peduli terhadap sesama. Dugaan itu membuatku malu sendiri. Aku memang tidak dekat dengan Rudi. Entahlah, mungkin gengsi atau apalah. Hingga akhirnya satu kejadian menyadarkanku dari  sikapku yang takbaik ini.

            Hari itu tepat hari Jum’at. Percaya atau tidak, perkuliahanku hari Jum’at memang selalu mulai dari dari jam dua siang hingga jam delapan malam. Dan di jam tersebut kereta api terakhir yang harus kutumpangi menuju pulang. Makanya, aku selalu pulang lebih cepat sebelum perkuliahan selesai. Jika tidak begitu, ongkos naik kereta satu minggu mungkin terbabat habis untuk satu kali ongkos naik mobil Elp.

Biasanya aku berhasil tiba di stasiun sebelum kereta datang.  Untungnya jarak antara kampus dan stasiun hanya memerlukan lima menit untuk berlari dengan mengambil jalan alternatif Cibadak diteruskan ke jalan Dulatif. (Tidak terlalu membuat semua orang di dalam gerbong menutup hidungnya karena bau keringatku.)

Sialnya hari itu aku ketinggalan kereta. Entahlah, waktu itu apakah aku yang terlalu lamban berlari atau kereta yang terlalu cepat datang. Padahal aku sudah berlari dengan kecepatan seperti biasa.

Aku sempat bingung karena mungkin ongkos untuk naik kendaraan lain tidak akan cukup. Akhirnya aku kembali ke kampus dan mencoba untuk tidur di mesjid  malam itu.

Di kampus beberapa temanku sudah pulang. Rudi yang hendak bersiap menyalakan motornya melihatku.

“Ayyash, kamu belum pulang?”  tanya Rudi

“ emm, belum Rud. Saya ketinggalan kereta” jawabku agak malu

“Nggak naik mobil Elp?”

Aku menjawab seadanya. Ongkosku tidak akan cukup untuk naik mobil. Akhirnya Rudi mengajaku ke tempat tinggalnya di daerah Kopo. Awalnya aku menolak, tapi dipikir-pikir betul juga kata Rudi, besoknya ke kampus bisa bareng. Lumayan ngirit ongkos. Aku tersenyum dalam hati.

Aku ikut Rudi. Walaupun tidak memakai helm, namun perjalannku cukup aman di malam hari. kecuali malam minggu banyak razia. Dalam perjalanan   kami sempat saling bertanya walaupun apa yang aku dengar kadang tak terlalu jelas karena angin yang terlalu kencang dan apa yang Rudi katakan mungkin terhalang oleh helm. Beberapa menit kemudian aku sampai di rumahnya.

***

             Kadang kita terlalu underestimate kepada seseorang sebelum mengenal seseorang terlebih dahulu. Belum tahu seluk beluk apa pun mengenai seseorang karena terlampau egois bisa menimbulkan rasa iri dalam hati. Mungkin itu yang kualami terhadap Rudi yang ternyata dulunya satu nasib denganku sekarang. Di rumah ini orangtuanya baik. Jamuan makan yang membuatku memperbaiki gizi. Pepes ayam, Pepes Jamur, macam-macamlah pokoknya yang jarang kutemui di kosanku.

Selepas makan, aku tiduran meluruskan punggungku.

“Pempek Palembang?” tanyanya

“Ya, tapi bukan miliku. Aku hanya sebagai pegawai. Untungnya bossku peduli terhadap pendidikan. Jadi aku dikasih jadwal hanya empat hari, sisanya diganti sama temanku si Hendra.”

“Terus ongkos sehari-hari dari mana?” Tanyanya lagi

“Dari uang transport lima ribu perhari yang aku kumpulkan selama hari kerja.”

Dia mengangguk.

“aku iri sama kamu, Rud. Kau menguasai bahasa inggrismu dengan fasih.” Kataku

“Semua yang aku dapat memang tidak instan, Yash. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kamu menguasai sesuatu. Aku memang sejak SMP menekuni bahasa inggris. Dulu bahasa inggrisku masih blah, bleh, bloh seperti kamu. Dan aku juga mengalami rasa iri terhadap teman-teman yang lebih expert. Tapi iriku ini kupacu dengan terus belajar dan praktek. Dengan keberanian yang aku punya, aku ingin berubah, dan aku melawan ketakutanku”

Betul Juga.

“kita sudah menjalani satu semester. Tapi aku baru tahu siapa kamu. Keterlaluan.” Kataku

“udah, tidur sana.” Rudi menimpukku dengan bantal guling.

Malam ini penuh pelajaran berharga bagiku.

***

old-shoes

Sepatuku hilang!

“serius, Yash?” tanya Rudi

“Iya, tadi aku menyimpannya di sini” jawabku sambi mencari-cari di tempat sandal. Lalu aku mencarinya di balik pot-pot bunga  yang berdekatan dengan tempat sandal tadi. Aku pergi ke mesjid memakai sepatu karena tidak ada sandal lagi di tempat Rudi.

Rudi pun heran. Katannya baru kali ini ada sepatu yang hilang. Dan, akhirnya tidak ketemu. Itu satu-satunya lagi. Ya sudahlah.

Akhirnya Rudi menawarkan sandalnya untuk aku pakai.

***

            “gak usah, Rud? Aku jadi nggak enak”

Sebelum ke kampus Rudi mengajakku ke sebuah Mall. Entahlah, kukira dia mau membeli untuk keperluannya. Karena saat kutanya memang ada sesuatu yang harus ia beli. Tapi ternyata dia mengajaku ke sebuah Toko sepatu.

“tapi, Rud…”

“udah ambil aja mana yang kamu suka. Mumpung aku lagi ada rizki lebih.”

Aku diam sejenak. Mataku mengitari rak-rak toko itu. Beberapa harga terpampang. Dan tentunya aku memilih yang lebih murah.

“Yang itu?” Tanyanya

Aku mengangguk. Bukan aku tidak ingin yang lebih bagus. Tapi aku sadar diri. Aku tidak ingin memanfaatkan orang lain dalam kesusahanku.Aku mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.

“nyantai, aja Bro”

Katanya tersenyum seraya menepuk pundakku.

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8 Bogor, 2013

*) Gambar diambil dari Sini

Bus dan Satu Cerita

Kerinduan bertemu anak-istri sudah tak tertahankan.Tapi belum separuh perjalanan pun jarak yang akan kutempuh. Masih menunggu bus yang baru-baru ini mulai beroperasi. Sudah hampir setengah jam aku menunggu bus  Elang-Cibiru yang menuju elang. Memang sih Selain murah dan pemberhentiannya tidak sembarangan, karena disediakan shelter, bus yang satu ini memang memerlukan kesabaran. Entahlah kenapa terasa lama, tapi jujur  sekarang aku baru mau mencoba armada tranportasi yang baru ini. Panas pula.

“Ayyash!” aku kaget. Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik badan.

“Tirai… kau, kukira siapa.” aku tersenyum.  Sedikit menelisik apakah benar Dia temanku.

“Nunggu bus Trans juga?” tanyaku

Tirai mengangguk.

“Nah akhirnya datang juga” Aku menunjuk bus tiga perempat berwarna biru itu, sudah mulai tampak berbelok di bunderan Cibiru.

Bus sudah berhenti di depan shelter. Kami naik diikuti beberapa orang yang sudah menunggu dari tadi. Di bus ini ada 17 tempat duduk  dan 36 pegangan untuk penumpang yang berdiri.  Untunglah masih tersisa tiga kursi kosong di bagian belakang. Aku mengambil dekat jendela. Tirai mengikutiku dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Bus melaju siap melintas jalanan soekarno-hatta yang panjangnya 30 km ini.

***

“Kok Suamimu nggak ikut, Rai?” seketika Tirai terdiam.

Tirai memang salah seorang teman semasa pesantren. Dia  menikah dengan Rasyan yang masih satu kelas dengan kami. Mereka pacaran sejak Aliyyah (setingkat SMA).  Banyak gunjingan tentang hubungan mereka, karena di pesantren kami tidak diperbolehkan pacaran. Kecuali langsung saling menghalalkan alias menikah.Tapi kata mereka takkan menikah kecuali nanti lulus Aliyyah.

“ke laut” jawab Tirai dengan santai

“Maksudmu?” tanyaku lagi

“Aku sudah…bercerai”

“Ah, kau bercanda?”

“Tepat!” Dia tersenyum satir. “kautakkan percaya”

Sorry, Tirai.” Aku merasa menyesal menanyakan itu.

Dia mengangguk

“Nggak apa-apa, kok, nyantai aja”

Tidak ada kecocokan lagi diantara kita. Begitulah jawaban klise yang biasanya dilontarkan seseorang yang sudah bercerai saat ditanya tentang perceraian mereka. Tapi aku berusaha tak akan menanyakannya pada Tirai.

“Memang semuanya terlalu singkat, Yash” kata Tirai tiba-tiba. “Seperti kebanyakan pasangan lainnya, kehidupan kami selepas menikah sangat bahagia. Dan dunia milik berdua itu nyata adanya…pada saat itu” Lanjutnya

“Boleh tahu kenapa semuanya bisa terjadi?” tanyaku akhirnya tak tahan menahan penasaran.

“Semuanya kandas karena sebuah komunikasi yang tak sejalan, prinsip rumah tangga dan intervensi keluarga (orangtua) yang begitu kentara. Pertama mulai dari konflik saat dia dikuliahkan orangtuanya, bukan mencarikan pekerjaan untuknya. Sebenarnya aku juga sudah mulai ada firasat kalau ini enggak akan bener. Apalagi, mertuaku tanpa minta persetujuan dariku langsung main kuliah. Mertuaku  memberi pilihan antara kerja atau kuliah. Awalnya aku  mau  kuliah,  tapi dipikir lagi…enggak ada salahnya kerja. Akhirnya itulah keputusan yang aku ambil. orangtuanya senang, mungkin karena menurut mereka bisa bantu buat uang kuliahnya Rasyan.”

“Aku kerja-dia kuliah. kami melakukan aktivitas kami masing-masing. Beberapa minggu masuk kuliah dia sedikit berubah, entah karena pergaulan atau apalah yang jelas ada perubahan sikap negatif yang signifikan yang seharusnya tidak dilakukan  oleh suami terhadap seorang istri. Dan terbukti dari sikapnya yang mulai menjauh dari hari ke hari. Entahlah,  Mungkin bosan atau jenuh. Hal yang semakin membuat aku bertanya-tanya karena dia keseringan menyendiri baik sedang chatting via sms atau pun Facebook. Aku berusaha bertanya pada Rasyan barangkali aku punya salah. Aku mencoba mendekatinya dengan komunikasi yang intens, tapi tak ada tanggapan yang masuk akal. Bila pun aku memulai mencairkan suasana, sebuah anggukan dan kata ‘ya-tidak’ adalah sebuah pernyataan yang tepat baginya.”

“Maaf, aku memotong. Aku masih belum mengerti kenapa Rasyan kuliah bukan kerja?” tanyaku.

“sudah kubilang tadi, orang tuanya saklek menguliahkan dia dan menyuruhku bekerja. Dan in yang aku benci dari Rasyan adalah  tak punya sikap tegas sebagai suami. Jujur aja, Yash, antara aku, mertua dan orang tuaku tak punya hubungan baik.”

“Jadi, dulu siapa yang memutuskan agar kalian segera menikah?” tanyaku lagi

“kakek dan nenekku. Tentunya dengan persetujuan orangtua. Kautahulah gimana kondisi kita saat itu. Aku pun sempat  bimbang karena terlampau muda untuk menikah. Apalagi Rasyan, kedewasaannya tak selebat janggutnya”

Aku hanya mengangguk.

“Bisa kaubayangkan betapa sakitnya bila istri bekerja dan suami seperti tak punya beban hidup sedikit pun. Waktu itu Aku kerja di sebuah perusahaan sebagai Akuntan di pabrik tekstil. Tak ada permasalahan dalam pekerjaanku. Masalahnya hanyalah di rumah. Rasyan sudah jarang menginap di rumah. Saat kutanya mengapa tidak pulang, dia mengaku menginap di rumah teman untuk mengerjakan beberapa tugas. Aku percaya. Tapi seringnya menginap di rumah orang lain tanpa pemberitahuan kepada istri menimbulkan kecurigaan. Aku sudah berusaha untuk terbuka ke pada Rasyan tentang pekerjaanku, namun sebaliknya dia tak pernah sekali pun menceritakan apapun tentang aktivitasnya. Jika awal bulan,  hanya gaji kerja yang Rasyan tanyakan. Bahkan Untuk memenuhi ‘kepuasan’ pribadinya pun tanpa ramah tamah terlebih dahulu”

“Aku sering menangis, bahkan aku pernah diusir jam 1 Dini hari karena tangisanku menggangunya. aku tak bisa menahan kecurigaanku, saat Rasyan tertidur aku selalu membuka inbox-outbox smsnya. Sudah kosong. Sebenarnya aku berusaha untuk menghindari kecurigaan ini, namun selalu tak berhasil karena sikapnya yang makin menjadi dengan berbuat kasar terhadapku. Aku sempat menanyakan secara terang-terangan apakah Rasyan sedang menyukai perempuan lain. Namun jawabannya amat tak pantas bagi seorang pemimpin rumah tangga, ‘wajarlah aku suka sama cewek, berarti masih normal ‘kan?’ jawabanya yang sangat menyakitkanku”

“Puncaknya di malam Idul Adha, saat dia berhasil menamparku, aku kabur ke rumah orang tuaku. Alih-alih dia menjemput, malah membawa seorang perempuan dan tidur bersama di tempat aku dan Rasyan sering tidur”

Gila! Separah itu tingkah laku Rasyan?

“Dari mana kamu tahu Rasyan membawa seorang perempuan?” Tanyaku.

“Ada seorang temannya, entah iba atau kasihan, yang memberitahukan lewat Direct message Facebook bahwa Rasyan tadi mengajak salahsatu temanya ke rumah kontrakan kami. Walaupun jauh dari Nagreg menuju Rancaekek, Aku bergegas melajukan motor matic menuju tempat tinggal kami untuk membuktikan kabar tak sedap itu. ”

Dia menghela nafas. Ceritanya sedikit membuatku bergidik.

“setelah sampai, nampak motor Rasyan yang di parkir di luar. Sepuluh langkah menuju rumah aku sengaja mematikan motor dan mendorongnya.  Aku mengetuk pintu dengan lembut. Dia membuka pintu bertelanjang dada dan hanya memakai sarung. Rasyan terkejut. tanpa menghiraukannya aku masuk dan dia pun sempat menahan langkahku. Aku menuju kamar dan ternyata….”

Tirai menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan selembar tissue dari dalam tasnya. Aku masih menyeksamai apa yang dia ceritakan. Nada dering handphone Tirai berbunyi. Ia membuka sms dan membalasnya.

“Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku bilang pada Rasyan bahwa jika dia belum berubah, jangan salahkan aku jika aku pun berbuat hal yang sama. Aku pun mulai dekat dengan seseorang di perusahaan tempat bekerja karena sering curhat tentang rumah tanggaku yang di ujung tanduk. Salahku, cara ini awalnya hanya untuk membuat dia cemburu dan berharap dia berubah tapi ternyata dia menjadikan alasan ini untukk bercerai. Aku terjebak. Dan akhirnya kami bercerai. Beberapa bulan setelah bercerai teman curhatku dulu melamarku. Dia sayang padaku dan berjanji takkan mengikuti jejak mantan suamiku dulu.”

“Pelajaran berharga buatku, Rai.” Kataku

“Ya, Yash, bangunlah rumah tanggamu dengan saling setia dan percaya. Oya, jangan bilang siapa-siapa, ya?”

“Istriku, boleh?”

Dia mengangguk tersenyum.

“Aku turun di shelter ini, Yash. Salam, ya, Sama Istri” Dia beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.

Setelah berhenti di shelter, bus ini melanjutkan lagi perjalanannya. Entah berapa shelter lagi menuju terminal leuwi panjang. Masih terngiang apa yang Tirai ceritakan. Rasa rindu bertemu anak dan istri tiba-tiba kembali meletup. Aku berjanji untuk mencintai kalian selamanya.  

*)Gambar diambil dari Blogdetik.com 

 

 

 

kepuasan

Anak SD maupun TK pun sudah tahu perasaan macam apa saat kau mendapatkan sesuatu yang kau inginkan sudah tampak di depan mata. Aku tak menyangka sebuah benda yang telah lama kuidamkan ini akhirnya berada di tanganku. Memang sederhana, mungkin orang lain bisa mendapatkan yang lebih bagus, lebih mudah atau pun lebih canggih dari apa yang kupunya namun perjalanan panjang inilah yang tampaknya membuat fenomena hatiku terasa ramai. Tapi ya sudahlah, aku takkan membahas benda sederhana ini.

Apa yang telah kita dapat sebenarnya dalam kehidupan ini?

Adakalanya semua tentang kepuasan hati. Mendapatkan sesuatu belum tentu baik bagi kita. Saat seseorang melihat sebuah benda (barang) yang cukup menarik perhatian maka tak ayal memiliki adalah sebuah hal yang ingin diwujudkan. Sayangnya kita tak cukup kekuatan untuk mengatakan tidak terhadap sebagian hal yang tak terlalu dibutuhkan. Atau dengan kata lain seberapa penting benda tersebut dapat kita andalkan dalam kehidupan kita.

Setumpuk baju yang dibeli saat mata kita tertarik maka memunculkan pertanyaan “pentingkah untuk itu?” aku kira sebuah hal yang mesti cepat-cepat untuk dipikirkan. Sekiranya masih banyak, takusah belilah…

Tapi ini ‘kan tentang kepuasan hati….

kepuasan hati aku kira bukan “membutuh-butuhkan” sesuatu melainkan saat kau ingin memilikinya, kau takingin memilikinya walaupun kau mampu memilikinya. Itu sih pendapatku.

Bandung, 7 Agustus 2013

 

Sebuah Makna

                      kita akan lebih merasakan keberartian cinta saat kita menyadari bahwa kita sedang mengalami keberartian itu. kau punya orang tua tentunya. Posisi orang orang tua sangatlah berarti untuk anak-anak. Sebagai seorang anak, dapatkah kita merasakan posisi mereka. mungkin jawabannya bisa “ya” dan “tidak”.
                      Lebih tepatnya “ya” untukku yang saat ini menjadi orangtua. Anak mana yang tidak merepotkan orangtua walaupun orang tua merasa tidak direpotkan. Bahagia kehadiran anak-anaklah yang meniadakan segala keresahan, kelelahan dan rasa kesepian.
Dulu ketika aku masih kecil selain melengkapi kebahagiaan orangtua mungkin aku salah seorang yang membuat orangtuaku puyeng dengan sikapku. Diam untuk tidak melawan orangtua sangat sulit untuk kulakukan. Aku tidak tahu mengapa sikapku seperti itu. Tapi sepertinya orangtuaku juga yang salah menerapkan pendidikan. Ya, ibarat musuh besar dengan kedua orangtuaku. Makanya hingga usia dewasa aku sempat tak dekat dengan mereka. Apalagi untuk sekedar curhat-curhatan. Bisa kaubayangkan betapa berengseknya saat aku merobek baju-baju ayahku ketika perlakuannya yang menurutku (sebagai remaja yang labil) tidak mengenakan. Dan…aku pernah memukul ayahku. Itu Dulu.
                   Kini sekarang aku mengerti bagaimana orangtua selalu menghawatirkan hidup anak-anaknya. Memastikan nasib anaknya yang tidak ingin terjun pada kesusahan. Pendidikan, ekonomi dll. Dengan kata lain, orangtua rela memberikan hidup mereka untuk kehidupan anak-anak mereka. itulah yang membuat aku tersadar bahwa keberartian kehidupan mereka adalah sebuah keniscayaan.
Ada kejadian yang membuatku merasa “ditampar” hingga merenungi semua kesalahanku. Beberapa tahun yang lalu saat Ayahku bekerja di Palembang sebagai seorang kuli bangunan. Sebuah panggilan telepon dari pamanku mengaggetkanku.
Muf, Bapak ketabrak motor saat kerja. Sekarang Bapak sedang di rumah sakit” tiba-tiba segala keentahan apa yang merasukiku saat itu. Bumi seolah ingin membenturkan kepalaku. Setidaknya aku bukan Malin Kundang dengan keentahan itu “kakinya sedikit patah dan saat ini sedang di rumah sakit. Tapi kamu tidak usah khawatir. Mamang di sini merawatnya.”
“Apakah Si pengendara mau bertanggung jawab, Mang?” waktu itu aku berusaha memastikan bahwa masalah tidak akan terlalu menjadi masalah serius baik untuk Mang akbar ataupun ayahku.
ya, katanya dia mau bertanggung jawab sampai pengobatan selesai.” Terasa Kelegaan sedikit menjalar di dadaku. Setidaknya, Pamanku dan ayah akan tak terlalu memikirkan biaya pengobatan di sana.
“ya, makasih Mang. Kabari terus kondisinya.” Suaraku mungkin terdengar biasa di telepon. Walaupun Aku berusaha menahan airmata yang hendak jatuh di sudut mataku. Ingin menangis sejadinya dan mengadukan keresahan yang membobol habis hatiku. Tapi sempitnya ruang di sudut mataku tak mampu membendung harunya Kabar ini.
Dari kejadian itu aku mulai sadar bahwa segalanya belum terlambat. Cinta orangtua takkan pernah terganti. i love you, Dad. i love you, Mom.

Bogor, 21 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Jejak dan Waktu

waktu Setelah beberapa Minggu , surat dari ayah menanti di depan pintu. Aku memungutnya dan masuk ke kamar. Kembali duduk di atas kasur yang selama dua hari ini kutinggalkan dan meletakan Tas Ransel di sisiku. Perlahan mengatupkan mata dan helaan nafas membuat bayangan taman eidelweiss kembali terpotret dalam ingatanku. Surat itu kubuka.

Hujan lebat..

Ayyash, kita berjalan di dalam waktu. Dia tak pernah luput mengikuti langkah selama nafas berhembus. Dan waktu pun melaju dengan sendirinya tanpa menghiraukan siapa yang hawatir terhadanya. Maka, berdiam diri bukanlah suatu hal yang baik yang harus kamu lakukan.

Apakah kamu pernah mendengar Aristotle berkata bahwa tiadalah waktu hadir  kecuali untuk perubahan. Bahkan Cooper menjelaskan bahwa kata change (perubahan)  berasal dari bahasa inggris kuno yang berarti “untuk menjadi”. Ini saatnya kita bertanya, mau menjadi apa diri kita?

Saat kecil, kamu pernah menginginkan mejadi Dokter. Tak lama kemudian kamu ingin jadi Presiden sekaligus Astronot. Seiring bertambah dewasa, keinginan itu lambat laun berubah drastis. Hingga akhirnya kamu menemukan apa yang terbaik untukmu.  Oh, ya bagaimana rencanamu pergi ke Tibet? Semoga tak sesulit yang kamu bayangkan.

Memang kita memerlukan sebuah perjalanan untuk energi baru. Kita memerlukan gizi dengan menemukan sesuatu hal yang baru dari sebuah perjalanan. Beberapa hikmah mungkin tak sengaja akan kautemui dan selanjutnya akan menjadi energi positif untukmu.

Ada yang menarik saat kita melangkah dalam kehidupan ini, Ayyash: membantu orang untuk menemui jatidirinya. Ajarkan kepada mereka yang belum mengetahui siapa diri mereka. Beritahu orang di sekelilingmu bahwa ada kekuatan besar yang masih tersimpan. Kabarkan bahwa di ujung sana ada sebuah taman indah untuk orang-orang yang senantiasa melakukan perubahan untuk dirinya dan orang lain.

Namun peringatkan pula, sebelum sampai pada Taman itu ada sebuah batu besar yang menghalangi. Tak usah khawatir, kaubisa menemukan jalannya sendiri saat keberanianmu muncul. Jika keberanianmu lebih besar daripada batu itu, maka tunggulah kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan.

Terakhir, rebutlah hari kemarin dengan kebaikan hari ini. Dan buatlah hari  esok lebih baik dari hari

*Gambar dari sini

Kasak-Kusuk Hati

 Sore hari di Jembatan Cikeas..

            Beberapa anak menceburkan dirinya ke sungai setinggi satu meter setengah. Tiga anak lainnya ikut tergiur. Sejurus kemudian, membuka baju dengan tergesa. Berbaur dengan kecerian bagi anak-anak adalah sebuah kehidupan. Tigapuluh meter di belakang  pemandangan itu, pasar apung yang baru selesai  dengan megah tak terlalu berpengaruh bagi mereka. Aku masih berdiri di tengah jembatan menyaksikan betapa mereka seolah hidup tanpa beban.

Kecemasan macam apakah yang aku rasakan saat ini? Ketidakmenentuan tentang sebuah rasa ini hinggap begitu saja dan berlanjut  menjadi endapan ketakutan.  Ah, ayah-ibu andaikan aku bisa bertatap muka setiap hari dengan kalian tentu aku takkan segila ini memikirkan tentang gadis itu. Sebenarnya tidak ada yang susah jika aku mau menghubungi  mereka via telp, sayangnya mereka akan menanggapi kabar atau sekedar curahan hatiku saat aku rindu kecuali dengan sepucuk surat.  “surat adalah sejarah.  Surat kami adalah Sejarah yang hingga kini engkau ada”.  Kata mereka. Aku mengangkat bahu.

Apakah dia akan menjadi pasangan hidupku?  Tuhan pertanyaan macam apakah ini. aku yakin  bahwa takdir cinta akan tiba dengan penuh gairah padaku.

Aku sempat berpikir dan memberitahukan ke pada ayah bahwa seandainya jodoh itu ada rambunya seperti lalu lintas, mungkin aku tahu apakah gadis itu pantas untuk aku tunggu atau melaju meninggalkannya.  Ayah mematahkan yang aku pikirkan. “terlalu mudah bagi seorang yang kuat seperti kau. Ayyash, Kau sedang mengalami ketakutan”, Kata ayah yang masih terngiang memecahkan gendang telingaku.

Aku takut? Mungkin, iya. Walaupun kata ayah dari ketakutan aku belajar bagaimana melahirkan sebuah keberanian. Ketakutan bukanlah seekor singa yang mesti lari saat menemuinya. Ketakutan adalah kuda dan aku kesatrianya. Namun, tidak mudah menghilangkan ketakutan itu.Jika saja ayah di hadapanku mungkin dia akan mengetukan telunjuknya di dadaku. Permasalahan ini menurutnya hanyalah sebagian kecil ketakutan untuk dihadapi di masa muda ini.

Tapi ayah, maaf aku tidak bermaksud mematahkan pendapatmu, mungkin kau sendiri pernah merasakan bagaimana cinta bisa mengusik pikiran kita. betapa tidak, saat cinta tiba, bayang-bayang untuk membuat kenangan kerap datang hingga  rasa tenang mulai menggelinang, namun sayang, sejurus kemudian, rasa takut dan cemas mengusik ketenangan itu.

Aku takut bila takdir tak berpihak pada rasa ini. wajarkan? Manusia mana yang ingin ditinggalkan oleh kekasih hatinya. Walaupun maut yang memisahkan, tetap saja kita merasa masygul ke pada takdir.

ketakutan untuk sendiri akan menghampiri siapa saja. Makanya, aku tak percaya orang-orang yang berusaha memendam dulu rasa ini untuk kepentingan karir, pendidikan, kepengen sendiri dulu  atau urusan apalah, yang akhirnya mereka terjebak dengan kesendirian itu.

Wahai ayah-ibu, wahai cinta, wahai nafas kehidupan, mau atau tidak maka aku harus membuat cinta ini tak menghancurkanku.  Dari berbagai sisi aku akan coba merangkai  bingkai yang masih tercecer. Tentang ruas jari siapa yang akan mengisi kekosongan ini. Tentang rindu yang tak tahu ke mana ia berlabuh, tentang ketakutan yang masih mengikuti.  Semuanya memang tak bisa dinikmati kecuali dengan Kepasrahan.

Bandung, 12-12-12

Berjanjilah Untuk Setia…

berjanji untuk setia

Masih kertas yang sama:  Dari Ayah untuk Ayyash

Ayyash, sepertinya Tuhan akan menyelamatkan orang yang setia terhadap janjinya. Selama apa pun janji itu belum terlaksana, namun kesabaran adalah sebuah investasi dalam masa pelunasan janji itu. Kecuali kau sendiri yang mengabaikan janji tersebut.

Ayyash, janji setia untuk hidup bersama pasangan adalah keharusan yang mesti engkau wujudkan sampai nanti. Setiap orang punya ketakutan berbeda dalam menjalani kehidupannya. Pun Beribu pertanyaan akan hinggap di setiap kepala dari setiap fase. Sebelum Ayah memutuskan menikah dengan ibumu, ketakutan Ayah terhadap pasangan hidup begitu kentara. Ayah berpikir, apakah suatu hari nanti Ayah akan mendapatkan  pasangan hidup atau tidak. Selepas mendapat pasangan hidup, ketakutan lain muncul secara bergantian, takut tidak mempunyai anak dan seterusnya. Namun, ketakutan itu hanya akan  membuat langkah terhenti. Dari semua ketakutan itu, ayah berjanji akan selalu bersama ibumu sampai maut memisahkan. Mendobrak segala ketakutan itu dengan janji setia untuk bersama.

Ayyash, berjanjilah untuk janji setia bagaimana pun keadaanya nanti, suka atau tidak dengan takdir yang menimpamu dan pasangan hidupmu.

Berjanjilah untuk janji setia karena sesakit apapun takdir yang engkau jalani akan terasa indah menjalani kehidupan dengan kebersamaan. Ikhlashlah untuk janji setia, supaya engkau tak merasakan berat terhadap janjimu itu. Karena Tuhan Maha Menepati janji, maka Dia akan selalu bersama orang yang selalu menepati janji.

*Gambar diambil dari mediaislamnet.com

–Bandung, 19 November 2012–

 

Tuli sejenak..

Hidup di atas pendapat orang itu tidak selalu benar dan menguntungkan. Apalagi saat penilaian negatif terlontar. Sebagai contoh kecil, Aku teringat saat hendak terjun dalam dunia skripsi. Sebelumnya bayangan tentang skripsi sungguh menakutkan karena melebihi tokoh-tokoh hantu yang ada di beberapa film horor Indonesia. Sejurus ditambah dengan beberapa pandangan yang entah dasar apa mereka mengatakannya. Mungkin ada hubungannya dengan gelar standby student yang aku dapatkan dari seorang dosen.

“Wah, kayaknya kamu bakal telat nih kayak temanmu itu” ungkap seorang badan administratif kampus. sama halnya dengan seorang adik kelas yang berkata demikian. Aku menanggapi hanya dengan senyuman. Liat saja nanti! Batin aku waktu itu.

Ada dua cara dalam menanggapi pendapat negatif orang, kata sahabatku:  Pertama, Mematahkan pendapat. Jika saja pandangan negatif orang tidak sesuai dengan kenyataan, maka salah satu cara dengan mematahkan pendapat itu dengan cara bisa membiarkannya berlalu begitu saja dan membuktikannya dengan perilaku baik bahwa apa yang dipandang negatif itu tidaklah benar. Kedua, mengikuti pendapat itu dan larut di dalamnya. Barangkali ini yang kadang membuat sebagian orang mandeg dan tidak PD berbuat sesuatu karena terus hidup dalam beberapa pednapat orang.

Ada sebuah cerita tentang seekor katak tuli yang begitu menginspirasiku. Suatu hari empat ekor katak sedang bermain-main. Mereka saling kejar dengan berlompat-lompatan riang. Seekor katak kecil bersembunyi di semak-semak ingin ikut bergabung. Si katak kecil senang dan ikut walaupun tidak kenal dengan katak-katak itu.

“Tolong, tolong!”

Tak lama tiba-tiba beberapa ekor katak dikagetkan dengan teriakan itu. Ada seekor katak yang terjerembab  masuk ke dalam lubang sangat dalam. Ternyata pada saat lompatan melewati lubang dalam itu si Katak yang berada di belakang kalah melompat tinggi dengan teman-temannya  .

“wah, lubangnya dalam  sekali” kata seekor katak yang melihat siluet lubang itu. Si Katak kecil yang ada di lubang hanya berlompat-lompat ingin mengeluarkan diri dari jebakan.

“Sudahlah, engkau takkan bisa melewati lubang yang dalam ini” kata seekor katak lain.

“Iya, lubang ini sangat dalam”.

Si katak kecil hanya melompat-lompat. Beberapa katak di atas sana merasa kasihan namun apa daya mereka tidak bisa karena sama saja menjemput kematian mereka. Akhirnya dengan tega mereka memutuskan untuk meninggalkan katak itu. Saat beberapa lompatan meninggalkan mulut lubang, beberapa katak dikagetkan yang kedua kalinya oleh teriakan katak kecil itu.

“Horee aku bisa. Terimakasih ya teman-teman. Dari tadi kalian kau memberiku semangat” si katak kecil berujar dengan riang. Beberapa katak heran dengan jawaban-jawaban yang tak selalu nyambung denga pertanyaan. Dan ternyata si katak itu tuli.

Begitulah, Dalam hal ini adakalanya kita harus tuli terhadap pendapat yang bisa melumpuhkan gerak kita, Ayyash.

-Bandung, 15 November 2012-

Jeli sejenak

 

gambar diambil dari rendyanggara.wordpress.com

Sepucuk surat yang kunantikan sudah tiba. Walaupun saat ini mudah untuk  mengirim pesan via email dalam hitungan detik, namun tulisan tangan Ayah adalah energi yang serta merta membuang semua keluhku. Aku membukanya perlahan.  Rasa rindu akan energi tulisannya sudah bergumul setip saat.

Ayyash, aku selalu berdoa untuk kebaikanmu. Maka  aku yakin bahwa kau sedang baik-baik dan harus baik-baik walaupun (jika ada) satu haru yang kau sembunyikan.

Ayyash, pernakah kau tahu ada sesuatu di sekeliling kita yang begitu banyak orang mencarinya? Banyak orang mendambakannya? Banyak orang rela membuang rasa malunya demi mendapatkan sesuatu berharga itu? Tahukah kau apa itu?

Uang? Bisa jadi. Tapi bukan segalanya. Jabatan? Mungkin Iya. Tapi terlalu sempit jika hidup hanya untuk mengejarnya. Wanita? Mungkin aku setuju. tapi itu pun bukan yang kita tuju. Aku akan menceritakan suatu kisah tentang seekor lumba-lumba kecil padamu.

Di sebuah laut lepas, hidup seekor lumba-lumba kecil yang tak punya keluarga. Ayah-ibu Si lumba-lumba kecil sudah tiada. Walaupun  lumba-lumba kecil  sempat iri dengan beberapa keluarga lengkap lainnya, namun Ia percaya bahwa tidak semata-mata dewa laut menakdirkannya hidup tanpa ayah dan ibunya, kecuali akan ada takdir baik yang menyapanya.  Si lumba-lumba kecil belajar mengarungi hidup dengan banyak belajar kepada ikan-ikan di sekelilingnya tentang mempertahankan hidup.

Suatu hari ketika sedang mencari makan, secara tak sengaja Ia mendengar beberapa ekor paus yang berbincang mengenai air. Air sebagai kehidupan dan kebahagiaan semua ikan.

“Air?” si lumba-lumba kecil penuh tanya. Karena sepanjang hidup, kata “aIr” baru Ia dengar saat ini. Si lumba-lumba kecil tidak lantas  menanyakan lebih lanjut tentang air. Sejurus kemudian  Ia melanjutkan mencari makan.

Selama perjalanannya, kata air begitu lekat dalam benaknya.

“Air, air, air. Ikan seperti apakah air itu” pertanyaan itu kini mulai meluapNamun apa daya, Ia tak berani menanyakan lagi kepada si paus yang mengerikan itu. Maka Ia memtuskan untuk bertanya pada ikan-ikan yang Ia temui.

“apakah kau tahu air?” tanyanya ke pada seeokor ikan Tuna.

“candaan yang tak lucu” Jawab ikan itu sambil berlalu.Si lumba-lumba kecil hendak menyusul, namun Ia urung karena mungkin Ia bisa mendapatkan jawaban dari ikan lainnya.

Sayangnya, Si lumba-lumba kecil  tak mendapatkan jawaban yang pasti Sepanjang bertemu dengan beberapa ikan. Rasa penasaran makin bergumul di dadanya. Ada satu ikan yang memberitahu jika Ia ingin jawaban yang pasti, yaitu  bertemu dengan seekor ikan bijak di sebelah selatan samudera dan jarak dari tempatnya kini cukup jauh.

Dengan penuh keberanian maka Ia putuskan untuk   mencari si ikan bijak itu.

Kubuka lembaran kedua.

Berpuluh-puluh kilometer Ia arungi samudera. Itu pun tak mudah. Bahaya mengancam setIap perjalanan. Namun Ia hadapi dengan penuh keberanian dan keyakinan. Sampai akhirnya Ia bisa menemukan si ikan bijak itu.

“Apa yang kau inginkanlumba-lumba kecil?” si ikan bijak itu ternyata sudah tua.

“Aku ingin mencari di mana air itu berada. Yang kata semua ikan adalah sumber kehidupan kita?” jawab si lumba-lumba.

Si ikan bijak  tertawa terbahak. Lalu secara tiba-tiba menghentikan tawanya. “Benar kau ingin tahu?”

“Berpuluh kilometer aku menemuimu untuk mendapatkan jawaban itu”

“Baiklah. Perhatikan baik-baik. Apakah kau menyadari kau hidup karena apa?”

“aku…aku karena laut.”

Ikan bijak itu tertawa lebih lepas. “Bodoh! Laut hanyalah tempat kau berpijak wahai lumba-lumba kecil. Air yang kau cari adalah yang kau hirup selama ini. Air yang kau tanyakan adalah yang membuatmu bisa bertanya padaku dan bertemu denganku sampai saat ini.”

Awalnya si lumba-lumba kecil tak percaya. Namun Ia teringat pesan ikan yang Ia temui bahwa apa yang dikatakan si ikan bijak harus Ia percayai. Si lumba-lumba kecil sesaat tertunduk. Lalu Ia menyeringai ke arah si ikan bijak.

“Terimakasih ikan bijak atas jawabanmu.” Ia  hendak pulang walau belum puas dengan jawabannya.

“lumba-lumba keci!l” Ia tertahan oleh suara panggilan. “Sumber kehidupanmu ada di sekelilingmu. Jelilah, maka kau akan bahagia”. Si ikan bijak tersenyum. Si lumba-lumba pun kembali pulang menjemput kebahagIaan yang Ia dambakan.

Ku kira sudah habis. Ada sisa satu lembar lagi yang tertinggal di dalam amplop.

Ayyash, sebenarnya kebahagian itu ada di sekelilingmu. Orang-orang di sekitarmu adalah sumber kebahagiaan. Materi bukanlah tolak ukur kau meraihnya. Membahagiakan saat kau sedang berduka adalah mulia. Walaupun hanya dengan senyum. Jika hal yang kecil saja bisa membuat orang di sekelilingmu bahagia, maka Tuhan pun akan memberimu sesuatu yang berlimpah melebihi senyum yang kau berikan.

Ayyash, apa yang kau tanam adalah apa yang kau tunai. Bersegeralah menanam sesuatu yang bisa membuatmu bahagia kelak.

Ada yang mengalir di sudut mataku. Terima kasih ayah. Aku akan menjemput kebahagiaan itu. Aku masih ingin merindui catatan-catatanmu. Tuhan, terimaksih. Kau memberi aku hati agar aku tidak mati.

-Bogor, 9 November 2012-

 

 

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa