Kasak-Kusuk Hati

 Sore hari di Jembatan Cikeas..

            Beberapa anak menceburkan dirinya ke sungai setinggi satu meter setengah. Tiga anak lainnya ikut tergiur. Sejurus kemudian, membuka baju dengan tergesa. Berbaur dengan kecerian bagi anak-anak adalah sebuah kehidupan. Tigapuluh meter di belakang  pemandangan itu, pasar apung yang baru selesai  dengan megah tak terlalu berpengaruh bagi mereka. Aku masih berdiri di tengah jembatan menyaksikan betapa mereka seolah hidup tanpa beban.

Kecemasan macam apakah yang aku rasakan saat ini? Ketidakmenentuan tentang sebuah rasa ini hinggap begitu saja dan berlanjut  menjadi endapan ketakutan.  Ah, ayah-ibu andaikan aku bisa bertatap muka setiap hari dengan kalian tentu aku takkan segila ini memikirkan tentang gadis itu. Sebenarnya tidak ada yang susah jika aku mau menghubungi  mereka via telp, sayangnya mereka akan menanggapi kabar atau sekedar curahan hatiku saat aku rindu kecuali dengan sepucuk surat.  “surat adalah sejarah.  Surat kami adalah Sejarah yang hingga kini engkau ada”.  Kata mereka. Aku mengangkat bahu.

Apakah dia akan menjadi pasangan hidupku?  Tuhan pertanyaan macam apakah ini. aku yakin  bahwa takdir cinta akan tiba dengan penuh gairah padaku.

Aku sempat berpikir dan memberitahukan ke pada ayah bahwa seandainya jodoh itu ada rambunya seperti lalu lintas, mungkin aku tahu apakah gadis itu pantas untuk aku tunggu atau melaju meninggalkannya.  Ayah mematahkan yang aku pikirkan. “terlalu mudah bagi seorang yang kuat seperti kau. Ayyash, Kau sedang mengalami ketakutan”, Kata ayah yang masih terngiang memecahkan gendang telingaku.

Aku takut? Mungkin, iya. Walaupun kata ayah dari ketakutan aku belajar bagaimana melahirkan sebuah keberanian. Ketakutan bukanlah seekor singa yang mesti lari saat menemuinya. Ketakutan adalah kuda dan aku kesatrianya. Namun, tidak mudah menghilangkan ketakutan itu.Jika saja ayah di hadapanku mungkin dia akan mengetukan telunjuknya di dadaku. Permasalahan ini menurutnya hanyalah sebagian kecil ketakutan untuk dihadapi di masa muda ini.

Tapi ayah, maaf aku tidak bermaksud mematahkan pendapatmu, mungkin kau sendiri pernah merasakan bagaimana cinta bisa mengusik pikiran kita. betapa tidak, saat cinta tiba, bayang-bayang untuk membuat kenangan kerap datang hingga  rasa tenang mulai menggelinang, namun sayang, sejurus kemudian, rasa takut dan cemas mengusik ketenangan itu.

Aku takut bila takdir tak berpihak pada rasa ini. wajarkan? Manusia mana yang ingin ditinggalkan oleh kekasih hatinya. Walaupun maut yang memisahkan, tetap saja kita merasa masygul ke pada takdir.

ketakutan untuk sendiri akan menghampiri siapa saja. Makanya, aku tak percaya orang-orang yang berusaha memendam dulu rasa ini untuk kepentingan karir, pendidikan, kepengen sendiri dulu  atau urusan apalah, yang akhirnya mereka terjebak dengan kesendirian itu.

Wahai ayah-ibu, wahai cinta, wahai nafas kehidupan, mau atau tidak maka aku harus membuat cinta ini tak menghancurkanku.  Dari berbagai sisi aku akan coba merangkai  bingkai yang masih tercecer. Tentang ruas jari siapa yang akan mengisi kekosongan ini. Tentang rindu yang tak tahu ke mana ia berlabuh, tentang ketakutan yang masih mengikuti.  Semuanya memang tak bisa dinikmati kecuali dengan Kepasrahan.

Bandung, 12-12-12

Iklan

Memupuk cinta merindu mati

Di seberang sana masih terlihat gundukan  tanah basah berwarna coklat. Sore ini hujan seakan turut mengendus  suasana hati kami. Berdiam diantara rumput basah dan batang pohon yang masih merindui sisa-sisa hujan.

“Seberapa besar kau membenci seseorang? Seberapa besar kau mencintai seseorang, Yash?”

pertanyaan tanpa jeda.

“Entahlah aku tak bisa mengukur hal itu. Saat aku mencintainya, seolah ada kekuatan yang tak bisa aku dapatkan selain senantiasa ingin bersamanya. Saat aku membenci seseorang saat itulah aku ingin menebasnya dengan pedang. keduanya tak jauh beda menguras pikiranku. ”

Hening. Sejurus kemudian terdengar helaan nafas yang dalam.

“Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci. Baik saat kita bahagia ataupun saat kita menderita.” Katanya.

“Kau tidak sedang ngawur?” aku bersedekap menatap rumput basah yang masih setia dengan sisa-sisa hujan.

“Ada satu hal yang tidak bisa kita hindari saat ini, Yash.” Dia tersenyum getir. Menatap dalam  yang ada di depannya. “Kematian.”

Aku menoleh. “Tak lucu, Ren. Kau menakutiku.”

“Kau boleh setuju atau tidak, Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci. Baik saat kita bahagia ataupun saat kita menderita.” Dia mengulangi kata-kata itu lagi.  “Saat bahagia bersama orang yang kau cintai, yakinlah suatu saat dia akan meninggalkanmu atau kau yang meninggalkannya. Kematian amat dekat di sekitar kita. mencintai bukanlah cara untuk kita menghindari kematian. Tapi meyakini adanya  kematian akan membuatmu lebih mencintai apa (siapa)  yang kau cintai. Dan kau tak perlu risau jika kau sedang membenci seseorang, tak lama lagi diantara kalian akan saling meninggalkan. tapi aku… aku tak ingin mati dengan jiwa penuh kebencian.”

“Apa yang akan kau lakukan sebelum kematian itu menghampirimu, Yash” aku bergeming, tak yakin dengan dengan jawabanku

Selang beberapa detik aku bertanya, “kau?”

“Aku?” dia menghela nafas.  “ Memupuk cinta dan merindu kematian. Memupuk, menyebarkan rasa cinta kepada sesama dan mengingat mati rasanya sebuah keharusan yang harus aku perjuangkan saat ini. Karena pada akhirnya masing-masing dari kita akan dipanggil oleh-Nya.”

Hujan sudah reda. Kami Lekas meninggalkan pemandangan yang masih terselimuti basah. batu nisan yang tak gegar dikepung hujan itu masih menyimpan nama Salah satu sahabat karib kami. Ibnu Saleh. Aku tengadah melepas sore ini. Ya, Ada saatnya satu sama lain kita akan saling meninggalkan. Baik saat kita diliputi rasa cinta atau pun  Benci.

Bogor, 8 November 2012

ketikankunet

Ini tempatku, mana tempatmu?

FOTO BLOG

A fine WordPress.com site

Ruang Tinta

Membaca Bahasa di Ruang Tinta

Yesterday

Menyelami yang lampau

dediwiyanto

semangat berkelanjutan

pengikatsurga

menuliskan peradaban

Koidatul Lisa

" in a day, when you don't come across any problems, you can be sure that you are traveling in a wrong path"

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Muhammadrasyidridho's Blog

Kehidupan adalah universitas terdahsyat

Azizah SL

Membumikan Kata, Melangitkan Cerita

Sekedar Menuruti Kata Hati

Software, Aplikasi Komputer, Tips dan Tricks, Tutorial Photoshop

Bundadontworry's Blog

kedamaian hati ada dalam rasa syukur.

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Look, Think and Write

Blognya Izzawa