kepuasan

Anak SD maupun TK pun sudah tahu perasaan macam apa saat kau mendapatkan sesuatu yang kau inginkan sudah tampak di depan mata. Aku tak menyangka sebuah benda yang telah lama kuidamkan ini akhirnya berada di tanganku. Memang sederhana, mungkin orang lain bisa mendapatkan yang lebih bagus, lebih mudah atau pun lebih canggih dari apa yang kupunya namun perjalanan panjang inilah yang tampaknya membuat fenomena hatiku terasa ramai. Tapi ya sudahlah, aku takkan membahas benda sederhana ini.

Apa yang telah kita dapat sebenarnya dalam kehidupan ini?

Adakalanya semua tentang kepuasan hati. Mendapatkan sesuatu belum tentu baik bagi kita. Saat seseorang melihat sebuah benda (barang) yang cukup menarik perhatian maka tak ayal memiliki adalah sebuah hal yang ingin diwujudkan. Sayangnya kita tak cukup kekuatan untuk mengatakan tidak terhadap sebagian hal yang tak terlalu dibutuhkan. Atau dengan kata lain seberapa penting benda tersebut dapat kita andalkan dalam kehidupan kita.

Setumpuk baju yang dibeli saat mata kita tertarik maka memunculkan pertanyaan “pentingkah untuk itu?” aku kira sebuah hal yang mesti cepat-cepat untuk dipikirkan. Sekiranya masih banyak, takusah belilah…

Tapi ini ‘kan tentang kepuasan hati….

kepuasan hati aku kira bukan “membutuh-butuhkan” sesuatu melainkan saat kau ingin memilikinya, kau takingin memilikinya walaupun kau mampu memilikinya. Itu sih pendapatku.

Bandung, 7 Agustus 2013

 

Iklan

Dari tangan penuh cinta

“Ada kepuasan batin yang tak bisa dielakkan dari kehidupan rumah tangga. mungkin ini bukan perkara yang menakjubkan tapi ada sisi kebanggaan (kebahagiaan)  yang muncul setelah kau merasakannya.”

“Apa itu, Ren?”

“Masakan.”

Aku menatapnya tajam.

“Tentunya masakan istri.” Jelasnya.

Dia bergiliran menatap kami. Seorang pelayan baru tiba membawa  tiga cangkir latte dan meletakan di  depan kami. kedai kopi  ini cukup menyejukan mata dan pikiran karena konsep ruangannya disetting sedemikian rupa untuk  meeting dan acara-acara tertentu. Termasuk sekedar nongkrong.

“Hal yang paling dinanti olehku adalah masakan istri.  Hasil jerih tangannya adalah sumber kebahagian yang selalu dirindukan baik aku maupun anak-anakku. Kau tahu keseharianku penuh dengan kesibukan. Dan jika aku pulang tentu ada hal yang selalu kuharapkan; tersedianya beberapa makanan yang sudah siap untuk kami santap. Makan bersama dan mendiskusikan menu untuk esok harinya. Kadang aku tak bisa menahan untuk bercerita saat makan. Tapi momen-momen itulah yang membuatku selalu rindu. Apalagi sekarang ada new member di keluarga kami. Menambah kesan bahwa kebahagiaan itu ternyata bukan hanya rumah yang besar, pendidikan tinggi dan memiliki banyak kendaraan. Kebahagian dan kebanggaan itu adalah kebersamaan di mana aku saling berbagi bersama keluarga. Kebahagian dan kebanggaan itu saat semua beban terasa ringan utnuk hadapi. Kebahagian dan kebanggaan itu saat aku merasakan hasil masakannya.”

Aku mencium aroma latte itu sebelum mencicipi rasanya. Seorang perempuan di sebelahku juga melakukan hal yang sama.

“Aku tidak bisa masak,” tiba-tiba perempuan di sebelahku berujar.

“Dulu istriku tidak bisa masak. Bahkan aku kerap masygul jika dia membeli masakan yang sudah siap saji. Pasalnya dia takut bahwa masakannya tidak enak untuk aku cicipi. ‘Bukan perkara enak atau tidak enaknya masakanmu, sayang. Walaupun hanya nasi goreng yang hanya berbumbu garam akan ku lahap karena kau sudah membahagiakanku dengan masakanmu’. Ungkapku suatu hari padanya. Sejak saat itu dia tidak pernah membeli lagi masakan siap saji. Walaupun dia takut aku tidak memakannya.”

Aku tersenyum. Inilah yang aku suka darinya.

“Hal yang sederhana namun bernilai.” Ujarku. Dia mengangguk. Perempuan di sebelahku menatap lurus keluar jendela.

“Lekas mulai untuk mengubah segalanya dari hal yang kecil. Mumpung masih ada waktu buat kita untuk sama-sama belajar. Berapa lama lagi kalian akan….”

“Kita sedang belajar,” potong perempuan di sebelahku. “Aku masih ingin belajar sebelum kami bersama mengarungi kehidupan yang baru.”

Aku mengusap muka. Menatap ke atas. Sudah paham tentang kondisinya, Ren hanya mengangguk.

Well, nampaknya aku tidak bisa berlama-lama di sini,” ungkanya selepas melihat jam tangan. “Salam untuk orang tua kalian.” Dia tersenyum sambil berlalu meninggalkan kami.

“Oiya,”  Dia menahan langkahnya lalu membalikan badan. “salah satu untuk membunuh ketakutan adalah menghadapi ketakutan itu sendiri”. Dia tersenyum seraya berlalu melambaikan tangan.

Kami bersitatap. Ada hal yang belum aku tuntaskan dengannya. Termasuk menghabiskan latte yang ada di depanku.

-Bogor, 08 November 2012

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa