Sebuah Makna

                      kita akan lebih merasakan keberartian cinta saat kita menyadari bahwa kita sedang mengalami keberartian itu. kau punya orang tua tentunya. Posisi orang orang tua sangatlah berarti untuk anak-anak. Sebagai seorang anak, dapatkah kita merasakan posisi mereka. mungkin jawabannya bisa “ya” dan “tidak”.
                      Lebih tepatnya “ya” untukku yang saat ini menjadi orangtua. Anak mana yang tidak merepotkan orangtua walaupun orang tua merasa tidak direpotkan. Bahagia kehadiran anak-anaklah yang meniadakan segala keresahan, kelelahan dan rasa kesepian.
Dulu ketika aku masih kecil selain melengkapi kebahagiaan orangtua mungkin aku salah seorang yang membuat orangtuaku puyeng dengan sikapku. Diam untuk tidak melawan orangtua sangat sulit untuk kulakukan. Aku tidak tahu mengapa sikapku seperti itu. Tapi sepertinya orangtuaku juga yang salah menerapkan pendidikan. Ya, ibarat musuh besar dengan kedua orangtuaku. Makanya hingga usia dewasa aku sempat tak dekat dengan mereka. Apalagi untuk sekedar curhat-curhatan. Bisa kaubayangkan betapa berengseknya saat aku merobek baju-baju ayahku ketika perlakuannya yang menurutku (sebagai remaja yang labil) tidak mengenakan. Dan…aku pernah memukul ayahku. Itu Dulu.
                   Kini sekarang aku mengerti bagaimana orangtua selalu menghawatirkan hidup anak-anaknya. Memastikan nasib anaknya yang tidak ingin terjun pada kesusahan. Pendidikan, ekonomi dll. Dengan kata lain, orangtua rela memberikan hidup mereka untuk kehidupan anak-anak mereka. itulah yang membuat aku tersadar bahwa keberartian kehidupan mereka adalah sebuah keniscayaan.
Ada kejadian yang membuatku merasa “ditampar” hingga merenungi semua kesalahanku. Beberapa tahun yang lalu saat Ayahku bekerja di Palembang sebagai seorang kuli bangunan. Sebuah panggilan telepon dari pamanku mengaggetkanku.
Muf, Bapak ketabrak motor saat kerja. Sekarang Bapak sedang di rumah sakit” tiba-tiba segala keentahan apa yang merasukiku saat itu. Bumi seolah ingin membenturkan kepalaku. Setidaknya aku bukan Malin Kundang dengan keentahan itu “kakinya sedikit patah dan saat ini sedang di rumah sakit. Tapi kamu tidak usah khawatir. Mamang di sini merawatnya.”
“Apakah Si pengendara mau bertanggung jawab, Mang?” waktu itu aku berusaha memastikan bahwa masalah tidak akan terlalu menjadi masalah serius baik untuk Mang akbar ataupun ayahku.
ya, katanya dia mau bertanggung jawab sampai pengobatan selesai.” Terasa Kelegaan sedikit menjalar di dadaku. Setidaknya, Pamanku dan ayah akan tak terlalu memikirkan biaya pengobatan di sana.
“ya, makasih Mang. Kabari terus kondisinya.” Suaraku mungkin terdengar biasa di telepon. Walaupun Aku berusaha menahan airmata yang hendak jatuh di sudut mataku. Ingin menangis sejadinya dan mengadukan keresahan yang membobol habis hatiku. Tapi sempitnya ruang di sudut mataku tak mampu membendung harunya Kabar ini.
Dari kejadian itu aku mulai sadar bahwa segalanya belum terlambat. Cinta orangtua takkan pernah terganti. i love you, Dad. i love you, Mom.

Bogor, 21 April 2013

5ef0e00a71973c7a4066affc1e2802c8

Iklan
ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa