Jejak dan Waktu

waktu Setelah beberapa Minggu , surat dari ayah menanti di depan pintu. Aku memungutnya dan masuk ke kamar. Kembali duduk di atas kasur yang selama dua hari ini kutinggalkan dan meletakan Tas Ransel di sisiku. Perlahan mengatupkan mata dan helaan nafas membuat bayangan taman eidelweiss kembali terpotret dalam ingatanku. Surat itu kubuka.

Hujan lebat..

Ayyash, kita berjalan di dalam waktu. Dia tak pernah luput mengikuti langkah selama nafas berhembus. Dan waktu pun melaju dengan sendirinya tanpa menghiraukan siapa yang hawatir terhadanya. Maka, berdiam diri bukanlah suatu hal yang baik yang harus kamu lakukan.

Apakah kamu pernah mendengar Aristotle berkata bahwa tiadalah waktu hadir  kecuali untuk perubahan. Bahkan Cooper menjelaskan bahwa kata change (perubahan)  berasal dari bahasa inggris kuno yang berarti “untuk menjadi”. Ini saatnya kita bertanya, mau menjadi apa diri kita?

Saat kecil, kamu pernah menginginkan mejadi Dokter. Tak lama kemudian kamu ingin jadi Presiden sekaligus Astronot. Seiring bertambah dewasa, keinginan itu lambat laun berubah drastis. Hingga akhirnya kamu menemukan apa yang terbaik untukmu.  Oh, ya bagaimana rencanamu pergi ke Tibet? Semoga tak sesulit yang kamu bayangkan.

Memang kita memerlukan sebuah perjalanan untuk energi baru. Kita memerlukan gizi dengan menemukan sesuatu hal yang baru dari sebuah perjalanan. Beberapa hikmah mungkin tak sengaja akan kautemui dan selanjutnya akan menjadi energi positif untukmu.

Ada yang menarik saat kita melangkah dalam kehidupan ini, Ayyash: membantu orang untuk menemui jatidirinya. Ajarkan kepada mereka yang belum mengetahui siapa diri mereka. Beritahu orang di sekelilingmu bahwa ada kekuatan besar yang masih tersimpan. Kabarkan bahwa di ujung sana ada sebuah taman indah untuk orang-orang yang senantiasa melakukan perubahan untuk dirinya dan orang lain.

Namun peringatkan pula, sebelum sampai pada Taman itu ada sebuah batu besar yang menghalangi. Tak usah khawatir, kaubisa menemukan jalannya sendiri saat keberanianmu muncul. Jika keberanianmu lebih besar daripada batu itu, maka tunggulah kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan.

Terakhir, rebutlah hari kemarin dengan kebaikan hari ini. Dan buatlah hari  esok lebih baik dari hari

*Gambar dari sini

Iklan

Kasak-Kusuk Hati

 Sore hari di Jembatan Cikeas..

            Beberapa anak menceburkan dirinya ke sungai setinggi satu meter setengah. Tiga anak lainnya ikut tergiur. Sejurus kemudian, membuka baju dengan tergesa. Berbaur dengan kecerian bagi anak-anak adalah sebuah kehidupan. Tigapuluh meter di belakang  pemandangan itu, pasar apung yang baru selesai  dengan megah tak terlalu berpengaruh bagi mereka. Aku masih berdiri di tengah jembatan menyaksikan betapa mereka seolah hidup tanpa beban.

Kecemasan macam apakah yang aku rasakan saat ini? Ketidakmenentuan tentang sebuah rasa ini hinggap begitu saja dan berlanjut  menjadi endapan ketakutan.  Ah, ayah-ibu andaikan aku bisa bertatap muka setiap hari dengan kalian tentu aku takkan segila ini memikirkan tentang gadis itu. Sebenarnya tidak ada yang susah jika aku mau menghubungi  mereka via telp, sayangnya mereka akan menanggapi kabar atau sekedar curahan hatiku saat aku rindu kecuali dengan sepucuk surat.  “surat adalah sejarah.  Surat kami adalah Sejarah yang hingga kini engkau ada”.  Kata mereka. Aku mengangkat bahu.

Apakah dia akan menjadi pasangan hidupku?  Tuhan pertanyaan macam apakah ini. aku yakin  bahwa takdir cinta akan tiba dengan penuh gairah padaku.

Aku sempat berpikir dan memberitahukan ke pada ayah bahwa seandainya jodoh itu ada rambunya seperti lalu lintas, mungkin aku tahu apakah gadis itu pantas untuk aku tunggu atau melaju meninggalkannya.  Ayah mematahkan yang aku pikirkan. “terlalu mudah bagi seorang yang kuat seperti kau. Ayyash, Kau sedang mengalami ketakutan”, Kata ayah yang masih terngiang memecahkan gendang telingaku.

Aku takut? Mungkin, iya. Walaupun kata ayah dari ketakutan aku belajar bagaimana melahirkan sebuah keberanian. Ketakutan bukanlah seekor singa yang mesti lari saat menemuinya. Ketakutan adalah kuda dan aku kesatrianya. Namun, tidak mudah menghilangkan ketakutan itu.Jika saja ayah di hadapanku mungkin dia akan mengetukan telunjuknya di dadaku. Permasalahan ini menurutnya hanyalah sebagian kecil ketakutan untuk dihadapi di masa muda ini.

Tapi ayah, maaf aku tidak bermaksud mematahkan pendapatmu, mungkin kau sendiri pernah merasakan bagaimana cinta bisa mengusik pikiran kita. betapa tidak, saat cinta tiba, bayang-bayang untuk membuat kenangan kerap datang hingga  rasa tenang mulai menggelinang, namun sayang, sejurus kemudian, rasa takut dan cemas mengusik ketenangan itu.

Aku takut bila takdir tak berpihak pada rasa ini. wajarkan? Manusia mana yang ingin ditinggalkan oleh kekasih hatinya. Walaupun maut yang memisahkan, tetap saja kita merasa masygul ke pada takdir.

ketakutan untuk sendiri akan menghampiri siapa saja. Makanya, aku tak percaya orang-orang yang berusaha memendam dulu rasa ini untuk kepentingan karir, pendidikan, kepengen sendiri dulu  atau urusan apalah, yang akhirnya mereka terjebak dengan kesendirian itu.

Wahai ayah-ibu, wahai cinta, wahai nafas kehidupan, mau atau tidak maka aku harus membuat cinta ini tak menghancurkanku.  Dari berbagai sisi aku akan coba merangkai  bingkai yang masih tercecer. Tentang ruas jari siapa yang akan mengisi kekosongan ini. Tentang rindu yang tak tahu ke mana ia berlabuh, tentang ketakutan yang masih mengikuti.  Semuanya memang tak bisa dinikmati kecuali dengan Kepasrahan.

Bandung, 12-12-12

Berjanjilah Untuk Setia…

berjanji untuk setia

Masih kertas yang sama:  Dari Ayah untuk Ayyash

Ayyash, sepertinya Tuhan akan menyelamatkan orang yang setia terhadap janjinya. Selama apa pun janji itu belum terlaksana, namun kesabaran adalah sebuah investasi dalam masa pelunasan janji itu. Kecuali kau sendiri yang mengabaikan janji tersebut.

Ayyash, janji setia untuk hidup bersama pasangan adalah keharusan yang mesti engkau wujudkan sampai nanti. Setiap orang punya ketakutan berbeda dalam menjalani kehidupannya. Pun Beribu pertanyaan akan hinggap di setiap kepala dari setiap fase. Sebelum Ayah memutuskan menikah dengan ibumu, ketakutan Ayah terhadap pasangan hidup begitu kentara. Ayah berpikir, apakah suatu hari nanti Ayah akan mendapatkan  pasangan hidup atau tidak. Selepas mendapat pasangan hidup, ketakutan lain muncul secara bergantian, takut tidak mempunyai anak dan seterusnya. Namun, ketakutan itu hanya akan  membuat langkah terhenti. Dari semua ketakutan itu, ayah berjanji akan selalu bersama ibumu sampai maut memisahkan. Mendobrak segala ketakutan itu dengan janji setia untuk bersama.

Ayyash, berjanjilah untuk janji setia bagaimana pun keadaanya nanti, suka atau tidak dengan takdir yang menimpamu dan pasangan hidupmu.

Berjanjilah untuk janji setia karena sesakit apapun takdir yang engkau jalani akan terasa indah menjalani kehidupan dengan kebersamaan. Ikhlashlah untuk janji setia, supaya engkau tak merasakan berat terhadap janjimu itu. Karena Tuhan Maha Menepati janji, maka Dia akan selalu bersama orang yang selalu menepati janji.

*Gambar diambil dari mediaislamnet.com

–Bandung, 19 November 2012–

 

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

Ayumie blog

Aku bukanlah penulis, aku hanya merangkai kata-kata yang ber-kerumun di kepalaku.

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa